Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Guru Retno Dan Guru Rangga


__ADS_3

Saat pelayan sudah pergi, Guru Retjo lalu mulai duduk dengan tenang, tak sengaja pandangannnya trrpaku pada Guru Rangga yang masih makan tanpa peduli sekelilingnya.


"Tunggu! Apa aku pernah melihatmu?" Tanya Guru Retno.


Guru Rangga menghentikan mengunyah makanan, menatap sekilas Guru Retno.


Setelah menelan makanan di mulutnya, Guru Rangga berucao, "Di dunia ini banyak orang yang mirip. Bahkan Anda juga mirip dengan temanku. Jadi, Anda oasti salah orang."


"Betul juga. Tapi, kamu sepertinya tidak asing. Apakah.....?" Guru Retno tidak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Guru Rangga batuk-batuk.


Guru Retno segera mengambil minuman dan menyerahkannya lada Guru Rangga.


"Terimakasih." Kata Guru Rangga. Setelah minum, Guru Rangga pun menjadi tenang.


"Aku guru baru di sini. Namaku Rangga. Aku menjadi wali kelas Tiga A Jurusan MIPA dan aku juga mengajar matematika." Kata Rangga.

__ADS_1


"Oh, aku Retno. Aku mengajar beladiri. Kebetulan aku mengajar semua kelas tiga bersama Guru Tio bergantian jadwal. Kebetukan hari ini adalah jadwalku." Guru Retno juga memperkenalkan diri.


"Wah, Anda hebat, masih muda sudah menjadi guru beladiri." Kata Guru Rangga memuji.


"Setelah perang itu, aku jadi mengidolakan Nona Diana. Dia gadis yang sangat cantik, seorang pemimpin yang hebat dan juga beladirinya sudah tingkat dewa. Bahkan orang-orang di sekelilingnya adalah orang-orang hebat. Kakaknya, Tuan Galang ternyata adalah Raja Naga Kesepuluh dan sekarang ada di Gunung Mer. Benar-benar keluarga hang hebat." Guru Retno bicara tanpa basa-basi.


Dia memang mengagumi sosok Diana sejak awal Diana bersama Karmen datang ke Gunung Mer dan mengalahkan Guru Seho.


Saat itulah dia mulai mengagumi Diana. Di perang beberapa waktu lalu, bahkan dia tidak bisa bertemu dengan Diana karena dia bukan pemimpin pasukan.


"Ya, aku pernah dengar itu. Aku baru datang dua hari ini, dan baru hari ini aku masuk. Jadi aku hanya mendengar sekilas saja." Kata Guru Rangga.


"Iya, namanya Erina. Dia pindahan dari Kota S. Itu, di sana." Jawab Guru Rangga, jarinya menunjuk ke sebuah meja. "Yang rambutnya dikuncir dua." Lanjutnya.


"Bukankah...?"

__ADS_1


"Guru Retno, pasti kamu mau bilang bahwa fia seseorang yang kamu kenal juga? Haha, semua orang pasti kamu kenal, kan?" Tanya Rangga.


"Iya juga. Tapi.... Ah sudahlah. Jam istirahat hampir selesai. Ayo kita ke gedung latihan!" Guru Retno mengingatkan.


Keduanya lalu pergi dan langsung menuju gedung tempat latihan. Di sana sudah ada beberapa siswa yang akan berlatih. Termasuk juga Listi. Saat itu siswa kelas 3A MIPA sudah mulai berdatangan, juga Erina yang sudah memakai pakaian untuk berlatih.


*******


"Kepala Sekolah, apa maksudmu memasukkan guru baru itu? Aku sudah mengajukan orangku, tapi kenapa guru itu yang kamu terima?" Tanya Wakil Kepala Sekolah. Dia adalah Junito.


"Aku tidak memasukkannya. Itu adalah rekomendasi dari direktur. Jadi bukan aku." Jawab Kepala Sekolah.


"Setidaknya bicarakan dulu denganku. Aku sudah membawa orangnya datang. Dia sangat kecewa." Sahut Junito.


"Wakil Jun, sebaiknya kamu komplain ke direktur saja. Aku tidak tahu-menahu." Jawab Kepala Sekolah dengan jengkel.

__ADS_1


"Bukankah itu tidak perlu? Aku hanya merasa jengkel saja. Guru yang aku bawa adalah keponakanku dari kampung. Aku tidak enak dengan orang tuanya yang juga adalah kakakku." Kata Junito sambil melengos.


Kepala Sekolah tidak mempedulikannya dan langsung masuk ke kantornya. Sementara dengan kesal, Junito juga langsung menuju kantornya, lalu menelepon seseorang.


__ADS_2