
Wakil kepala sekolah terlihat sangat tidak senang dengan Karmen. Karmen justru tersenyum sinis melihat wakil kepala sekolah yang bertingkah aneh. Itu menandakan bahwa wakil kepala sekolah berada di pihak Evan.
"Aku tahu kamu adalah kacung ayahanya Evan. Jadi kebetulan sekali. Kamu menunjukkan dirimu sendiri. Dan kamu akan tahu bagaimana rasanya dijebak. Haha!" Karmen sudah tidak tahan lagi.
"Kamu jangan mimpi, sebentar lagi kota ini akan kami kuasai. Jadi kalian bersiapkan diusir dari kota ini!" Teriak wakil kepala sekolah.
"Kamu yang mimpi, wakil kepala sekolah. Kamu tidak pernah menyadari sesuatu dan selalu percaya dengan kekuatanmu yang tidak seberapa. Bahkan kamu kalah ceoat dari aku. Cobalah kamu telepon yang katamu Letan Harun. Apakah tersambung? Aku akan menunggu dia menangkapku. Tapi, kalau memang dia benar-benar tidak datang, maka kamu sudah berakhir. Aku akan mengambil alih semua asetmu, aset bosmu dan kalian akan hidup di penjara seumur hidup, atau bahkan mendapat hukuman mati karena menghianati negara. Apalagi jika kamu terlibat dalam penghianatan saat perang dengan para monster. Itu sudah tidak bisa diampuni." Kata Erina.
Wajah Junito membesi. Dia benar-benar tertusuk dalam dengan kalimat Erina.
"Tunggu saja!" Kata Junito, lalu dia mengambil ponsel, mencari sebuah nama kontak dan mulai memanggilnya. Namun, operator seluler memberitahu bahwa nomor yang dia hubungi tidak aktif. Junito mengulanginya berkali-kali. Namun hasilnya sama. Nomor tidak aktif.
"Haha! Bukankah nomornya sudah tidak aktif? Bagaimana? Apakah kamu masih ingin melawan kami?" Tanya Erina.
"Kakak, Guru Rangga! Patahkan kaki kanan wakil kepala sekolah, lalu ikat mereka semua! Aku akan membereskan Evan dan teman-temannya!" Perintah Erina.
Memdengar apa yang diucapkan oleh Erina, Junito sangat ketakutan. Dia sama sekali tidak menyangja jika Letnan Harun tidak bisa dihubungi. Biasanya, Letnan Hatus akan segera menjawab bila dia meneleponnya, taoi kali ini? Jangankan menjawab, nomornya saja tidak aktif.
__ADS_1
Jinito terduduk lemas di lantai. Dia seperti tidak memiliki tulang. Sementara dia merasakan ngeri ketika melihat Rangga dan Karmen mendatanginya.
"Krak!"
"Ah!"
Suara tulang patah dan jeritan pilu memenuhi lapangan basket. Beberapa murid sampai menutup wajah mereka dengan kedua telapak tangan.
Erina benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Karmen dan Rangga lalu mengikat tangan Junito dan belasan orang kekar. Mereka tidak berdaya dan mebgerang kesakitan.
Sementara Erina, dia maju dengan cepat ke arah Evan dan trman-temannya.
"Kalian? Apakah kalian memang bagian dari Evan? Jika iya, maka kalian akan bersama Evan dibawa ke kantor polisi hari ini. Tapi jika kalian menjauhinya, aku akan merjngankan hukuman buat kalian!" Teriak Diana ketika mereka hendak maju.
Tenan-teman Evan saling berpandangan. Mereka terlihat ragu-ragu. Apa yang dikatakan oleh Erina masuk akal. Mereka hanya akan menyusahkan diri sendiri jika melakukan perintah Evan.
Lalu, secara bersamaan, teman-teman Evan Mundur. Dan di tempatnya, Evan mengomel panjang lebar.
__ADS_1
"Kurang baik apa aku selama ini pada kalian? Sekarang kalian meninggalkan aku dan melawanku! Ingat! Jika kita bertemu lahi suatu hari nanti, aku akan membuat perhitungan dengan kalian semua. Dan kamu Ernia! Aku tidak akan melupakan yang terjadi hari ini. Suatu hari nanti, aku akan, ah!" Belum selesai berbicara, Evan sudah berteriak kesakitan. tangan kanannya sudah terkulai seperti tanpa tulang.
Tangan itu patah dan Evan langsung terduduk di lamtai. Erina hang mematahkan tangan Evan dengan gerakan yang sangat cepat.
"Kamu tidak perlu susah payah balas dendam. Kamu tidak akan sanggup. Kamu harusnya bersyukur aku tidak membunuhmu karena perilaku burukmu selama ini. Jika suatu hari kita beryemu lagi dan kamu masih berperilaku sama seperti sekarang, maka kamu tidak akan pernah selamat. Ingat kata-kataku!" Lalu Erina meninggalkan Evan.
"Guru Rangga! Bisakan memgikatnya! Setelah ini, kita akan mengantarnya pulang." Pinta Erina.
Rangga segera mengambil tali dan mengikat Evan. Saat itu, sebuah pasukan muncul. Tidak jelas siapa mereka. Mereka berjumlah sekitar tiga puluh orang. Memakai pakaian serba hitan dan topeng berwarna hitam.
Erina melihat tanda di bagian lengan baju. Itu adalah pasukan dibawah komando Jenderal Joshua dan Inspektu Herman.
"Bawa mereka semua! Sisakan pecundang muda itu!" Teriak Erina.
Pasukan itu membungkuk hormat, lalu segera menyeret mereka semua, termasuk Junito.
"Kakak! Hubungi Jenderal Joshua dan Inspektur Herman! Kita akan ke rumah Evan!" Pinta Erina pada Karmen.
__ADS_1
Melihat Erina yang dihormati oleh pasukan itu, tentu saja membuat Guru Lala dan semua murid melongo. Mereka tidak menyangka kalau memiliki teman yang begitu hebat.
Evan lebih gila lagi, setelah melihat semua itu, dia pingsan, itu juga karena menahan sakit.