
"Tuan Pendekar, kita memasuki Hutan Siluman. Kami sudah perkirakan bahwa kita sampai di sini siang hari, jadi kita tidak akan diganggu oleh penunggu dari hutan ini. Itu yang biasa kami lakukan jika ke kota." Kata seorang kusir.
"Sebenarnya ada jalan yang biasa penduduk desa lalui, tapi itu memutari hutan dan bisa satu minggu." Lanjutnya.
"Iya, aku mengerti, berjalanlah biasa saja." Jawab Diana. Mendengar hutan siluman, tenru saja Diana harus lebih waspada. Dia tidak ingin ada kesalahan.
Tengah hari, mereka sudah sampai di tengah hutan. Hutan itu makin terlihat seram dan menakutkan dengan pohon besar yang berada di kanan kiri jalan yang sempit.
Sementara Karmen dan Rangga yang berada di depan terus mengawasi keadaan. Mereka baru melihat nyata hutan yang sangat lebat, namun ada jalan untuk dilintasi.
"Paman, bagaimana bisa ada jalan di tengah hutan lebat ini?" Tanya Diana.
"Oh, jalan ini dibangun oleh raja kerajaan. Dulu raja sering oergi ke seberang sungai dekat desa kami untuk berburu kijang. Pendekar bisa lihat, jembatan yang fibangun raja juga sudah rusak karena lama tidak digunakan." Jawab kusir.
"Konon saat pembuatan jalan ini, ada banyak korban berjaruhan dari pihak pekerja, namun raja tidak mau tahu dan terus saja membangun. Dia ingin jalan ini akan membuatnya memcahkan misteri dari hutan ini. Namun, pada suatu hari, setelah jalan ini dan jembatan dekat desa kami jadi, raja mengalami sakit yang mengerikan, dan akhirnya mati. Mulai saat itu, pengganti raja sama sekali tidak mau melewati jalan ini. Namun, kata orang-orang, setelah kematian raja, siluman penunggu hutan tidak marah lagi." Lanjutnya.
__ADS_1
"Begitu, ya?" Diana mengangguk-angguk. Walaupun ceritanya tidak masuk akal, namun dia mencoba mempercayainya.
Sebuah bayang hitam bergerak dengan cepat, menyalib mereka. Rangga yang mengetahui itu langsung mempercepat laju kudan setelah memberi kode pada Karmen. Dia mengejar bayangan hitam yang berlari mendahului mereka.
Setelaha hampir setengah jam Rangga mengikuti bayangan itu, diapun merasa aneh, dia berada di de depan sebuah rumah di tengah hutan. Tidak ada tanda-tanda rumah iru ada penghuninya. Dia sangat penasaran. Lalu turun dari kuda setelah itu dia menambatkannya di sebuah pohon.
"Halo! Ada orang di dalam?" Teriak Rangga.
Keadaan rumah itu sangat menyermkan, semua dinding sudah berlumut dan, Rangga terkejut. Ada banyak tulang manusia di sekita rumah itu. Rangga mundur beberapa langkah dan mulai waspada. Dia menghunus pedsng dan bersiap jika tiba-tiba ada yang menyerangnya.
Namun setelah sekian lama, tidak ada gerakan apapun. Rangga menjadi bertanya-tanya, apa tujuan makhluk itu membawanya kemari?
Tiba-tiba sebuah kayu meluncur ke arah Rangga. Kayu besar itu digunakan untuk menyerangnya. Rangga segera menghindarinya dengan melompat ke samping kiri. Namu, kayu itu seperti hidup, kayu itu kembali menyerang Rangga. Dan arah belakang.
Rangga sangat heran. Mengapa kayu bisa hidup? Rangga pun melompat tinggi dan berdiri di atas kayu itu. Kayu bergerak tak terkendali membuat thbuh Rangga oleng. Dia berusaha memepertahankan kestabilan tubuh, namun sia-sia. Akhirnya dia melompat turun dan kayu itu kembali menyerangnya.
__ADS_1
Dengan disaksikan sendiri oleh Rangga, kayu itu tiba-tiba seperti sedang membelah diri, berubah menjadi kayu kecil yang sangat banyak debgan ujung yang runcing dan bergerak cepag ke arah Rangga.
Rangga menggunakan pedangny untuk menangkis dan memghancurkan kayu itu. Memang dia mampu melakukannya, namun kayu itu tidak ada satupun yang patah, hanya jatuh di tanah dan segera kembali bersatu dengan kayu lainnya dan segera kembali menyerang Rangga
"Gila! Ini apa?" Gumamnya.
Rangga kembali diserang oleh kayu kecil gang jumlahnya puluhan. Kini kayu itu bergerak lebih cepat dan sepertinya ingin menghabisi Rangga.
Rangga kemudian meletakkan pedsng di depan dada, dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkis serangan kayu aneh.
Saat ini, pedsng pemberian Tuan El itu memancarkan cahaya berwarna perak membentuk perisai yang cukup melindungi tubuhnya. Rangga sampai terkejut melihatnya.
Kayu-kayu kecil itu pun dengan cepat menerjang.
"Brak!"
__ADS_1
Benturan keras terjadi, kayu-kayu itu hancur berantakan. Rangga terpental beberapa meter dan memuntahkan seteguk darah.
Saat itu, muncul puluhan wanita dengan paras cantik. Ada seorang yang paling cantik dan memakai sejenis mahkota. Rangga menarap heran pemandangan di depannya. Dia berusaha bangkit dan bersiap dengan serangan berikutnya