Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Hal Aneh Di Sekolah


__ADS_3

Listi terus saja dibawa oleh kelompoknya Evan. Dinda sangat senang karena dia merasa menang. Tidak dapat dipungkiri, dia merasa lebih hebat dari siapapun di sekolah ini. Apalagi cuma Erina. Walaupun cantik, tapi kampungan. Itu pikir Dinda.


"Guru Rangga! Listi dibawa oleh Evan dan gengnya. Mereka menuju lapangan basket!" Teriak seorang siswa kepada Guru Rangga di kantor guru.


"Apa maksudmu? Bicara yang benar!" Guru Rangga masih kurang memahami.


"Mereka akan menganiaya Listi, Guru Rangga." Kata siswa lainnya. Sementara para guru yang ada di ruangan itu tampak pura-pura tidak tahu. Mereka tampak disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing.


"Apa? Ayo antar aku ke sana!" Teriak Guru Rangga.


Guru Rangga dan dua siswa perempuan akhirnya meninggalkan kantor guru dan berjalan cepat menuju lapangan basket. Guru Rangga masih belum memahami ini semua. Menganiaya? Memangnya boleh?


Saat sampai di lapangan basket, mereka melihat tubuh Listi sudah diikat di sebuah tiang. Di depan Listi, tampak Evan dan Dinda dan teman-teman Evan juga ada di tempat itu.


"Hei! Apa yang sedang kalian lakukan?" Tegur Guru Rangga.


Sontak semua orang menoleh ke arah Guru Rangga yang tampak berjalan menuju mereka.


"Sebaiknya jangan ikut campur kalau tidak ingin terluka." Kata Evan.


"Apa maksudmu terluka? Kamu mau melukaiku?" Tanya Guru Rangga.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, sudah hadir di sana kepala sekolah dan juga wakil kepala sekolah. Erina juga sudah sampai di sana.


"Oh, Guru Rangga, mohon hentikan salah paham ini. Mereka masih anak-anak, terkadang bercandanya kelewatan." Kata Kepala Sekolah.


"Bercanda? Apakah hal seperti ini disebut bercanda?" Tanya Guru Rangga.


"Lalu, kamu mau apa?" Tanya Junito.


"Apa maksudmu, Wakil Kepala Sekolah?" Tanya Guru Rangga lagi.


"Bukankan Kepala Sekolah sudah mengatakan bahwa mereka hanya bercanda? Kamu kan guru baru, belum memahami sekolah ini dengan baik." Jawab Wakil Kepala Sekolah.


"Baiklah, kalau begitu lepaskan muridku." Ucap Guru Rangga.


Dengan enggan, Evan pun melepaskan Listi. Tidak ada penyesalan di wajahnya. Dinda yang memang menjadi penyebabnya tampak tidak bicara apa-apa, hanya memandangi Listi dengan wajah kesal.


Saat itu, Erina pun maju dan segera mendatangi Listi untuk mengajaknya pergi. Evan terkejut ketika Erina ada di situ.


"Ayo kita ke kelas. Kita sudah terlambat untuk pelajaran matematika." Kata Erina. Listi tersenyum pada Erina. Ternyata Erina pberani juga.


"Guru Rangga! Kenapa kamu malah bengong?" Tegur Erina saat melewati Guru Rangga yang tampak kebingungan dengan kejadian ini.

__ADS_1


"Eh, iya...!" Jawab Guru Rangga dan langsung mengikuti Erina dan Listi yang sudah mendahuluinya.


Mereka semu bubar dan sekolah filanjutkan sampai jam istirahat siang. Kejadian yang di lapangan basket sama sekali tidak ada yang membicarakan lagi. Dan itu membuat Guru Rangga heran. Apakah hal sebesqr ini bisa dianggao bercanda? Pikiran Guru Rangga pun menerka-nerka.


"Guru Rangga! Apakah kamu tidak ingin ke kantin?" Tanya seorang guru perempuan.


"Ya? Maksudku, aku akan ke sana untuk makan siang. Apakah Guru Lala juga akan ke kantin?" Guru Rangga malah bertanya.


"Ayo kita ke sana!" Ajak Gutu Lala.


"Baiklah." Mereka berdua berjalan ke kantin bersama. Berpapasan dengan beberapa murid, murid-murid memandang Guru Rangga dengan penasaran.


"Guru Lala, apakah kejadian seperti tadi bisa dilupakan begitu saja?" Tanya Rangga.


"Kejadian mana, maksudmu, Guru Rangga?" Tanya Lala.


"Oh, tidak apa-apa. Lupakan saja." Jawab Rangga sambil tersenyum masam.


Benar-benar sekolah yang anrh. Pikir Guru Rangga. Hal seperti itu sudah bukan masalah lagi?.


Di kantin, tampak murid-murid pun tidak ada satupun yang membicarakan perihal kejadian di lapangan basket. Rangga melewati mereka semua dan tidak ada satupun pembicaraan terkait hal di lapangan basket.

__ADS_1


Rangga memutar pandangannya, dia tidak menemukan Listi dan Erina. Bahkan, dia hanya melihat beberapa murid kelasnya saja dan yang lainnya entah ada di mana.


"Guru Rangga, ayo duduk!" Kata Guru Lala menyadarkan lamunan Rangga.


__ADS_2