
Diana masih menghindari serangan-serangan dari Nan yang terlihat marah karena adiknya, Sasa terluka oleh senjata Diana. Nan makin membabi buta. Sementara Diana masih meliuk-liukkan tubuhnya menghindari pisau Nan.
"Cepat serang Dia!" Teriak Nan pada tiga orang lainnya yang sudah kembali siaga. Ketiga pria bersenjata dua pedang akhirnya maju menyerang Diana.
Kali ini musuh Diana ada empat orang dan semuanya bersenjata. Diana terus menghindari gempuran serangan dari empat orang.
Diana lalu melpaakan beberapa pukulan sambil tubuhnya melayang. Sebuah tinju mengenai salah satu dari tiga orang yang menyerang belakangan tepat di dada.
Orang ini terpental dan memuntahkan darah. Teman lainnya pun terpaku sejenak. Namun, mereka berdua kembali menyerang Diana yang saat itu tengah bertempur melawan Nan.
Sambil menghindar, Diana kemudian maju dan melayangkan tinju kanannya ke arah Anan yang sedari tadi sangat bernafsu membunuh Diana. Sementata tangan kiri berhasil memegang rantai bagian tengah milik Nan.
Prak!
"Ah!"
Suara seperti benda pecah terdengar. Tangan kiri Nan patah ketika berusaha menangkis serangan tinju Diana. Dan dalam keadaan terluka, senjata milik Nan sudah berpindah ke tangan Diana.
Nan mundur beberapa langkah. Tangan kirinya kini sudah tidak bisa digunakan. Sementara senjata andalannya sudah berhasil direbut. Dua orang yang menyerang Diana menggunakan pedang pun berhenti. Mereka terkejut. Nan yang hebat berhasil dikalahkan oleh Diana.
Pertempuran mereka terasa tidak seimbang. Diana terlalu kuat, dan jika mau, Diana sudah membunuh mereka sejak tadi.
"Kami menyerah!" Teriak Nan yang saat itu sudah duduk di tanah. Wajhnya pucat. Sementara Sasa dan salah seorang pria lain terlihat juga duduk sambil mengerang. Dua orang lagi berdiri mematung.
"Baik, aku memang ingin melepaskan kalian. Dan katakan pada Rocky, jangan pernah lagi menyewa pembunuh bayaran. Atau aku akan mendatanginya dan membuatnya menyesal seumur hidup!" Ucap Diana.
Beberapa saat kemudian, orang-orang itu telah pergi dan kekacauan sudah hilang.
Namun, saat Diana hendak berjalan masuk, sekitar tujuh anak panah melesat ke arahnya. Diana terkejut dan mencoba menghindar, namun terlambat. Dengan cepat Diana membuat gerakan, beberapa senjata rahasianya melesat menghadang anak panah tadi.
"Trang! Trang! Trang!"
Anak panah semuanya dipatahkan oleh senjata rahasia Diana. Belum cukup sampai di situ, puluhan anak panah kembali terbang ke arah Diana. Diana pun mengetahui datangnya anak panah, dia menghinda samhil melepaskan puluhan senjata rahasia berbentuk segitiga.
__ADS_1
"Ah!"
"Ah!"
Suara teriakan kematian, lalu beberapa tubuh jatuh dari atap sebuah restoran dan mati seketika. Mereka mengenakan pakaian serba hitan dan memakai topeng kain berwarna hitam.
Diana lalu melompat ke atap laksana terbang. Sampai di sana, Diana menemukan beberapa orang lagi yang hendak kabur. Namun jelas terlambat. Dengan kecepatannya, Diana melemparkan kembali senjata rahasianya. Orang-orang itu pun terkena senjata Diana, jatuh dan mati seketika.
Tidak ada yang tersisa lagi dari orang-orang yang menyerang dengan anak panah. Diana turun dan membuka topeng yabg mereka kenakan. Jatmiko yang sampai di sana pun melihat busur dan anak panah mengenalinya.
"Nona, ini anak panah milik perguruan Paser Maut di Gunung Mer. Apa hubungannya ini dengan Nona? Kenapa mereka menyerang Nona Diana?" Kata Jatmiko sambil meneliti anak panah yang dipegangnya.
"Mungkinkah merkea suruhan dari Rocky?" Tanya Diana.
"Rocky tidak lebih hebat dari Guru Galuh. Seorang nenek tua yang sakti dan sangat ditakuti di daerah selatan. Mana mungkin Guru Galuh mau kerjasama dengan Rocky melawan Nona?" Kata Jatmiko.
"Sayang sekali aku membunuh semuanya. Aku pikir mereka adalah teman-teman dari lima orang tadi." Ada penyesalan di wajah Diana.
"Baik, Nona. Segera saya perintahkan untuk menyelidiki." Jawab Jatmiko dengan hormat.
"Jangan lupa, Paman jangan memberitahu Paman Anton atau Galang. Biarlah mereka menyelesaikan urusan mereka tanpa kuatir urusan di sini. Aku tidak mau mengganggu fokus mereka." Kata Diana lagi.
"Baik, Nona." Jawab Jatmiko.
Sejumlah orang telah berkerumun di sana dan memperhatikan Diana dwngan sangat kagum. Walaupun mereka melihat Diana mengalahkan Rocky, tapi kali ini Diana juga berhasil mengalahkan lima orang yang akan membunuhnya.
Sementara, Diana juga berhasil membunuh puluhan orang yang memanahnya dari kegelapan. Jika hanya orang biasa, Diana pasti sudah mati tertembus panah.
Mayat puluhan orang itu sudah dibersihkan dari area restoran. Semuanya telah diberaihkan dan area restoran kembali bersih.
"Ibu!" Teriak Dara. Lalu dari pelukan Karmen, Dara berpindah ke pelukan Diana.
"Sayang, mau makan lagi, kah?" Tanya Diana. Dara mengangguk. Saat Diana hertempur tadi, Karmen membawanya ke bagian belakang restoran, jadi Dara sama sekali tidak mendengar keributan di luar.
__ADS_1
*******
"Apa? Mereka semua mati? Apa dia sehebat itu?" Tanya seorang pria berkumis tipis.
Dilihat dari wajahnya, pria ini berumuran sekitar tigapuluhan. Di jarinya, dia menjepit sebatang rokok yang sudah tinggal setengah, menghisap dan membuang asapnya lalu menoleh ke arah seorang berpakaian serba hitam.
Dilihat dari pakaiannya, orang berpakaian hitam itu sama dengan orang-orang yang hampir membunuh Diana.
"Benar, Guru. Gadis itu sangat hebat. Hanya aku yang bisa melarikan diri untuk mengabari Guru." Jawab pria berpakaian serba hitam.
"Bodoh! Kalian berjumlah dua belas orang dan panah kalian tidak bisa menyentuh gadis itu?" Pria yang dipanggil Guru membuang rokok, mengepalkan tinju dan memukul meja. Akibatnya meja itu hancur berantakan.
Sementara orang berpakaian serba hitam ketakutan dan tidak berani memandang gurunya.
"Ingat! Jangan sampai Guru Galuh mengetahui hal ini! Kalau tidak kita semua akan mati!" Kata pria itu lalu berdiridan meninggalkan pria berpakaian serba hitam.
******
Rumah Roy Adiguna
"Jadi kemana mereka pergi? Tidak berguna!" Teriak Roy saat sopir yang mengantar Nan dan lainnya pulang dan melaporkan bahwa Nan dan lainnya telah kalah dan tidak mau kembali kemari.
"Rocky! Cari orang yang lebih kuat! Kamu dasar tidak berguna! Aku mau semua uangku kembali dari tangan Diana!" Roy sangat marah. Sementara Rocky masih diam saja.
"Aku akan membunuh wanita sialan itu. Tuan Robby pasti akan sangat marah pada kita kalau tahu semua ini! Rocky! Dasar sialan kamu! Dulu aku sudah peringatkan kamu agar berhati-hati, tapi kamu sembarangan. Jadinya seperti ini! Semuanya hancur gara-gara kamu!" Roy tidak bisa menahan emosi, mendatangi Rocky lalu menamparnya.
Rocky padahal lebih kuat dari Roy, namun karena dia dibiayai oleh Roy juga, maka dia tidak melawan. Dia terlihat mengepalkan tinjunya, namun tidak melakukan apa-apa.
"Aku sudah meminta Guru Seho untuk membantuku. Aku belum menerima kabar darinya. Dia bilang, jika Guru Galuh sampai tahu, maka dia akan dibunuh." Tiba-tiba Rocky membuka suara.
Mendengar soal Guru Seho, mata Roy berbinar. Siapa yang tidak tahu siapa Guru Seho? Dia adalah murid paling hebat dari Guru Galuh dari Gunung Mer. Bahkan, Guru Seho juga diangkat sebagai guru untuk mengajarkan seni beladiri yang diajarkan Guru Galuh.
"Ternyata otakmu masih encer juga, hahaha. Baiklah. Kita tunggu saja kabar dari Guru Seho. Aku berharap dia mau membantu kita. Walaupun harus mengeluarkan banyak uang, itu tidak apa-apa asalkan uang yang diambil Diana bisa kembali.
__ADS_1