
"Bagaimana ini, Erina?" Tanya Listi.
"Kita ke restoran saja. Kita harus bertemu Dinda sebelum terlambat." Jawab Erina.
"Apa kamu tahu restoran mana?" Tanya Listi lagi.
"Aku tahu, aku pernah ke sana." Jawab Erina.
"Baiklah, ayo ke sana!" Sahut Listi.
Mereka pun naik mobil, Karmen yang menyetir dan langsung menuju restoran di sebuah hotel.
Erina adalah Diana, dia memang diminta oleh kepolisian bersama Rangga untuk.menyamar dalam.rangka menyelidiki Junito dan orang di belakangnya.
Polisi curiga kalau Junito memang bukan sekedar wakil kepala sekolah. Diana dan Rangga menawarkan diri untuk menyamar sebagai murid dan guru.
Inspektur Herman yang mengatur itu dan meminta bantuan dari direktur sekolah. Mereka berdua akhirnya bisa masuk dan semua berjalan lancar.
Saat ini, Listi tidak tahu bahwa Erina sebenarnya adalah Diana. Wajah Diana yang cantik dan terlihat alami itu begitu muda. Bahkan untuk sekelas anak SMA, Diana memang sangat layak. Padahal secara umur, Diana sudah lebih dari dua puluhan tahun.
"Erina, sebenarnya apa yang akan kamu lakukan pada Dinda?" Tanya Listi.
Erina tidak langsung menjawab. Dia menatap lurus ke depan
"Kakak, apa kamu masih ingat jalan ke sana?" Tanya Erina pada Karmen.
"Tentu saja. Itu kan hotel tempat kita menginap waktu pertama kali datang." Jawab Karmen.
"Betul juga." Jawab Erina.
__ADS_1
"Listi, aku bersama kakakku mau menolong Dina." Jawab Erina pada Listi.
"Menolong? Memangnya apa yang harus ditolong?" Tanya Listi.
"Kamu terlalu banyak bertanya. Nanti juga kamu akan tahu!" Yang menjawab adalah Karmen.
"Iya, maaf, Kakak!" Listi lamgsung diam. Diana juga diam saja.
Hanya sekitar sepulun menit, mereka pun sampai di hotel yang mereka tuju. Karmen memarkirkan mobil. Lalu mereka keluar dan langsung masuk menuju restoran.
Satpan yang melihat Diana dan Karmen langsung membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali, Nona!" Sapa satpan dengan hormat.
Diana dan Karmen tersenyum pada mereka. Listi heran, kedua orang ini sangat dihormati? Sebenarnya satpam tidak mengenali Diana. Dia hanya mengenali Karmen saja. Karena dandanan Diana aneh dengan rambut dikuncir dua, itu sudah membuatnya berbeda.
"Kalian tunggu di sini!" Kata Karmen. Lalu dia langsung menuju ruang pelayan.
"Mana yang bernama Dinda?" Tanya Karmen.
"Nona? Anda kemari?" Tanya salah seorang karyawan yang mengenal.Karmen.
"Cepat katakan, mana yang bernama Dinda?" Karmen tidak menanggapi pelayan, namun terus bertanya soal Dinda.
"Aku Dinda!" Jawab seorang gadis.
"Ikut aku!" Kata Karmen.
"Aku tidak mau! Aku sedang bekerja. Memangnya siapa kamu berani menyuruhku?" Dinda menolak. Para.pelayan heran, berani sekali anak ini pada Nona Karmen? Pikir mereka.
__ADS_1
"Kamu? Kamu berani melawan Nona Karmen?" Tanya seorang pelayan.
"A-apa maksudmu?" Tanya Dinda.
"Nona Karmen adalah temannya Nona Diana yang menyelamatkan Gubernur dan Pamglima Perang." Jawab seorang pelayan. Sontak wajah Dinda menjadi pucat. Dia segera membungkuk hormat.
"Maafkan aku, Nona! Aku salah." Kata Dinda.
"Ikutlah denganku!" Kata Karmen sekali lagi.
"Tapi, aku mau dibawa kemana, Nona?" Tanya Dinda.
"Ikut saja, cepatlah!" Jawab Karmen. Lalu dia segera berjalan, Dinda terpaksa mengikutinya.
Saat berjalan sampai dekat pintu masuk restoran, Dinda bertemu dengan Listi dan Erina. Dinda terkejut dan menundukkan wajahnya.
"Duduklah!" Kata Karmen. Lalu Dinda duduk di kursi yang diberikan oleh Karmen.
"Kamu tahu kenapa kamu aku panggil?" Tanya Karmen.
"Aku tidak tahu, Nona. Apa aku salah?" Tanya Dinda.
"Iya, kamu melakukan kesalahan dan kamu harusnya aku hukum. Lihat di sana. Kamu tahu siapa Erina? Dia adalah adikku. Dan kamu sepertinya membencinya. Kamu juga lihat Listi? Bagaimana kamu bisa membuatnya hampir celaka di tangan Evan? Apakah kamu punya hati atau tidak?" Tanya Karmen.
Mendengar itu, Dinda semakin ketakutan. Ternyata Erina adalah adik seorang teman Nona Diana yang hebat itu?
"Begini saja, kalau adikku mau memaafkanmu, maka aku akan melepaskanmu, tapi jika tidak, aku akan memberitahu ibu dan ayahmu soal kelakuanmu di sekolah." Kata Karmen mengancam.
"Maafkan aku, Nona, jangan beritahu ayah dan ibuku. Aku melakukan itu agar aku bisa mendapatkan uang yang banyak dari Evan. Aku hanya ingin membantu ibu dan ayahku. Ayahku sedang sakit dan tidak bisa berobat karena tidak punya uang." Dinda memohon. Dia mulai menangis.
__ADS_1