
Kali ini Rangga hanya pasrah saja. Dia yakin akan mati di tempat ini. Dan itu sangat menjengkelkan. Karena dia sama sekali tidak akan dikuburkan dan akan menjadi tumpukan tulang di dekat rumah tua jelek menjijikkan. Namun, walaupun pasrah, Rangga juga tidak tinggal diam. Dia melawan.
Rangga belum kalah, dia memang terluka dalam. Namun dia masih bisa bertarung. Tapi, yang dia lawan adalah ribuan tentara. Bagaimana dia bisa menang?
Rangga menggaruk kepala yang tak gatal. Dia sudah menanti para prajurit sampai pada dirinya. Dia pun melakukan perlawanan.
Rangga kemudian bergerak, dengan kemampjan beladirinya yang sudah tingkat master, dia pun memainkan pedang. Menangkis, meninju, menendang dan melayangkan pedsng ke arah musuh. Beberapa prajurit musuh sudah tumbang terkena sabetan pedang, namun mereka bangkit lagi.
Rangga mengingat-ingat, ini seperti saat dia ikut berperang melawan monster-monster jelek itu. Mereka tidak bisa mati. Rangga berpikir, hanya Diana yang bisa mengalahkan mereka.
Saat itu sebuah serangan datang dari puluhan prajurit secara bersamaan. Rangga yang gezit berusaha menghindari serangan. Beberapa serangan berhasil dipatahkan. Namun karena serangan yang bertubi-tubi, lama-lama Rangga kewalahan. Apalagi dia juga sudah terluka cukup parah. Sebuah tendangan dari musuh membuat Rangga terjengkang dan jatuh terlentang. Saat itu puluhan musuh dengan senjata tombak langsung meluncur ke arah Rangga.
Kali ini Rangga hanya pasrah. Dia yakin ini saatnya dia mati. Dia menggunakan pedangnya untuk melindungi diri. Tapi Rangga yakin itu tidak akan cukup melindunginya. Rangga memejamkan mata.
"Prang! Prang! Prang!"
Terdengar benda-benda beradu. Puluhan prajurit terlempar jauh dan senjata mereka hancur. Seorang gadis berdiri di depan Rangga. Dia adalah Diana.
"Diana!" Teriak Rangga.
"Bangunlah! Kamu senang betul berbaring di tanah." Gurau Diana tanpa menoleh le arah Rangga.
"Apa yang kamu katakan. Aku hampir mati oleh mereka." Kata Rangga dengan muka masam.
"Bukankah sekarang masih hidup? Aku menyelamatkanmu, kenapa tidak berterimakasih?" Tanya Diana.
__ADS_1
"Iya, terimakasih." Jawab Rangga masih dengan muka masam. Namun, dia juga bersyukur karena Diana datang tepat waktu.
Para prajurit kembali maju dan menyerang. Kini Diana ada di sana. Diana menghunus kedua pedangnya dan segera menyerang. Gerakannya sangat cepat. Diana melompat ke udara, trun menyerang prajurit dengan menebaskan pedang, dua gelombang secaran seperti cakar yang vesar dan kilat menerjang ke arah prajurit. Akibatnya, puluhan prajurit langsung terpental jauh menabrak prajurit lainnya.
Diana terus maju dan kali ini fia sudah sampai di hadapan Ratu. Ada luka menganga di beberapa bagian tubuh para prajurit. Itu membuat Ratu sangat terkejut.
"Kamu! Siapa kamu?" Tanyanya pada Diana.
"Aku? Namaku Diana. Kamu sudah menyakiti kakakku, maka aku akan membalasnya!" Jawab Diana.
"Diana! Hati-hati! Dia menginginkan kalungmu!" Teriak Rangga.
"Kamu menginginkan kalungku?" Tanya Diana.
"Kamu jangan mimpi. Aku tidak akan menyerahkan apa-apa padamu. Jika kamu memaksa, maka jangan salahkan aku jika harus menghancurkan kastilmu!" Teriak.Diana.
"Serang!" Teriak Ratu. Ribuan prajurit kembali menyerang. Kini mereka makin ganas. Sementara Diana dengan dua pedangnya sudah siap menghadapi serangngan mereka. Berulang kali serangan mereka dipatahkan dan ratusan prajurit sudah terluka oleh dua pedang Diana. Saat.ada kesempatan, Diana langsung menuju Ratu yang dikawal oleh prajurit wanita. Gerakan Diana sabgat cepat dan tahu-tahu pedangnya.sudah berada di leher Ratu.
Semua prajurit berhenti menyerang. Kini Ratu dalam.ancaman Diana. Diana yang kuat itu berhasil mengalahkan mereka semua.
"Kalian memang tidak bisa.mati, tapi, aku bisa melukai kalian semua dan kalian akan menderita seumur hidup kalian. Tidak akan ada yang lolos dariku jika masih melawan." Kata Diana.
Rangga yang tadi mukanya sudah seperti kapas, kini mulai merah. Dia maju dan mendekati Diana.
"Diana! Sebaiknya hancurkan saja mereka!" Teriak Rangga.
__ADS_1
"Pendekar, kami menyerah! Kami akan takluk dan tunduk padamu!" Ratu langsung menyahut.
"Aku sama sekali tidak mempercayai kalian. Kalian bicara begitu karena terdesak. Tapi ketika aku pergi, kalian akan kembali membunuhi manusia yang masuk hutan ini." Kata Diana.
"Kami bersumpah, Pendekar! Kami akan tunduk dan.patug padamu." Jawab Ratu.
"Baik, sebagai kesungguhan, maka aku harus tahu kelemahan kalian. Kalian adalah makhluk abadi tidak bisa mati, tapi pasyi kalian punya kelemahan. Jika kalian memang sungguh takluk padaku, maka trntu saja tidak akan menyembunyikan apapun dariku." Sahut Diana.
Ratu menatap Diana dengan ketakutan, "Aku hanya akan memberitahumu, tapi tidak kepada pemuda itu. Apakah itu adil?"
"Baik, aku setuju!" Jawab Diana. "Tapi jika suatu hari aku mendengar bangsamu masih membunuhi manusia, maka aku akan memusnahkan kalian."
Lalu, Ratu membisiki Diana. Diana mengangguk-angguk dan berkata, "Aku berharap kamu tidak sedang membohongiku, karena jika itu terjadi, kamu dan rakyatmu akan hidup cacat selamanya!"
"Tentu saja tidak, pendekar!" Jawab Ratu.
"Mulai sekarang! Aku adalah penguasa kastil ini, dan hutan adalah milikku. Aku membebaskan manusia untuk melewati jalan itu dan tidak ada.yang boleh mengganggu mereka. Siapapun yang berusaha mengganggu mereka, akan dihukum mati!" Teriak Diana.
Rantu kemudia berlutut diikuti oleh pengawalnya. Kini, semua prajurit juga ikut berlutut dan tunduk pada Diana.
"Ratu, aku menyerahkan kepemimpinan kastil ini padamu selamanya. Ingat semua pesanku!" kata Diana.
"Yang Mulia sangat murah hati! Semoga Yang Mulua panjang umur!" Jawab Ratu.
"Yang Mulia sangat murah hati! Yang Mulia sangat murah hati! Semoga Yang Mulia panjang umur!" Teriak para prajurit.
__ADS_1