Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Membela Erina


__ADS_3

Masih terlalu lagi, namun Erina sudah berangkat ke sekolah. Saat itu belum.ada satupun siswa yang sudah datang, namun Erina memang sengaja datang pagi-pagi sekali.


Para petugas kebersihan juga masih menyapu. Ada sekita dua puluh orang petugas kebersihan yabg rata-rata berumur lima puluh tahun, namun bekerja dengan terampil membersihkan sampah daun yang berserakan.


Erina menghampiri seorang petugas kebersihan perempuan yang saat itu terlihat bersemangat sekali.


"Bibi, boleh aku bantu?" Tanya Erina.


"Tidak perlu, Nona. Nanti pakaianmu kotor." Jawab perempuan tua itu.


"Bibi ambil sapu lagi, aku pakai yang ini saja." Kata Erina, lalu mengambil sapu lidi dari tangan perempuan itu lalu mulai menyapu.


Melihat itu, para petugas kebersihan lantas berhenti dan memandangi Erina. Baru pertama kali mereka melihat seorang siswa mau menyapu bersama mereka. Terkadang malah beberapa siswa membuang sampah sembarangan.


Petugas perempuan itu sudah kembali dan membawa sapu lidi yang lain.


"Bibi, berapa gajimu kerja seperti ini?" Tanya Erina.


"Ah, Nona. Itu cukuplah buat kami sekeluarga makan selama satu bulan." Jawab perempuan itu.


"Suami Bibi kerja apa?" Tanya Erina. Terlihat Erina sama sekali tidak canggung dan terlihat biasa saja saat menyapu.

__ADS_1


"Itu suamiku. Dia juga bekerja sebagai petugas kebersihan." Jawab Bibi sambil jarinya menunjuk ke seorang laki-laki paruh baya yang sedang memandangi mereka.


Erina pun menatap laki-laki itu. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum pada orang itu.


Tak terasa, jam pun berlalu dengan cepat. Para siswa mulai berdatangan. jam tujuh kurang, pekerjaan menyapu masih belum selesai karena area sekolah yang luas.


Para siswa pun bergerombol melihat Erina menyapu. Di antara mereka, ada Listi, juga ada Dinda.


"Lihat, dia memang pantas jadi tukanv sapu. Hahahaha!" Kata Dinda saat melihat Erina.


"Apa maksudmu? Bukankah itu tidak ada masalah?" Tanya Listi yang tak jauh dari Dinda.


"Lihatlah, dia memang pantas jadi tukang sapu. Jangan-jangan itu adalah cita-citanya." Lanjut Dinda.


"Kenapa kamu membelanya? Apa kamu ingin berurusan denganku? Kamu tidak tahu kalau aku pacarnya Evan?" Tanya Dinda.


"Siapa yang peduli? Aku tahu rumahmu di mana. Dan aku juga tahu semua keluargamu. Jangan sembarangan bicara. Aku bisa membuatmu malu." Jawab Listi.


Seketika wajah Dinda memerah. Selama ini, Dinda memang menyembunyikan identitas keluarganya. Obsesinya adalah menjadi orang kaya agar dihormati.


"Aku akan mengadukanmu ke Evan. Kamu akan menanggung akibat karena berani padaku.

__ADS_1


"Siapa yang takut? Aku bicara kebenaran, kamu mau apa? Dan ingat! Aku bisa saja membeberkan identitasmu kepada siswa lainnya." Ancam Listi.


"Tunggu saja!" Teriak Dinda sambil pergi meninggalkan tempat itu.


Listi tampak tersenyum masam mendengar teriakan Dinda. Dia memang agak kuatir dengan Dinda yang menurut kabar sudah menjadi pacar Evan yabg adalah anak seorang pengusaha kaya raya. Namun, dia memang tidak menyukai Dinda yang suka berpura-pura.


Tidak lama kemudian, Dinda sudah datang lagi bersama Evan dan gengnya. Evan sabgat marah ketika Dinda mengadu ladanya terkait kejadian dengan Listi. Tentu saja Dinda tidak menceritakan kejadian sebenarnya. Bahkan, dia ngarang ceritanya sendiri.


"Mana yang namanya Listi?" Tanya Evan yabg sudah sangat marah. Listi yang memangbsudsh kuatir dengan mulut Dinda akhirnya mebyadari bahwa dia memang seharusnya tidak berurusan dengan Dinda. Namun iru sudah terlambat.


"Itu! Dia orangnya!" Tunjuk Dinda pada Listi yang berdiri di antara teman-trmannya.


Evan langsung menuju ke arahnya dan langsung menjambak rambutnya.


"Kamu berani menghina keluargaku? Kamu akan tahu akibatnya!" Bentak Evan.


Benar saja, ternyata Dinda menceritakan hal lain pada Evan sehingga Evan sangat marah sekali. Listi meringis kesakitan. Namun di balik itu, dia tersenyum pahit. Tenyata dia salah berurusan dengan orang yang membuatnya terlibat masalah serius.


"Apa yang dia katakan padamu, itu tidak benar, teman-teman sini jadi saksi kejadiannya." Kata Listi membela diri.


"Alah, kamu tidak mau mengakui kalau kamu salah. Malah mau ngeles!" Ucap Dinda.

__ADS_1


"Bawa dia!" Teriak Evan pada gengnya. Akhirnya Listi pun dibawa dengan paksa oleh geng Evan. Erina sempat melihat mereka. Namun dia diam saja. Sementara, Semua orang kini tertuju pda Listi yang ditarik paksa mengikuti Evan dan Dinda


__ADS_2