
Alfonso memimpin langsung pasukan sebanyak dua ribu prajurit yang kini bersembunyi di area semak yang lumayan tinggi di bagian selatan. Sedangkan Jenderal Timothy memimpin dua ribu pasukan bersembunyi di bebukitan bagian utara.
Sisa pasukan berada di barisan belakang Diana. Pasukan musuh tampak sudah bergerak maju bak gelombang laut pasang. Teriakan-teriakan mereka seperti elang yang sedang terbang tinggi melawan angin.
Diana mempersiapkan pasukan panah dari Gunung Mer sebanyak dua ratus orang ditambah beberapa guru. Keahlian memanah murid-murid Guru Galuh tidak perlu diragukan. Mereka dapat dengan tepat memanah musuh walaupun jaraknya jauh.
Saat musuh hanya berjarak sekita lima puluh meter, Diana memerintahkan pasukan panah untuk menembak. Musuh tidak menyangka kalau ada pasukan panah di pihak Diana. Namun, mereka sudah tidak bisa mundur lagi. Korban mulai berjatuhan dari pihak musuh, namun itu tidak berlangsung lama, karena yang masih hidup sudah hampir mencapai pasukan Diana.
Diana mencabut pedangnya diikuti oleh yang lainnya dan semua prajurit. Sementara pasukan panah juga sudah berhenti memanah dan kini sudah menghunus pedang.
Diana mengangkat pedangnya tegak lurus sejajar dengan kepalanya.
Berikutnya, "Serang!" Teriaknya.
Prajurit yang bersamanya seketika berteriak, "Seraaaaaaaaang!"
Diana sudah berlari ke arah musuh, pedangnya dipegang dengan dua tangan dan menghadap ke musuh. Di belakangnya, Rangga, Jenderal Joshua, Inspektur Herman, David, Anton, Karmen, Nenek Diah. Lalu diikuti ribuan prajurit yang menerjang musuh.
Mula-mula Diana yang masuk ke barisan musuh, dengan kecepatan dan ketangguhannya, Diana menerobos musuh. Pedangnya seperti haus darah, prajurit musuh bukan lawannya.
Di sisi lain, Anton dan David.juga memgamuk, darah prajurit masa lalunya kini muncul kembali. Mereka menghukum siapa saja penghianat yang maju melawannya. Bak banteng mengamuk, kedua orang paruh baya ini laksana bertenaga muda.
Nenek Diah tidak mau ketinggalan. Dia menggunakan tongkatnya untuk senjata. Siapa yang berani menghalanginya, tidak akan selamat. Nenek Diah bak iblis betina yang tak kenal takut. Walaupun hatinya tertekan karena melihat musuh adalah warga yang sama, namun menghianati negara tidak bisa dimaafkan.
Karmen, Rangga dan pemuda berambut panjang segera mengikuti arah di mana Diana masuk. Mereka pun tak mau ketinggalan dalam kemarahan karena penghianatan. Mereka bak tiga piton yang memggulung mangsa. Siapapun langsung tumbang jika berusaha maju melawan mereka.
__ADS_1
Sementara Herman dan Joshua bersama Lung dan lainnha membuka jalan bagi prajurit untuk masuk ke barisan musuh. Orang-orang ini sama sekali tidak takut mati. Mereka sangat brutal sebagai seorang prajurit negara.
Dalam waktu kurang dari satu jam, Diana sudah membunuh ratusan musuh, sementara para prajurit musuh ternyata lebih lemah dari mereka. Ribuan musuh sudah tergeletak di tanah. Terluka, mati dan sekarat.
"Apa? Ini tidak mungkin! Kenapa mereka begitu kuat? Kata Junito, yang hebat di antara mereka hanya gadis bernama Diana. Ternyata orang-orang yang bersamanya semuanya hebat. Bahkan prajurit-prajurit negara semuanya orang-orang pilihan. Lihat orang-orang kita seperti tikus kecebur got." Seorang pria paruh baya terlihat marah.
Pria itu bernama Alimun. Dia adalah pemimpin tertinggi pasukan yang berjumlah sepuluh ribu orang. Dia direkrut oleh orang bernama Junito yang merupakan kaki tangan Reynaldi. Seorang pengusaha kaya. Para pengusaha di pihaknya ikut membiayai perang ini agar bisa menggulingkan gubernur dari jabatannya.
Semua orang yang verperang bersama Alimun mendapat bayaran yang tinggi. Memanfaatkan momen serangan makhluk siluman, mereka bermaksud mengambil keuntungan.
"Tuan, bukankah Anda juga hebat? Anda saja belum maju, kenapa sudah seperti menyerah?" Seorang pria tinggi besar menegurnya.
"Diam kamu, Jangkung. Apakah aku harus merobek mulutmu?" Hardik Alimun. Tangannya mengambil batu, lalu meremasnya. Batu itu hancur seperti keluar dari mesin penggiling batu.
Pria yang dipanggil Jangkung menunduk ketakutan
"Segera, Tuan!" Jawab seorang yang berada di sampingnya. Wajahnya tidak terlihat karena memakai topeng kain. Namun perawakannya cukup proporsional. Dia mengambil busur, mengambil anak panah yang bersumbu, menyelupkan sumbuk ke minyak lalu membakarnya.
Sebentar kemudian, anak panah melesat tinggi dengan kobaran api. Di tempat lain, ribuan pasukan yang memakai pakaian serba merah telah maju dan meneriakkan, "Seraaaang!"
Itu adalah pasukan khusus yang diminta oleh Alim. Pasukan itu tidak terlihat mukanya karena tertutup topeng kain yang juga berwarna merah.
Melihat sebuah pasukan kembalj menerjang, Diana segera maju ke arah mereka. Dia ingin menghadang ribuan pasukan agar tidak masuk ke pertempuran sekarang. Diana melompat di udara seperti terbang. Melihat Diana ke sana, Joshua dan Herman segera menyusulnya, begitu juga dengan Anton, David dan Nenek Diah.
Sementara Karmen, Rangga dan pemuda berambut panjang juga tidak mau tertinggal. Diana masih terlihat bugar walaupun sudah bertempur beberapa jam. Dia tidak terlihat kelelahan.
__ADS_1
Begitu juga dengan orang-orangnya. Hanya para prajurit yang terlihat sudah mulai kelelahan. Namun, tak mengurungkan niat untuk terus bertarung.
Diana bagaikan singa yang kelapran. Menendang, memukul, menebaskan pedang. Akibatnya, siapapun musuh yang berhadapan dengannya tumbang tanpa ampun. Dian terus saja merangsek ke barisan pasukan merah. Ratusan mayat sudah tergeletak di tanah akibat pedang Diana.
Belum lagi mereka yang berhadapan dengan Rangga dan lainnya. Itu membuat Alimun sangat marah. Namun dia belum juga turun untuk berperang.
"Karmen! Ajak mereka menyebar dan jangan sampai pasukan ini merangsek maju!" Teriak Diana.
Karmen segera menyampainkan pesan Diana ke yang lainnya. Mereka pun menyebar. Ibaratnya, satu Diana seharusnya bisa langsung berhadapan dengan seribu musuh. Namun karena keterbatasan fisik yang sama, maka dengan membagi setiap orang dengan seratus musuh, maka hal itu bisa diatasi.
Diana sudah memerintahkan ke Alfonso dan Timothy agar jangan menyerang sebelum ada perintah. Mereka masih menunggu di persembunyian dengan cemas. Namun mereka harus tetap taat perintah.
********
Seorang reporter televisi yang sedang meliput, dia memilih tempat yang agak tinggi. Dia ingin kameramen mengambil gambar Diana yang sedang berperang. Kebetulan, saat Diana melompat ke arah pasukan merah, kameramen berhasil menangkap gambar Diana. Walaupun video tidak terlalu jelas, namun kameramen yang men-'zoom' berkali-kali, memastikan itu memang Diana.
"Pemirsan. Kami berhasil mendapatkan gambar Panglima Perang kita, yaitu Nona Diana. Dia seperti seekor singa yang lapar, menerjang musuh tanpa rasa takut. Aku mungkin punya julukan baru untuk Panglima perang kita, yaitu, Singa Dari Timur." Kata Reporter menyiarkan. Televisi menampilkan gambar video Diana yang sempat tertangkap kamera.
"Nona, Diana tidak kenal takut. Wanita muda yang gagah perkasa sedang membela rakyatnya. Tentu saja kita semua berharap, Nona Diana akan selama, juga semua prajurit yang mengikutinya. Dan kita bisa memenangkan perang ini." Kata Reporter. Televisi kembali mengulang video Diana.
"Wah, Nona Diana memang sungguh hebat. Jika aku menjadi suaminya, aku pasti akan menyayanginya." Kata seorang pemuda yang sedang menonton siaran dari televisi.
"Apa kamu sedang bermimpi?" Temannya mengejeknya. Pemuda itu tersenyum masam. Itu memang tidak mungkin.
"Dia memang gadis yang sangat hebat. Sungguh, kita sangat beruntung bisa kenal dengan dia." Ujar gubernur di kediamannya.
__ADS_1
Rumah gubernur dijaga ketat berlapis-lapis oleh tentara bersenjata mesin otomatis. Mereka tidak mau kecolongan lagi. Sebelum semuanya tertangkap, pihak militer dan kepolisian bersepakat menjaga kkediaman gubernur.