
Diana, Dara, Anita, Karmen dan Rangga menyusuri jalan setapak di pinggiran sungai.. Mereka menunggang kuda dan masih mencari siapa tahu ada desa atau kota di depan sana.
"Rangga, apakah ponsel kita tidak berfungsi di sini?" Tanya Diana yang berada di belakang kuda Rangga. Tangan kanan memegang talu kekang, sementara tangan kiri memegangi Dara yang tertidur.
"Tidak berfungsi. Aku sudah mencoba berkali-kali. Mungkin di depan sana kita bisa bertemu orang, kita bisa bertanya pada mereka." Jawab Rangga.
"Mengapa Tuan El mengirim kita ke tempat ini? Bukankah dia bilang kita akan ke sebuah kota?" Tanya Karmen.
"Tenanglah. Aku yakin kita akan bertemu seseorang yang bisa kita tanyai." Ujar Diana menenangkan hati Karmen dan lainnya.
"Kita terus saja ke sana, sepertinya ada jalan berbelok ke kiri." Tunjuk Diana.
__ADS_1
Mereka pun meneruskan perjalanan. Bekal yang mereka bawa diletakan di punggung dua ekor kuda. Mereka membawa enam ekor kuda. Kuda milik Diana berwarna putih, hampir sama dengan pakaian yang ia kenakan.
Di punggung Diana tampak ada dua pedang. Pedang Kilat dan Cakar Naga. Bekal yang mereka bawa sudah disiapkan oleh El. Ketika Rangga memeriksa, kebanyakan adalah susu untuk Dara. Sementara, di sehuah kota, ada banyak sekali kepingan emas. Entah apa maksud Tuan El memberikan itu pada mereka.
Setelah perjalanan setengah jam, mereka menemukan persimpangan. Tidak ada tulisan apapun yang bisa memberikan petunjuk. Ini adalah hutan di pinggir sungai.
Jalan ke kiri lebih lebar, sedangkan jalan yang lurus merupakan jalan setapak yang sama seperti yang mereka lalui. Namun merela tekejut, ada jalan yang menuju sungai, dan, itu adalah jembatan gantung. Namun, jembatan itu tidak layak untuk dilewati.
"Kita ke kiri saja!" Kata Diana.
"Rangga, coba kamu jalam lebih cepat untuk memerikaa apakah ada perkampungan di depan sana. Jika ya, kamu cepat kabari kami. Kita bisa menginap di sana nanti malam." Kata Diana.
__ADS_1
"Baik! Aku pergi dulu!" Jawab Rangga, lalu fia segera melarikan kuda lebih cepat. Dan dalam hitungan detik, Rangga sudah mengilang di belokan. Hanya derap kaki kuda saja yang terdengar semakin menjauh.
Diana, Karmen, Anita dan Dara juga terus jalan dengan lambat. Mereka sambil menunggu kabar dari Rangga.
Hanya berselang seperempat jam, Rangga sudah kembali.dan melaporkan ke Diana bahwa tidak jauh dari sini ada sehuah perkampungan. Mamun perkampungan itu menjadi tempat persinggahan karena letaknya yang merupakan jalur umum yang dilewati jalan besar.
"Sebentar lagi kita sampai. Tapi aku belum menanyakan apa-apa pada penduduk di sana. Sepertinya kampung itu sangat ramai." Kata Rangga.
"Diana, kita ini sebenarnya ada di mana? Bukankan tadi kita naik.mobil? Kenapa kita jafi naik kuda? Aku belum pernah naik kuda, tapi kenapa aku bisa mengendalilkan kuda dan menunggang kuda dengan baik?" Tanya Rangga.
"Apa kamu kira aku mengerti apa yang trrjadi? Aku justru berpikir kita sedang berada di luar negeri. Tapi entah di mana. Kamu jangan tanya lagi. Aku juga tidak tahu.
__ADS_1
"Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Jika ada Tuan El, semuanya akan jelas. Tapi sayang dia tidak ikut."
Tidak terasa mereka sudah melakukan perjalanan selama dua jam dan akhirnya mereka sampai di sebuah perkampungan. Mereka membaca tulisan yang tertera di gapura pintu masuk, "Desa Hulu Sungai."