Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Klan Harimau


__ADS_3

Akhirnya Galang dan lainnya sudah ada di bangsalan milik perusahaan. Istilah bangsalan sendiri sebenarnya adalah rumah dinas karyawan perusahaan. Rumah-rumah ini sebenarnya sangat bagus untuk ukuran  seorang manajer atau supervisor. Namun, ketika mereka sudah memiliki rumah sendiri, biasanya mereka akan lebih memilih tinggal di rumah sendiri.


Direktur Arya dan Dimas secara khusus menjemput Galang dan mengantarkan mereka ke rumah ini. Ada sepuluh orang yang ikut berasama Galang. Ada Anton, Nenek Diah, Kakek Li dan enam pengusaha yang diselamatkan oleh Nenek Diah.


"Diah, kamu cepat selamatkan Galang. Racunnya sudah menyatu dengan darah. Jangan sampai terlambat." Kata Kakek Li pada Nenek Diah setelah mereka masuk ke dalam rumah. Sementara enam pengusaha tinggal terpisah dengan mereka.


"Kamu buatkan ramuannya untuk diminum. Aku akan berusaha memisahkan racunnya dari darah Galang." Jawab Nenek Diah.


"Galang, duduklah di kasur itu!" Pinta Nenek Diah pada Galang. Galang lalu duduk bersila di kasur lantai yang sudah disiapkan oleh Arya dan Dimas seperti yang diminta oleh Nenek Diah sebelum masuk.


Saat itu Nenek Diah mengeluarkan sebuah benda berbentuk melenghkung panjang seukuran jari kelingking. Sejenis batu berwana hitam. dari batu itu terlihat seperti cahaya berwarna bening. Memil;iki aura magis yang sangat kuat.


"Galang, ini akan terasa sakit. Sebaiknya kamu bersiap!" kata Nenek Diah sebelum mulai melakukan pemisahan racun. Diah duduk di hadapan Galang, memegang tangan kanan Galang.


Saat itu, batu berwarna hitam yang ada di tangan Nenek Diah ditancapkan di bagian aliran darah bdi tangan Galang. Lalu batu itu segera menghisap racun yang ada dalam darah Galang. Galang benar-benar kesakitan saat itu dan keringat mengucur deras.


Diah sangat heran, tidak biasanya saat memisahkan racun biasa dari darah, itu akan berlangsung cepat. Saat ini wajah Galang semakin pucat. Diah kemudian menghentikan prosesnya.


"Li Hao, ini bukan racun katak seperti katamu, racun ini adalah racun turun temurum dari Klan Harimau di tanah seberang. Aku hanya bisa mengeluarkan sebagian saja, namun darah galang ikut tersedot. jadi aku mengehentikannya." Kata Nenek Diah.


"Apa? Maksudmu, racun itu hanya bisa disembuhkan dengan penawarnya?" Kakek Li terkejut.


Mendengar itu, Anton yang sangat terkejut. Dia tidak menyangka jika racun itu sebenarnya buikan racun katak seperti yang diikatakan oleh Kakek Li?

__ADS_1


"Paman, Bibi, apapun yang terjadi, Galang harus sembuh. Tolong antarkan kami pada Klan Harimau yang kalian sebut. Berapapun biayanya, tidak masalah asalkan Galang bisa sembuh." Kata Anton yang saat itu sedang khawatir akan keselamatan Galang.


"Klan Harimau ada di Malaka. Mereka ada di sebuah pulau bernama Pulau Harimau. Aku tidak tahu apakah bisa meminta baik-baik pada mereka atau tidak, tapi, hari ini juga kita akan berangkat." Jawab Nenek Diah.


*****


Pulau Dom


Pada sore hari, akhirnya kapal yang ditumpangi Diana dan lainnya sudah tiba di pulau Dom. Kapal bersanda di pelabuhan kecil Pulau Dom. Pulau ini tidak besar dan hanya merupakan tempat eksplorasi bahan tambang perusahaan milik Galang.


Pulau Dom hanya dihuni oleh pekerja yang memang seperti penduduk asli. Tinggal di rumah-rumah yang dibuat oleh perusahaan. Sedangkan tambang yang dimaksud adalah tambang batu permata berwarna hitam. Pulau ini dijaga ketat oleh ahli-ahli beladiri dan tentara bayaran. Hanya saja, tidak semua penjaga dilarang m,embawa senjata api saat sedang bertugas.


Saat pulau diserang misalnya, maka senjata api akan dikeluarkan untuk menyerang lawan. Jika sudah usai, maka senjata api akan dikembalikan. Itu memang aturan di wilayah Kepulauan. Baik polisi pun, tidak diperkenankan membawa senjata api, kecuali saat menghadapi musuh.


Hal ini untuk menghindari orang-orang arogan, jika mereka nantinya bertindak arogan, maka yang menjadi korban adalah penduduk setempat. Sedangkan nama Dom untuk pulau ini awalnya adalah seorang penjelajah dari negara Barat bernama Dominic yang tersasar di pulau ini. Dominic yang hanya datang sendiri memakai kapal layar kecil akhirnya tiba di Pulau dan menetap di pulau ini.


Diana dan lainnya mendengarkan  kapten Johnson bercerita. Sementara malah tertidur di sofa. Padahal mereka berencana akan segera turun dari kapal.


"Baiklah Nona-Nona dan Tuan, kita akan berada di pulau ini selma tiga hari. Kita akan menginap di bangsal perusahaan. Tidak elok jika kita tidur di kapal sementara kita ada di daratan." Kata Johnson.


Saat itu ponsel milik Rangga berdering. Rangga mengambil ponsel dari sakunya. Lalu melihat nama pemanggil adalah Paman Anton.


Rangga segera menerima panggilan, "Ada apa, Paman?" Tanya Rangga.

__ADS_1


Suara Anton tidak terdengar sampai keluar. Jadi, Diana dan lainnya tidak ada yang mendengar.


"Baik, Paman, aku akan tunggu di sini." Jawab Rangga, lalu panggilan ditutup.


"Ada apa?" Tanya Diana.


"Aku akan pulang terlebih dulu. Ada sesuatu yang harua aku selesaikan bersama Galang. Kalian bisa pulang belakangan bersama Kapten." Jawab Rangga tidak memberitahu yang sebenarnya.


Alasan Anton tidak mengajak Diana dan Karmen adalah Dara. Tentu saja perjalanan kali ini akan penuh bahaya yang mengancam. Apalagi di Malaka mereka tidak tahu tempat dan tujuan.


"Baiklah, pulanglah terlebih dahulu. Kami akan menyusul nanti." Diana mengerti dengan situasi, jadi dia tidak akan banyak bertanya.


"Terimakaaih, Diana." Kqta Rangga kemudian.


Setelah sekitar satu jam, sebuah jet pribadi terdengar mendarat, itu adalah jemputan Rangga. Rangga segera naik pesawat dan berangkat ke Kota S.


Diana, Karmen dan Dara diantar ke tempat mereka menginap. Ada waktu tiga hari untuk mereka beristirahat. Ternyata Pulau Dom juga sangat indah dan pesona lautnya begitu menawan. Ombak yang tidak terlalu besar, membuat nyaman duduk-duduk di pantai.


Namun, saat itu hari sudah malam, dan merekapun beristirahat di kamar maaing-masing. Dara tidur bersama Diana.


Dia memang sudah terbiasa dengan sosok wanita yang dipanggilnya ibu. Dia merasa seperti Diana adalah ibunya. Walau dia tidak tahu ibunya yang sebenarnya.


Dara tidak pernah protes, sesekali dia juga menanyakan ayahnya. Dengan beberapa penjelasan, dia akan mengerti. Rasa rindu pada ayahnya akan terobati dengan pelukan Diana.

__ADS_1


Makin lama, Dara makin terbiasa dengan keadaannya. Bahkan Dara memang seperti gadis kecil yang mandiri, meniru siapa saja yang dianggapnya menjadi idola.


Dan, Dara selalu bahagia dengan kelakuannya sendiri. Dia juga mulai terbiasa hidup di jalan. Bahkan dia juga sudah berani jalan sendiri di kapal, yang dulu dianggap sebagai rumah yang bergoyang.


__ADS_2