
"Wah, Galang! Kamu sungguh hebat sekarang! Nenek sampai kewalahan. Kekuatanmu sungguh luar biasa!" Seru Nenek Diah sambil terengah-engah.
"Itu semua berkat saran nenek. Kalau kita tidak kemari mungkin aku tidak akan seperti ini!." Ucap Galang sambil memutar-mutar pedangnya. Kilatan-kilatan api keluar dari pedang milik Galang.
"Apa yang kamu katakan, kalau tidak di sini, di manapun tempat, kamu akan memiliki kekuatanmu sendiri. Heh, cucu, sebaiknya kamu sudahi latihanmu. Aku tahu kekuatanmu sudah sempurna. Kamu hanya butuh musuh yang sesungguhnya. Aku tahu itu Bai Lang, dia pasti kalah olehmu." Kata Nenek Diah.
"Aku memang tidak pernah kalah kan, Nek. Siapa yang bisa mengalahkan aku? Haha!" Galang bercanda dengan neneknya.
"Tapi, walaupun begitu, kamu harus hati-hati! Jangan pernah menyepelekan musuh!" Nenek Diah cemberut. Tapi kemudian dia tersenyum.dia gahu kekuatan Galang sangat dahsyat. Dia sendiri merasakan bagaimana kekuatan Galang semakin kuat setiap hari.
"Paman Hawata!" Teriak Galang.
"Tuanku?" Hawata berlari dan berlutut di hadapan Galang.
"Apakah Bai Lang sudah datang? Aku merasakan ada hal aneh di luaran sana. Cobalah periksa!" Kata Galang pada Hawata.
"Baik, Tuanku! Aku akan memeriksanya." Jawab Hawata lalu segera pergi meninggalkan tempat itu setelah mengajak beberapa orang..
Hawata memerintahkan agar mereka menyuruh lebih banyak orang lagi untuk memgecek semua pulau.
"Jika ada masalah, segera laporkan. Kerjakan dengan cepat!" Perintah Hawata.
Mereka pun akhurnya berpencar. Untuk memyelidiki pulau. Namun, hingga pagi hari mereka tidak menemukan apa-apa.
Pagi itu, sebuah ledakan keras terdengar. Ledakan itu tentunya terdengar di seluruh pulau.
Dari dalam tanah ledakan, tiba-tiba muncul ribuan orang berwajah gelap. Berpakaian serba hitam dan kulit seperti tanah liat yang dibakar.
Orang-orang ini seperti sebuah pasukan, kemudian berbaris rapi dan menunggu instruksi. Ada puluhan mobil yang datang dan berhenti di hadapan barisan pasukan itu.
Bai Lang keluar dari mobil dan diikuti oleh orang lainnya.
"Haha, pasukanku sudah kembali! Kita akan berpesta di pulau ini. Kalian bebas membunuh musuh!" Teriak Bai Lang.
Hari ini adalah pertemuan duel antara Bai Lang dan Galang yang sudah dijadwalkan. Bai Lang mungkin sudah merencanakan semua. Dia ingin merebut Pulau Harimau milik Klan Hatimau. Jadi berbagai cara dilakukannya untuk bisa menguasai pulau.
__ADS_1
Sementara di Vila, Galang sudah mengatur strategi perang. Kabar terakhir dari Hawata, Bai Lang membawa ribuan pasukan dan saat ini sudah siaga. Jadi Galang meminta Anton dan Rangga memimpin pasukandari Klan Harimau bersama Hawata untuk bersiaga menghadapi serangan pasukan Bai Lang.
******
Area itu sangat luas, walaupun tidak ada tempat duduk, namun tempat di pinggiran area itu teduh oleh banyaknya pohon besar dengan daun yang rindang. Di sana sudah ada ribuan orang memenuhi pinggiran area. Mereka berdiri bergerombol.
Tetua Sha yang sudah ada di sana pun bersuara melalui pengeras suara, "Hari ini saya umumkan! Bahwa pertarungan hidup mati akan segera dimulai. Dimohon kepada para penonton untuk berhati-hati karena ini adalah pertempuran tingkat dewa. Jadi tidak ada yang boleh maju terlalu dekat."
"Disamping itu, Bai Lang juga membawa pasukan yang besar untuk membuat kekacauan. Jadi kepada para penonton tidak diperkenankan meninggalkan area ini karena itu akan sangat berbahaya. Kami berusahaa menghadapi pasukan itu dan sebaiknya kalian tidak berada di luaran sana!" Ucap Tetua Sha.
Tuan Kami Galang sudah siap menghadapi Bai Lang, dan kami sangat yakin Bai Lang akan dikalahkan dan negara kita akan menjadi aman!" Teriak Tetua Sha.
"Galang! Galang! Galang!" Teriak penonton bersama.
Saat berikutnya, Galang maju ke tengah area yang luas. Berpakaian seperti seorang raja, Galang mengenakan pakaian jubah berwarna emas, dia juga mengenakan celana panjang berwarna hitam dengan sepatu juga berwarna hitam. Di kepalanya ada seperti ikat, terbuat dari emas.
Di punggung terlihat pedang Naga miliknya. Dengan santai, Galang berjalan ke tengah area luas itu diiringi teriakan penonton yang memadati pinggiran area.
Kini, ribuan oasang mata menantikan kedatangan Bai Lang, orang yang ditantang oleh Galang.
******
Saat itu, kedua pasukan sudah saling berhadapan. Mereka saling menunggu perintah. Dari pihak Klan Harimau, mereka terlihat agak cemas ketika mengetahui bahwa musuh mereka ternyata bukan manusia biasa. Apalagi jumlah musuh lebih banyak dari jumlah mereka.
Rangga dan Anton melihat kecemasan di mata oara prajurit Klan Harimau. Tentu saja itu sangat berdasar. Dari jumlah saja mereka tidak sebanding. Alalagi mereka juga bukan manusia.
"Paman Hawata, berikan mereka semangat! Jangan sampai kegelisahan mereka akan membuat kehancuran mereka." Kata Rangga pada Hawata.
Hawata lalu berjalan di depan barisan, berteriak agar mereka tidak perlu kuatir.
"Yang kita bela adalah Raja Naga dan kebenaran! Jadi jangan takut! Raja Naga pasti akan melindungi kita! Hidup Raja Naga!" Teriak Hawata.
Mereka pun tersentak, seperti menerima sebuah obat yang bisa membangkitkan keberanian, lalu berteriak, "Hidup Raja Naga! Hidup Raja Naga! Hidup Raja Naga!"
"Aku yakin pasukan itu ada titik lemahnya. Nanti kita akan mencari tahu." Kata Anton pada Rangga.
__ADS_1
******
Laksana terbang, Bai Lang kini sudah muncul di hadqpan Galang. Entah darimana datangnya, Bai Lang berdiri tepat di hadapan Galang dan tangannya disilangkan di dada.
"Kamu yang bernama Galang? Ternyata masih sangat muda. Haha!" Kata Bai Lang.
"Apa kamu yakin bisa mengalahkan aku?" Tanya Bai Lang.
"Apakah pertanyaan seperti itu oerlu di jawab?" Jawab Galang sambil bertanya.
Bai Lang terkekeh. "Anak Muda, kamu terlalu berani menantangku. Kamu tahu? Sekelas Guru Galuh saja tidak bisa menang melawanku. Apalagi kamu."
"Oh, jadi aku harus menyerah padamu?" Tanya Galang.
"Hahahaha, apakah aku berkata seperti itu?" Jawab Hai Lang.
"Jika kamu takut oadaku, kamu boleh menyerah. Dan aku bisa langsung menghukummu!" Kata Galang dengan tenang dan sambil tersenyum mengejek.
"Di dunia ini, sama sekali tidak ada orang yang aku takuti. Apalagi cuma anak muda sepertimu. Haha" Bai Lang sangat percaya diri.
"Sebenarnya jika kamu tidak jahat, kita bisa berteman dan minum bersama di bar. Tapi sayangnya kamu jahat, jadi aku tidak mau berteman denganmu. Kecuali jika kamu bertobat." Kata Galang dengan wajah serius.
Bai Lang tersenyum masam, namun dia kembali menampakkan wajah tenang.
"Menurutku, kamu menarik juga. Tapi kamu akan mati hari ini. Mungkin itu bagian dari sinyal kematianmu. Haha!" Bai Lang malah mengejek Galang.
Galang tersenyum. Dia sangat tenang saat ini. Bahkan dia sama sekali tidak nampak ada beban di wajahnya. Kepercayaan dirinya memang terlalu kuat, itu juga yang membuat Bai Lang jadi terkejut.
Belum pernah dia menemui musuh yang begitu tenang. Bahkan dulu ketika dia menghadapi Guru Galuh, Guru Galuh sangat pemarah dan selalu bertindak dengan cepat. Kehebatan Guru Galuh saja tidak mampu mengalahkan Bai Lang.
"Ingat anak muda! Jangan pernah sepelekan aku, jika tidak ingin nasibmu buruk!" Kata Bai Lang mengingatkan.
"Kamu juga harus ingat! Jangan pernah sepelekan aku jika tidak ingin bernasib buruk. Karena aku datang memang ditakdirkan untuk menghukummu!" Galang ikut mengintimidasi.
"Hahahaha! Hei anak muda, kamu tahu? Pasukan Hantu Tanahku sudah siaga di.luar sana. Kamu akan terkejut ketika aku memerintahkan mereka untuk menyerang." Bai Lang kembali mengancam.
__ADS_1
"Oh, aku sudah tahu, dan pasukan Nagaku akan menghabisi mereka. Hanya tinggal tunggu oerintah saja." Jawab Galang tidak kalah ancaman.
Wajah Bai Lang berubah ketika mendengar ucapan Galang. Ternyata memang Galang sudah menyiapkan semuanya.