Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Milik Nona Diana


__ADS_3

Saat semua orang tercengang dengan apa yang mereka lihat, Herman yang memang sengaja hadir karena ada Diana dan Dara, kini pun duduk di sana. Farel dan Anita juga sudah duduk.


"Dengar-dengar Farel sudah punya pacar. Dan pacarnya ada di sini?" Tanya Diana. Wajah Farel memerah karena agak malu.


"Eh, iya, Nona. Dia adalah teman sekelas Anda." Jawab Farel gugup. Tidak disangka Diana akan bertanya begitu.


"Kenapa kamu tidak duduk bersamanya? Jangan karena aku dan Dara, kamu mengabaikan pacarmu. Ke sana lah!" Perintah Diana.


Farel berdiri, membungkuk dan segera menuju ke Hesti. Heati memandang Diana dengan kagum. Hesti yang pendiam itu jadi tersipu.


Sementara Toni yang diacuhkan oleh Herman jadi bertanya-tanya, kenapa orang-orang besar ini sangat menghormati Diana? Toni pun sangat penasaran.


Apalagi Pratiwi dan Susi, keduanya kini mulai kuatir. Sedari awal, mereka berdua sering mengatai Diana dengan kata-kata yang pedas dan menyinggung perasaan. Jika Herman, Farel dan Anita saja harus tunduk pada Diana, lalu mereka ini apa? Memikirkan hal itu, Tiwi dan Susi ingin rasanya bunuh diri saja.


"Ayo kalian makan. Pelahan tentunya sudah memberitahu kalau makanan ini aku yang akan membayarnya." Kata Herman.


"Paman, apakah Paman memberi hadiah ini karena aku ada di sini?" Tanya Toni memberanikan diri.


Herman menoleh ke arah Toni, "Apa yang kamu katakan? Aku membayar makanan ini sampai puluhan juta, karena ada Nona Diana dan Nona Dara di sini." Jawab Herman.


Mendengar itu orang-orang kembali tercengang. Orang seperri apakah DianaM sehingga seorang bos Dara Shinta Food sampai rela menghabiskan puluhan juta untuknya?


Toni terlihat menunduk lesu. Tidak disangka pamannya sendiri justru mengabaikannya. Bahkan, sedwri awal masuk, Toni diacuhkan dan malah berada dekat dengan Diana.


saat itu terdengar pintu ruangan terbuka, manajer perempuan masuk dengan wajah pucat.


"Tuan Dirut, maafkan saya, ada orang-orang yang memaksa mau menggunakan ruangan ini, katanya mereka adalah anak buah Tuan Rocky." Ucap manajer dengan gemetaran.


Herman memandang ke arah Diana yang saat itu sedang makan. Herman menjadi serba salah. "Panggil keamanan!"


"Pihak keamanan sudah dihajar oleh mereka, Tuan, mereka saat ini sedang menuju ruangan ini " Jawab manajer makin gemetaran.


orang-orang yang berada di ruangan menjadi panik dan semuanya berdiri. Mereka tahu siapa Rocky.


"Tuan Herman, kami tidak apa-apa pindah dari sini. Biarkan ruangan ini diambil oleh anak buah Tuan Rocky!" Seru seseorang dengan gemetar.


Herman menjadi serab salah, dia ingin tahu respon Diana, namun Diana sama sekali tidak ada respon, jadi dia mengambil inisiatif, "Kalian tetap di sini. Biar aku atasi anak buah Rocky." Ucap Herman, lalu dia pun berdiri dan mengajak manajer keluar.


"Tunggu!" Diana berseru. Herman dan manajer berhenti.


"Diana, apa maksudmu?" Tanya Susi. Diana tidak mempedulikannya.


"Manajer, ada berapa orang mereka?" Tanya Diana.


"Sekitar lima orang." Jawab manajer lalu memandang ke Diana.

__ADS_1


"Biarkan saja mereka masuk!" Kata Diana.


Awalnya Diana ingin menguji keberanian Herman dengan berpura-pura tidak merespon. Ketika Herman memutuskan untuk menghadapi mereka, maka Diana tahu bahwa Herman orang yang bertanggung jawab.


Diana tahu bahwa Herman akan kalah jika harus berhadapan dengan anal buah Rocky, jadi dia mencegahnya.


"Tapi, Nona?" Herman kuatir akan keselamatan Diana.


"Duduklah! Semuanya duduk!" Perintah Diana. Saat diam tadi, Diana meminta Karmen untuk datang kemari. Seharuanya Karmen sebentar lagi masuk ke ruangan itu tidak lama lagi.


Pintu ruangan ditendang dengan keras. Lima sosok besar memasuki ruangan. Dara yang saat itu tengah makan menjadi ketakutan dan mulai menangis. Diana mengambil Dara dan memeluknya dan membuatnya nyaman.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu akan menghajar mereka nanti." Kata Diana membuat Dara tenang. Kata 'menghajar mereka' menjadi sebuah pembelaan pada adak kecil. Kata itu menjadi sebuah ketenangan bagi anak kecil yang merasa ditakuti oleh orang jahat.


Menendang pintu adalah bentuk dari kejahatan. Anak kecil sangat tidak menyukai suara yang berlebihan, seperti dibentak, mwndengar pintu dibanting dan lain-lain.


Ketika Diana mengatakan, 'akan menghajar mereka nanti', tentu saja membuat Dara merasa ada yang melindungi dan membela.


Beberapa orang mendengar kata-kata Diana, termasuk Herman dan Anita. Kaliamat Diana itu bisa diartikan dengan berbagai persepsi. Hanya untuk membuat anak kecil tenang, hanya untuk membuat diri sendiri tenang, bisa juga agar terlihat pemberani.


Herman sendiri pernah mendapat memo dari Diana agar melawan Rocky. Dan hal itu ditambah lagi saat bertemu di reatoran lokal waktu itu saat bersamaan dengan ulang tahun Guru Hana.


Herman sebenarnya belum tahu apa maksud dari kata menghajarnya nanti. Tapi, dari sisi Dara, Diana adalah seorang ibu yang benar-benar melindunginya, membelanya dan juga benar-benar menghajar penjahat dengan tangannya. Dara tahu, ibu pasti akan menghajar mereka.


"Aku sudah bilang bahwa tempat ini harus dikoaongkan, tapi kalian masih berada di sini. Herman! Rupanya kamu juga di sini!" Seru seorang pria yang terlihat sangat arogan.


"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" Laki-laki itu malah bertanya.


Bersamaan dengan itu, pintu kembali dibuka dan Karmen memasuki ruangan. Kelima orqng itu dan seiai ruangan memandang ke arahnya.


"Oho, ada wanita cantik datang kemari. Ada keperluan apa?" Tanya pria tadi.


Karmen terus berjalan, "Bukankah ini bukan urusanmu?" Jawab Karmen tanpa mempedulikan mereka berlima.


Mendengar jawaban Karmen, orang-orang di sana sangat terkejut kecuali Anita yang penah melihat bagaimana hebatnya Karmen.


Saat ini Karmen sudah berada di samping Diana. Menyerahkan Dara padanya dan memintanya untuk membawa Dara keluar.


Dara masih ingat apa yang dikatakan ibu padanya, bahwa ibu akan menghajar mereka. Karmen membawa Dara keluar, walau kelima pria itu mencoba mencegahnya, namun Karmen berhasil keluar.


Diana langsung berdiri dan tangannya disilangkan ke dada.


"Kalian sangat arogan, apa kalian sudah bosan hidup?" Tanya Diana dengan arogan juga.


Orang-orang yang ada di ruangan terlihat saling pandangmendengar ucapan Diana. Kelima orang itu juga saling pandang mendengar ucapan Diana yang bagi mereka seperti menggelitik hati.

__ADS_1


Kelima orang itu tertawa terbahak-bahak. Mereka sangat geli dengan apa yang diucapkan oleh Diana.


"Farel!" Panggil Diana.


"Ya, Nona Diana?" Jawab Farel.


"Boleh aku meminjam pisaumu?" Tanya Diana lagi. Farel terkejut, bagaimana Nona Diana tahu kalau dia membawa pisau?


Farel berdiri, berjalan ke arah Diana dan mengambil pisau dari balik pakaiannya dan menyerahkan pada Diana.


"Nona, apa yang akan Anda lakukan?" Tanya Farel dengan hormat.


"Karena mereka anak buah Rocky, maka tidak ada yang boleh keluar dari ruangan ini." Jawab Diana.


"Paman, sebentar lagi siapkan orang untuk mengurus mayat mereka!" Teriak Diana.


Diana lalu maju menerjang ke arah lima orang itu, tak terlihat bagaimana Diana melakukannya, dua orang sudah tumbang dengan leher menganga dan mengucurkan darah. Tiga orang yang masih hidup sangat ketakutan, mereka berusaha keluar dari sana dan berlari ke arah pintu.


"Kalian tidak bisa kemana-mana!" Seru Diana, lalu dengan sekali bergerak, Diana sudah mencegat ketiga orang itu. Tidak sempat berkata-kata, Diana kemudian menyerang ketiganya dengan cepat. Sama seperti nasib dua orang tadi, ketiga orang itu tumbang bersimbah darah.


"Paman Herman! Apakah orang-orang yang mengurus mayat sudah dihubungi? Sebaiknya yang ada di ruangan ini bungkam, kalau tidak maka akan bernasib sama seperti mereka!" Seru Diana.


"Iy... Iya, Nona, mereka akan segera masuk." Jawab Herman.


Semua orang yang ada di ruangan itu ketakutan melihat kejadian yang baru saja mereka lihat. Diana sehebat itu?


"Kalian semua, aku minta maaf jika harus bertindak seperti ini. Aku memang sedang melawan Rocky, mereka juga sedang mencari tahu keberadaanku." Kata Diana. "Paman, jelaskan pada mereka!"


"Baiklah, kalian semua dengar, Nona Diana adalah pemilih Dara Shinta Food dan sembilan perusahaan lainnya, jadi restoran ini adalah miliknya." Herman memandangi mereka semua yang saat itu tercengang. Diana adalah bos besar?


"Bertahun-tahun Rocky membuat aturan yang merugikan semua perusahaan. Beberapa hari lalu, Nona Diana menyatakan perang. Bagaimanapun, perusahan yang tidak bisa untung tidak akan bisa menggaji karyawan. Jadi Nona Diana benar-benar mengusir semua orang Rocky dari perusahaan." Herman menghela nafas.


"Kejadian ini kenapa Nona Diana harus membunuh mereka? Itu karena agar tidak ada yang melapor kepada Rocky. Jadi, diantara kalian, jangan sampai membocorkan rahasia ini. Karena konaekuensinya sangat berat. Apa kalian paham?" Tanya Herman menutup ucapannya.


Semua yqng ada dalam ruangan itu pun mengangguk. Mereka mana berani membocorkan rahasia? Melihat apa yang dilakukan Diana saja sangat ngeri.


Akhirnya, orang-orang yang mengurus mayat sudah masuk. Mereka membawa lima kantong mayat, memasukkan lima mayat, membersihkan tempat itu dari darah. Kemudia membawa lima mayat pergi.


Ruangan kembali bersi setelah petugas kebersihan membersihkannya. Namun pakaian Diana masih ada bekas darah yang muncrat dari lima orang tadi. Diana akan ganti pakaian yang dibawa oleh Karmen nanti.


"Farel, Anita, aku harap ayahmu juga melakukan seperti yabg aku lakukan, dan jika semakin banyak yang melawan Rocky, maka kekuatan Rocky akan semakin lemah." Kata Diana sambil menyerahkan pisau Farel.


"Nona, pesan Nona akan aku sampaikan pada Ayah." Ucap Farel, lalu dia membungkuk pada Diana.


"Anita, maukah kamu menginap di rumahku? Sepertinya Dara merindukanmu."

__ADS_1


"Baik, Nona. Aku akan menginap di rumah Anda. Aku juga merindukan Nona Dara." Jawab Anita senang. Farel juga setuju dengan Anita.


Lalu semuanya keluar dari ruangan itu dengam pikiran masing-masing. Yang selalu jadi piliran mereka tanpa ada jawaban adalah, bagaimana bisa Diana sekaya itu?


__ADS_2