
"Nona! Prajurit mata-mata mau melapor!" Kata penjaga di depan tenda saat menghadap Diana.
"Suruh masuk!" Jawab Diana.
Lalu seorang prajurit berseragam serba hitam masuk dengan wajah tegang. Dia lalu memberi hormat pada Diana.
"Ada apa?" Tanya Diana.
"Nona, ada sepuluhan ribu pasukan datang dari arah laut menggunakan kapal-kapal tongkang. Kapal mereka sudah bersanndar dan mulai naik ke darat. Kami belum bisa memastikan apakah itu musuh atau teman. Tapi komandan komandan kami di pesisir memintaku untuk melaporkannya pada Nona." Kata Prajurit mata-mata.
"Baiklah, duduklah dulu, nanti aku akan bicara lagi padamu." Kata Diana.
Saat itu, Jenderal Alfonso dan Jenderal Timothy serta lima pemimpin pasukan masih berada di sana.
"Penjaga, panggil Farel kemari!" Perintah Diana. Lalu prajurit yang berjaga di tenda Diana segera berlari ke tenda Farel.
Selang beberapa menit, Farel sudah datang. Dia memberi hormat, "Nona, ada apa?" Tanyanya.
"Apakah drone-mu bisa melacak keberadaan pasukan yang saat ini sedang menuju daratan di di pantai?"Tanya Diana.
"Benar, Nona. Ada sinyal kuat puluhan ribu orang datang dari arah pantai, tapi kami belum bisa mendeteksi apakah itu musuh atau teman. Kakak Lung bersama dua orang sedang menuju ke sana untuk memeriksa sejak sore tadi. Tapi sampai sekarang belum kembali." Jawab Farel.
"Baiklah, ke depan, laporkan padaku jika ada apa-apa. Jangan bertindak tanpa sepengetahuanku!" Kata Diana dengan nada tinggi.
"Perintahkan Kak Lung dan.lainnya kembali. Sudah ada mata-mata yang mengawasi mereka. Kamu, lakukan pengawasan gerakan mereka. Menuju kita atau menuju musuh!" Perintah Diana pada Farel.
"Baik, Nona, maafkan atas tindakanku yang lancang." Jawab Farel dengan penuh penyesalan.
"Pergilah!" Kata Diana kemudian.
Lalu dia menoleh ke arah prajurit mata-mata.
"Katakan pada komandanmu, tetap awasi saja dan jaga jarak. Laporkan semua perkembangan pada Jenderal Timothy! Lakukan itu melalui pesan singkat atau panggilan telepon." Kata Diana.
"Baik, Nona! Apakah ada yang lain?" Jawab prajurit mata-mata sekaligus bertanya.
Diana tidak langsung menjawab, "Jenderal Timothy, apakah Anda bersedia? Jika ya, maka berikan kontakmu pada prajurit itu." Kata Diana pada Jenderal Timothy.
__ADS_1
"Tentu saja, Nona!" Jawab Jenderal Timothy, lalu memberukan kontaknya pada prajurit mata-mata.
"Pergilah!" Kata Diana. Setelah memberi hormat, prajurit mata-mata segera pergi dari tempat itu.
"Jenderal Alfonso, apakah Anda bersedia menerima tugas dariku?" Tanya Diana.
"Tentu, Nona! Perintahkan saja!" Jawab Jenderal Alfonso.
"Ada delapan orangku yang semuanya mantan tentara elit dari angkatan laut dan darat. Mereka terkadang bertindak dengan seenaknya. Aku akan memberimu surat bahwa mereka mulai sekarang berada di bawah perintahmu. Besok, bergabunglah denganku untuk berperang secara fisik." Kata Diana.
"Tugas dari Nona pasti akan aku laksanakan!" Jawab Alfonso. Kemudian dia menerima sebuah surat dari Diana.
"Nona!" Datang lagi pemuda berambut panjang bersama Jenderal Joshua dan Inspektur Herman. Ketiganya langsung dipersilahkan duduk oleh Diana.
"Nona, ada sekitar sepuluh ribu pasukan yang datang dari arah laut. aku sudah menyelidikinya, mereka dari berbagai perguruan di wilayah barat dan Andalas, mereka tergabung dalam aliansi merah, mereka akan bergabung dengan pasukan musuh. Aku mendengar sendiri para pemimpin mereka sudah membuat perjanjian dengan makhluk siluman dan menjadi sekutu mereka." Pemuda berambut panjang memandang ke arah Jenderal Timothy dan Jenderal Alfonso serta lima lainnya.
"Mereka orang kita!" Kata Diana.
Pemuda berambut panjang memberi hormat pada mereka.
"Sebagai wujud kesetiaan, maka besok yang berperang adalah pasukan yang baru datang. Sedangkan pasukan makhluk iblis, mereka tidak akan berperang." Pemuda itu memberikan detil pasukan musuh yang batu datang.
Diana lalu berdiri,.menyerahkan Dara pada Anita yang sedari tadi berdiri bersama Karmen di belakang Diana.
"Bawa Dara masuk!" Perintah Diana. Dengan cepat Anita membawa Dara masuk ke tenda tertutup. Lalu Diana mengambil pedang cakar naga di meja. Sesaat kemudian, Diana sudah terbang keluar dari tenda menuju arah selatan.
Saat itu, ada tiga orang berpakaian serba hitam yang sudah menyelinap masuk di perkemahan dan sedang mengendap-endap.
Tanpa ragu lagi, Diana langsung menuju tiga orang itu. Tiga orang itu jelas bukan orang sembarangan. Gerakan mereka sangat halus dan mampu masuk ke perkemahan tanpa diketahui. Tidak mau ambil resiko ketika melihat Diana ke arah mereka, ketiga orang itu mencoba kabur.
Namun, Diana lebih cepat. Dalam sekali gerakan, Diana sudah membuat ketiga orang itu terkapar dan pingsan. Di luar sana, ada keributan, prajurit yang mendengar itu keluar dari tenda mereka.
Mereka melihat Diana sudah melumpuhkan tiga orang berpakaian hitam dan memakai topeng kain. Mereka terkejut karena tidak mendengar ada penyusup.
"Ikat mereka dan bawa ke tendaku!" Perintah Diana. Lalu ada enam orang memgambil tali dan mengikat ketiga orang yang pingsan itu. Saat itu para jenderal, para pemimpin pasukan sudah sampai di tempat itu. Namun, mereka melihat tiga orang mulai diikat.
"Kembali!" Teriak Diana.
__ADS_1
"Cepat bawa mereka ke tendaku!" Perintah Diana sekali lagi.
"Baik, Nona!" Jawab para prajurit besama-sama.
Lalu, ketiganya sudah ada di tenda Diana. Diana mengetuk bagi!an tubuh tiga orang itu, lalu mereka pun bangun. Namun, mereka sudah tidak bisa bergerak karena diikat.
"Karmen!" Kata Diana.
"Baik!" Jawab Karmen. Lalu berjalan mendekati tiga orang itu dan menarik kain hang digunakan untuk topeng. Terlihat tiga orang laki-laki berusia empat puluhan tahun.
"Siapa kalian?" Tanya Karmen.
Ketiga laki-laki itu tidak menjawab. Ketiganya hanga menyeringai ke arah Karmen. Karmen yang emosinya mulai naik menjadi marah. Menendang perut salah satu pria.
"Jika aku menggunakan tenagaku, maka isi perutmu akan berhamburan!" Teriak Karmen.
Seorang pria yang ditendang perutnya kini meringis kesakitan. Dia masih diam dan tidak menjawab pertanyaan Karmen. Lalu Karmen menendang perut dua pria lainnya. Dan keduanya juga meringis kesakitan.
"Jawablah!" Bentak Karmen.
"Sring!" Karmen mencabut pedangnya. Lalu menancapkan pedang itu di paha salah seorang pria.
Pria itu menjerit, "Tidak sakit! Tidak sakit!" Teriaknya. Karmen mengulangi hal yang sama pada dua pria lainnya. Dua pria juga berteriak sama seperti pria pertama.
"Bersekutu dengan musuh berarti menghianati negara. Maka hukumannya adalah mati!" Teriak Diana.
Lalu Karmen mengayunkan pedangnya tiga kali. Hanya terdengar suara mengeluh dari tiga orang itu dan selanjutnnya sudah tidak bernyawa lagi.
Semua orang yang menyaksikan itu sangat ketakutan. Mereka tidak menyangka jika Nona Diana setegas itu.
"Inspektur! Beritahu Farel dan timnya untuk menyisir perkemahan. Siapa tahu mereka meletakkan sesuatu di suatu tempat!" Perintah Diana.
Dalam situasi perang ini, semua orang adalah bawahan Diana. Tidak ada yang berani membantah.
"Semua Jenderal dan para pemimpin pasukam, besok kita akan berperang secara fisik menghadapi.manusia. Mereka bisa mati. Jadi kita tidak akan menggunakan meriam dan senapan otomatis. Mari kita hukum para penghianat itu!" Teriak Diana.
"Hukum penghianat! Hukum penghianat!" Teriak mereka menirukan Diana.
__ADS_1
Lalu mereka membubarkan diri dan kembali ke tenda masing-masing dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan, bagaimana Nona Diana tahu ada penyusup?
Setelah melakukan penyisiran, Farel.hanya menemukan banyak sekali penyadap. Farel juga menemukan penyadap suara di tubuh tiga mayat tadi dan segera memuskannya. Tim Farel juga sedang memyelidiki, apa motif mereka memasang penyadap di perkemahan ini?