Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Wakil Kepala Sekolah


__ADS_3

Erina berjalan ke arah Evan dan teman-temannya. Dengan santai, dia mengambil sebuah pisau yang terjatuh milik orang-orang kekar yang sudsh dikalahkan oleh Karmen dan Rangga.


Seorang bocah SMA berjalan di antara orang-orang kekar yang sedang mengerang kesakitan. Membawa pisau di tangan mendekati Evan dan gengnya.


Evan menjadi bingung. Apakah akan melawan atau berbuat apa? Dia mengira Erina berani karena ada Guru Rangga dan kakaknya.


"Kakak! Bisakah aku minta tolong bawakan tali?" Tanya Erina pada Karmen tanpa menoleh ke belakang.


"Tentu saja. Aku segera menyusul!" Karmen membuka tas ranselnya, lalu mengeluarkan beberapa utas tali dari kain.


"Minta Guru Rangga juga kemari!" Kata Erina.


"Aku ke sana!" Kata Guru Rangga segera berjalan menuju Erina bersama Karmen.


Erina sudah berada di hadapan Evan dan teman-temannya. Dia tersenyum sinis melihat mereka.

__ADS_1


"Aku sering mendengar keluhan, kamu dan teman-temanmu sering menindas murid-murid lain. Bahkan beberapa hari yang lalu, kamu juga menindas Listi." Kata Erina pada Evan.


"Kamu mau apa? Kamu belum tahu siapa ayahku?" Tanya Evan.


"Ayahmu? Apakah ayahmu sangat menakutkan? Apakah semua orang harus takut padanya? Aku ingin tahu reaksinya jika anak laki-lakinya kehilangan satu tangan, dia mau apa?" Erina menggertak Evan.


"Jika kamu berani menyakitiku, maka ayahku akan membunuhmu!" Teriak Evan.


"Oh, benarkah? Bagaimana cara ayahmu membunuhku? Nanti juga aku akan ke rumahmu mengantarmu pulang. Bukan begitu, Kakak?" Suara Erina terdengar lucu. Namun membuat Evan merinding.


"Dengar, kami akan mengantarmu pulang. Kami ingin bertemu ayahmu!" Itu suara Karmen. Evan langsung mengkerut.


"Hei, Cukup!" Seseorang berteriak. Itu adalah wakil kepala sekolah.


"Kenapa kalian mendas Evan?" Katanya lagi.

__ADS_1


"Kamu!" Teriaknya sambil menunjuk Karmen. "Kamu orang luar, berani sekali kamu masuk lingkungan sekolah? Guru Rangga. Sudah cukup! Aku sudah memotret kejadian ini dan mengirimkan foto ke letnan Harun. Kalian bertiga akan segera ditangkap!" Lanjutnya.


"Benaekah? Wakil kepala sekolah, apakah itu tidak terbalik? Kamu lihat belasan pria itu? Mereka yang menyerang Erina, lalu kami berdua datang menolongnya. Evan yang menyuruh mereka. Lalu kami yang harus ditangkap karena membela diri?" Sahut Rangga.


"Memangnya kenapa? Kami yang berkuasa di sini, dan lihat, sebentar lagi polisi datang, kalian akan segera ditangkap. Haha!" Wakil kepala sekolah merasa menang.


"Oh, ya? Bagaimana kamu tahu, wakil kepala sekolah? Bagaimana jika yang datang Kapten Herry?" Erina menyahut, membuat wajah wakil kepala sekolah memerah. Namun dia cepat menyadari.


"Kamu murid baru yang kelewatan! Sebentar lagi kamu akan dikeluargan dari sekolah. Guru Rangga juga akan dipecat!" Teriak Junito marah.


"Pak Tua, apakah kamu sudah pikun? Kamu lihat, itu belasan orang ygv mau menyerang adikku. Aku datang membantunya karena dia meneleponku. Apa kamu bisa jelaskan siapa belasan orang itu yang diperintah oleh pecundsng itu untuk menyersng adikku? Kalau kamu masih membela pecimdang itu, maka aku rela.mematahkan kakimu agar kamu tahu rasanya berjalan tanpa kaki." Karmen ikut bicara karena emosi.


Sejak wakil kepala sekolah muncul, bukannya bicara keadilan, malah membela Evan dan menyalahkan mereka bertiga.


"Wah, kamu mengancamku?" Tanya Wakil Kepala Sekolah.

__ADS_1


__ADS_2