Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Menyerah


__ADS_3

Diana segera menghentikan serangannya. Galang pun demikian. Sorak-sorai prajurit sontak berhenti. Semuanya terkejut melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba musuh berhenti menyerang.


Diana juga terlihat terkejut dengan kejadian itu. Wartawan dan reporter televisi segera mendekat ketika melihat perang terhenti. Mereka ingin meliput dari dekat.


Diana belum menyarungkan pedangnya saat berjalan mendekati Galang. Pedangnya terus diacungkan ke musuh sambil berjalan.


"Apa yang terjadi?" Tanya Diana.


"Tanya pada mereka, dong." Jawab Galang.


Diana melirik ke arah musuh. Pedangnya masih terhunus dan diacungkan ke arah musuh. Dia masih belum yakin apa yang terjadi.


Tiba-tiba Diana melompat ke pemimpin pasukan musuh. Lalu mengarahkan pedangnya ke lehernya.


"Kami memyerah!" Teriak makhluk itu. Diana langsung berhenti. Namun, dia belum menarik pedangnya.


"Apa maksudmu menyerah?" Tanya Diana.


"Kami tidak ingin bertempur lagi, kami menyerah. Katakan oada Raja Naga, kami tidak ingin dimusnahkan. Kami ingin berdamai." Jawab pemimpin pasukan.


"Siapa Raja Naga?" Tanya Diana.


"Orang yang bersama Anda, dialah Raja Naga." Jawab pemimpin pasukan lalu menunduk.

__ADS_1


"Galang?" Tanya Diana lagi. Makhluk itu menganggukan kepala. Diana terkejut.


Diana berjalan mundur. Sesampai di tempat Galang, Diana melihat ke arahnya.


"Dia bilang kalau kamu adalah Raja Naga?" Tanya Diana penasaran.


"Dia benar, makanya dia menyerah." Jawab Galang.


"Baik, aku ingat." Terdengar suara Diana agak pelan.


"Panggil Nenek Sol!" Teriak Diana.


"Perintahkan prajurit untuk melucuti senkata mereka!" Teriaknya lagi.


"Perintahkan semua pasukanmu untuk menyerahkan senjata. Tidak boleh terlewat satupun. Aku akan menyita Pedang Api sementara, sampai kamu dan pasukanmu benar-benar menyerah. Prajuritku akan melucuti senjata kalian. Termasuk senjata sekutu kalian. Jika ada luka sedikirpun pada tubuh prajuritku daat melucuti senjata kalian, Raja Naga akan memusnahkan kalian!" Perintah Diana.


Lalu dengan bahasa isyarat, pemimpin pasukan makhluk siluman memerintahkan semua prajuritnya untuk menyerahkan senjata termasuk senjata sekutunya.


Alimun yang saat itu telah sampai di tempat itu, mendekati pemimpin pasukan.


"Tuan, apa maksudnya ini? Apakah kita menyerah?" Tanya Alimun.


Diana memandang ke arah Alimun.

__ADS_1


"Kamu! Kamu dan semua orangmu akan kami tangkap dan akan dihukum mati. Karena kalian telah berani melawan negara. Kalian sudah tidak bisa lari lagi. Hari ini, kalian sudah tamat!" Teriak Diana.


"Tidak semudah itu, walaupun mereka menyerah, aku tidak biasa menyerah sebelum benar-benar kalah!" Teriaknya.


Alimun maju, menghunus pedangnya dan menyerang Diana. Namun, pemimpin pasukan terlihat marah dan menghalanginya. Lalu, mereka phn bertarung. Keduanya seimbang. Hanya saja, senjata milik Alimun tidak berguna menghadapi makhluk itu. Selama hampir satu jam mereka bertarung, akhlirnya Alimun mulai terdesak karena kehabisan tenaga.


Dengan kekuatan yang masih utuh, pemimpin pasukan makhluk siluman akhirnya mencengkeran tubuh Alimun dan merobeknya di depan banyak anak buahnya. Melihat hal itu, mereka pun kini menjadi takut dan membuang senjata.


"Siapapjn yang melawan, akan bernasib sama!" Teriak makhluk siluman itu.


"Prajurit! Lucuti mereka semua!" Teriak Diana. Ribuan prajurit akhirnya maju dan mengambil semua senjata musuh tanpa terkecuali.


Kini di televisi pemberitaan hanya berkutat pada kekalahan musuh, kehebatan Diana dan Galang. Di media sosial, hal itu menjadi trending topik nomor satu.


Kemenangan itu akhirnya membuat kelegaan penduduk provinsi wilayah selatan. Semua bersukacita.


Tidak jauh dari sana. Anita sedang mengejar Dara yang berlari ke arah Galang. Ketika mendengar bahwa ayahnya sudah pulang, Dara pun tidak mau diam. Dia minta diantar untuk menemui ayahnya. Padahal itu adalah medan perang.


Dara mengenakan pakaian perangnya dan membawa pedangnya. Dia terus berlari. Dia sudah melihat ayahnya yang juga melihat ke arahnya. Dengan tatapan ribuan pasang mata, Dara terus berlari. Langkahnya yang kecil membuatnya sangat lucu. Apalagi dia mengenakan pakaian prajurit yang sama dengan yang dipakai Diana.


Pedang kecilnya juga terhunus, dia terus berlari seperti sedang mengejar musuh. Sementara Anita terus mengejarnya dan memanggil-manggilnya. Namun Dara tidak menggubrisnya.


Dara pun akhirnya sampai di sana. Semakin dekat dengan ayahnya. Ayahnya terlihat tersenyum. Dara berteriak. Dara terus berlari, namun tiba-tiba dia berhenti. Berhenti dan tidak melanjutkan larinya.

__ADS_1


Apa yang terjadi?


__ADS_2