
Diana dan Karmen tersenyum geli. Mereka berdua melihat Dara sedabg mengamuk. Dan sasarannya adalah Rangga. Dari semalam, dia tidak tahu ibunya kemana. Jadi hari ini dia benar-benar marah.
Dara membawa pedang plastiknya. Dia bahkan memakai pakaian perangnya dan menantang Rangga untuk bertarung. Rangga bahkan terlihat sedang bersujud memohon ampun pada Dara. Namun, Dara masih saja tidak mengampuninya.
Hal itu terjadi di teras rumah dan menjadi tontonan banyak orang. Orang-orang di sana tidak ada yang berani tertawa walaupun itu sangat lucu. Mereka tahu, jika mereka tertawa, maka Dara akan semakin marah.
"Diana! Cepat kesana!" Kata Karmen, lalu keduanya turun dari kuda dan berjalan di antara orang-orang yang berada di halaman rumah kepala desa.
Ketika melihat Diana dan Karmen, sontak semua orang berlutut. Mereka minggir dan membuat jalan bagi Diana dan Karmen.
Diana dan Karmen sudah tidak bisa mencegah lagi. Mereka berdua langsung berjalan menuju teras. Dan ketika sampai di sana, tampak kepala desa dan keluarganya serta orang-orang yang ada di sana segera berlutut.
Dara yang masih marah ketika melihat Diana sudah pulang, berpura-pura marah. Dia sekarang jual mahal. Ditinggal semalaman hingga pagi ini, dia marah.
"Sayang, ibu dan Bibi pulang." Kata Diana merayu Dara.
__ADS_1
"Huh!" Dara membuang muka. Pedsngnya dilemparkan ke Rangga dan tangganya disilangkan ke dada.
Diana mendekat, ingin memeluknya, namun Dara meronta. Dan bersikap sama. Membuang muka dan masih jaim.
"Kalau begitu, Ibu pergi lagi, ya." Kata Diana, lalu dia berpura-pura berjalan.
Saat itulah tangisan Dara meledak. Suaranya yang melengkin kecil menjerit-jerit. Dia menjatuhkan diri dan berguling di tanah.
Tidak ada yang berani bicara. Bahkan Karmen, Rangga dan Anita juga tidak. Hanya Diana yang pasti bisa meluluhkan hatinya saat ini.
"Sudah, diamlah, ibu sudah bersamamu.. Maafkan Ibu, ya." Kata Diana.
Masih dengan sesenggukan, Dara mengangguk. Kini suara tangisnya sudah reda. Semuanya bernafas dengan lega.
"Mik cucu." Suara Dara lirih. Dan tepat pada saat itu, Anita sudah keluar membawa botol susu dan langsung memberikan pada Dara. Dara pun tidak lupa mengucapkan terimakasih. Lalu Diana duduk di kursi.
__ADS_1
Sementara Karmen dan Rangga serta Anita berdiri di belakangnya.
"Paman!" Panggil Diana pada kepala desa.
"Ya, Pendekar!" Jawab kepala desa.
"Aku ada permimtaan. Sore nanti kami akan berangkat, arah kami adalah ke kerajaan. Aku minta sebuah kereta kuda yang bisa ditarik empat ekor kuda, untuk membawa barang-barangku. Itu saja, apakah bisa? Ada empat kuda kami yang bisa digunakan. Kami butuh yang besar dan bisa juga untuk tidur. Juga aku minta dua orang kusir. Aku akan membayar mereka. Kami akan kembali kemari kelak." Diana mengajukan permintaan.
"Tentu saja, Pemdekar! Kalian adalah dewa penolong kami, jangankan kereta kuda, bahkan nyawa kami akan kami berikan pada kalian!" Kata kepala desa dengan serius. Hal itu juga mendapat respon dari warga penduduk yang saat itu sedang berlutut.
"Oh, tidak perlu seperti itu, kami adalah manusia yang sama seperti kalian." Sahut Diana. Dia merasa tidak enak hati.
"Apakah kereta bisa disiapkan siang ini , Paman?" Tanya Diana.
"Tuan Pendekar tenang saja. Kami memiliki banyak sekali kereta kuda yang biasa kami gunakan bila ke kota. Tuan Pendelar bisa memeilih yang paling disukai. Ada ukuran yabg memang sangat besar, dan itu harus ditarik oleh emapt ekor kuda. Nona bisa melihat sekarang." Jawab Kepala Desa.
__ADS_1