
Dara terlihat mengantuk setelah menghabisnkan susu dalam botolnya. Matanya sangat sulit untuk dibuka. Dia berkali-kali menguap, namun terus berusaha membuka matanya. Diana yang melihat itu langsung mengambil Dara ke pelukannya. Dara tampak pasrah saja. Namun begitu, Dara terus berusaha membuka matanya.
Dara sangat heran kenapa bisa seperti itu? Padahal dia senang bisa berada di sini, apalagi dia tadi mendengar bahwa Gubernur akan kemari. Semalam dia sempat digendong oleh gubernur, dan memintanya memanggil kakek. Dara sangat senang. Kini kakeknya banyak sekali. Apalagi semalam juga ada nenek, yaitu istri Gubernur yang juga bergantian menggendongnya.
Ajudan masuk mendahului, "Gubernur telah tiba!" Katanya yang mengejutkan pengunjung restoran. Dari dalam tampak manajer diikuti pelayan keluar dan akan menyambut langsung. Mereka berdiri berbaris di samping pintu.
Ajudan langsung menuju Diana. Diana yang masih duduk hanya menoleh saja ke arahnya.
"Kenapa tidak menyuruhku datang saja ke sana, Paman?" Tanya Diana.
"Gubernur yang meminta, aku bisa apa, Nona?" Jawab ajudan.
Rombongan gubernur masuk. Di sana juga ada kapten Herry. Entah apa yang dilakukannya, dia ternyata ikut rombongan Gubernur.
Fokus gubernur tertuju pada Diana yang saat itu duduk sambil memeluk Dara yang sedang tidur. Karmen dan Anita berdiri saat Gubernur dan rombongan tiba, namun Diana yang tidak ingin membangunkan Dara tetap duduk.
"Seharusnya paman bisa memanggilku ke sana, kenapa merepotkan diri datang kemari?" Kata Diana saat gubernur sudah sampai.
"Tidak apa-apa. Kami memang ada waktu hari ini. Jadi memanfaatkannya, kebetulan ini hari libur. Jadi waktu bersantai agak panjang." Jawab gubernur. Matanya dan istri tertuju pada Dara yang saat itu sedang tidur.
"Oh ya, perkenalkan ini inspektur Herman, dia adalah kepala polisi Kota M." Kata Gubernur sambil menunjuk kepada seorang perwira polisi.
"Senang bertemu dengan Anda"." Kata Inspektur Herman.
Diana tersenyum dan mengangguk. "Aku seperri orang tidak tahu diri, kalian orang-orang terhormat malah mendatangiku." Kata Diana sambil tersenyum masam.
"Tidak apa-apa, itu keinginanku." Jawab gubernur.
"Sayang sekali, cucuku malah tidur. Padahal aku akan mengajaknya jalan-jalan." Kata istri Gubernur. Saat itu Dara bergerak, berusaha membuka matanya. Namun itu memang sangat berat. Dia tidak bisa membuka matanya. Padahal dia mendengar akan diajak jalan-jalan.
Melihat gerakan Dara, semua orang tertawa. Mereka yakin Dara berusaha sadar dan ingin membuka mata, namun kantuknya mengalahkan keinginannya. Padahal dia benar-benar ingin melawannya. Tapi tidak bisa.
"Nona Diana. Kami sudah menginterogasi para tahanan, mereka memgatakan ingin bertemu Nona baru mereka akan membuka suara. Kami sudah berusaha maksimal, tapi mereka masih bungkam. Tentu saja mereka adalah suruhan." Kata Herry.
"Kapan aku bisa menemui mereka, Kapten?" Tanya Diana.
__ADS_1
"Jika Nona bisa, maka kapanpun boleh. Nona bisa menghubungiku." Jawab Herry.
"Baiklah, sore nanti sekitar jam dua aku akan ke sana." Kata Diana memutuskan.
"Siap, Nona, apakah aku harus menjemputmu?" Tanya Herry.
"Oh, tidak perlu, aku akan naik taksi saja."Jawab Diana.
"Biarkan Bastian mengantarmu." Gubernur langsung menyahut. Yang dimaksud adalah ajudannya.
"Tidak perlu, Paman. Aku akan ke sana sendiri. Lagian itu tidak terlalu sulit. Sopir taksi pasti akan mengantarku sampai ke sana." Diana benar-benar tidak ingin merepotkan.
Semua yang ada di sana yakin, Diana memang bisa menjaga diri sendiri. Walaupun tidak melihat aksinya saat meringkus para pembunuh bayaran, mereka tahu kalau Diana memang sangat hebat. itu terbukti delapan orang mantan tentara elit saja dengan mudah dikalahkannya.
"Baiklah, biarkan aku menggendong Dara sebentar." Kata gubernur, lalu meminta Dara dari Diana.
"Oh ya, besok kita akan ke proyek, jam delapan pagi, nanti kami akan sampai di sini untuk menjemput kalian." Kata gubernur lagi.
Saat itu, Dara yang berada dalam pelukan gubernur bergerak. Sudah satu jam mereka mengobrol saat Dara tidur, Dara mungkin saja sudah mulai hilang rasa kantuknya.
Dara menarik kepalanya, berusaha melihat wajah siapa yang menggendongnya.
"Hei, cucu sudah bangun?" Tanya Gubernur
Dara mengangguk, dia mengenalnya. Orang ini juga mengaku sebagai kakeknya tadi malam, jadi dia tidak terkejut lagi.
Karmen sudah menyiapkan susu yang dibawanya tadi, dia tahu Dara akan meminta susu saat bangun, jadi dia sudah memegangnya.
"Mik cucu!" Kata Dara.
Karmen lalu memberikan susu dalam botol ke Dara. Dara menerimanya sambil tersenyum dan berterimakasih.
******
Di sebuah rumah besar, seorang pria berusia lima puluh tahun tampak sedang marah. Dia sampai membanting ponselnya setelah menerima telepon.
__ADS_1
"Cepat kemari!" Kata pria itu pada seorang yang saat itu berdiri sambil ketakutan. Lalu pria itu pun mendatanginya.
"Mana ponselmu?" Tanya pria paruh baya. Laki-laki berusia tigapuluh tahun buru-buru menhambil ponsel dalam sakunya dan memberikannya pada pria itu.
Pria paruh baya menerima ponsel, mengetikkan nomor dan kemudian mengetuk tombol dial. Terdengar suara nada memanggil.
"Halo, Tuan Reynaldi!" Suara seorang pria.
"Cepat kemari, dan bawa orang yang bernama Tuann Ghost!" Kata pria itu yang dipanggil Tuan Reynaldi.
"Baik!" Jawabnya, lalu panggilan dimatikan.
Hanya selang satu jam, dua orang pria memasuki rumah itu. Seorang pria berwajah putih bersih, rambut klimis dan berpakaian rapi layaknya seorang guru. Bersamanya, sorang tinggi besar. Ia berpakaian biasa, celana jin dan memakai kaos berkerah. Tubuhnya kekar dan berotot.
Pria ini memakai kacamata hitam. Potongan rambutnya seperti seorang tentara.
"Bagaiama kerjamu itu, katanya kamu menyewa orang-orang profesional, tapi kenapa mereka bisa dikalahkan oleh seorang gadis saja?" Tanya Reynaldi.
"Maaf, Tuan! Anda jangan salah paham, mereka memang profesional. Anda tahu sendiri, banyak dari pihak keamanan yang tewas, namun mereka sama sekali tidak ada yang terluka. Jika gadis itu bukan orang hebat, mana mungkin bisa mengalahkan mereka?" Jawab Pria berambut klimis.
Namanya Junito, dia adalah wakil kepala sekolah di salah satu sekolah SMA di Kota M. Selain sebagai wakil kepala sekolah, dia juga mengajar mata pelajaran fisika. Di sekolah, dia sangat ditakuti karena selain perangainya yang buruk, dia juga ahli beladiri.
Sedangkan pria yang bersamanya dipanggil Tuan Ghost. Dia adalah veteran tentara elit. Di usia lima puluh saat ini, dia banyak disewa perusahaan dengan bayaran tinggi saat perusahaan mengambil uang di bank untuk menggaji karyawan.
Pria itu menyembunyikan namanya dan lebih senang dipanggil Tuan Ghost.
"Apa kamu kira aku bodoh? Bagaimana seorang gadis bisa mengalahkan mereka delapan orang?" Reynaldi sama sekali tidak percaya.
"Anda terlalu banyak bicara. Anda tidak percaya tidak masalah. Tapi anak buahku, satu orang bisa mengalahkan sepuluh orang yang pandai beladiri hanya dalam waktu satu menit. Apakah Anda ingin bukti, Tuan Reynaldi? Mereka adalah anak buahku saat di kesatuan tentara elit. Aku tahu betul kemampuan mereka." Kata Tuan Ghost geram.
Kalimat itu membuat Reynaldi ketakutan. Bagaimanapun dia yang membayar mereka, namun setiap orang punya kesabaran. Jika terus diremehkan, maka bisa jadi kemarahan mengalahkan uang.
"Lalu sekarang bagaimana?" Tanya Reynaldi mulai merendahkan suaranya.
"Situasi saat ini jelas tidak memungkinkan mengambil tindakan. Sebaiknya jangan melakukan aksi terlebih dahulu, lihat perkembangan selanjutnya." Kata Junito.
__ADS_1
"Dan aku ingatkan, seharusnya Anda tidak perlu memanggil kami kemari. Itu sangat berbahaya. Kita bisa komunikasi melalui ponsel. Setiap kali sehabis telepon, buang kartunya. Itu demi keamanan." Kata Tuan Ghost.