
“Aaaa... tanganku, tanganku!.” Toni menjerit kesakitan ketika sadar kedua lengannya telah hancur lebur akibat ledakan. Meskipun seluruh tubuhnya terluka hingga baju besinya rusak namun dia bisa dikatakan masih beruntung bisa tetap hidup.
Sementara itu monster beruang yang membuat keadaannya begitu mengerikan, hanya mengalami patah lengan. Salah satu lengan depan Beruang yang digunakan untuk menghantam Shield Dash Toni, lengan itu bengkok dengan cara yang aneh.
Sungguh pertukaran yang tidak sepadan, Toni mengalami luka parah hingga kehilangan dua lengannya, sementara monster yang dia lawan hanya menderita luka ringan seperti keseleo.
Perlu perawatan intensif untuk menyelamatkan Toni, sedangkan untuk beruang itu ...
Wajah Toni tiba-tiba menjadi pucat, bukan karena kekurangan darah akibat luka yang dia derita. Tapi keadaannya demikian karena rasa takut yang menghantuinya begitu mengingat kemampuan monster beruang yang bisa menyembuhkan luka dengan memakan hewan lain.
Grour! Suara Beruang yang mendekat membuat tulang punggung Toni merinding.
“No.... no, step back... Stay away from me!.”
(Ti.... Tidak, mundur lah, menjauh dariku!)
Dengan putus asa Toni mencoba merangkak mundur, menjauhi beruang yang berjalan dengan salah satu kaki pincang kearahnya.
“Please... Help, seseorang kumohon!.” Toni menangis, dengan putus asa dia berharap seseorang akan menolongnya.
Tetapi tidak ada yang datang bintiknya, semua orang tahu pertarungan ini hanyalah sebuah pembantaian. Tidak ada kesempatan untuk meraih kemenangan jika pasukan Goblin memiliki dua monster kuat pada tingkat bencana harimau.
Dibandingkan pergi untuk menolong Toni dan mati, mereka pasti lebih memilih untuk melarikan diri yang merupakan pilihan paling realistis untuk dipilih.
“Tidak... kumohon.... seseorang....” Toni tidak bisa bergerak lagi, dia terus menangis mengharapkan pertolongan. Sementara itu...
Grour! Beruang sudah berada di hadapannya.
Mulut besar terbuka lebar, meskipun dia tahu jika tidak mungkin menghindari kematian, tetapi Toni masih merasa tidak rela hidupnya yang baru dimulai akan berakhir seperti ini.
Toni teringat kembali bagaimana dia melalui hari-hari setelah bencana besar. Sebelumnya dia adalah seorang preman yang sering meminta uang pada para pedagang di pasar. Keadaan sulit setelah bencana tidak begitu berdampak baginya.
Sebagai seseorang yang memiliki mental kuat dan pengalaman bertarung sebagai preman pasar membuat Toni sanggup melawan monster.
Tetapi dia tidak menggunakan kemampuan bertarungnya untuk melindungi yang lemah, tapi justru memanfaatkannya untuk semakin menindas mereka.
__ADS_1
Satu bulan setelah bencana, Toni menjadi pemimpin dari sebuah perkumpulan para pengungsi yang menampung 50 manusia yang membuat pengaruhnya menjadi cukup besar di kota pusat.
Satu hari tempatnya kedatangan rombongan aneh yang mengaku sebagai utusan Dewa Gread. Mereka mengajukan penawaran pada Toni untuk masuk kedalam sekte Gogo Gread.
Awalnya preman itu menolak, tapi pikirannya segera berubah setelah melihat kekuatan dari Dewa yang nyata. Sejak saat itu kehidupan Toni berubah, dia menjadi anggota sekte yang taat demi memperoleh kekuatan lebih besar.
Setelah menyelesaikan berbagai tugas suci, akhirnya Toni berhasil menjadi salah satu petinggi dari sekte Gogo Gread. Dia dijuluki sebagai benteng keserakahan, kekuatan mengalir dalam dirinya berkah dari sang Dewa.
Toni sangat bangga dengan pencapaian itu, namun semua kebanggaan yang dia miliki tidak akan mampu menyelamatkannya dari mulut Berung di depannya.
Dia berharap Dewa yang dia layani akan menolongnya, namun sama halnya dengan anggota sekte Gogo Gread yang telah dia habisi, tidak akan ada pertolongan untuk mereka yang telah membuat Dewa kecewa.
“Kekalahan adalah hal yang sangat hina, lebih baik kau mati dalam perjuangan daripada mencoreng nama baik dewa Gread dengan kekalahan mu.” doktrin sekte yang telah dia dengar ratusan kali terngiang-ngiang di kepala Toni
“Aaaaarrrrrg!.”
Teriakan Toni terdengar keras di desa yang dikosongkan oleh warganya. Dia sangat menyesal menghabiskan waktunya untuk mengejar kekuatan yang sebenarnya tidak begitu besar.
Dia merasa bagaikan keledai bodoh yang terus mengikuti wortel di depan matanya. Sebuah pancingan yang tidak mungkin bisa dia dapatkan.
“Not this Honey.”
(Bukan yang ini sayang)
Suara seorang gadis yang terdengar begitu lembut masuk ke telinga Toni. Pria itu seketika teringat dengan sosok misterius berjubah kuning yang muncul sebelum perempuan.
Dia mencoba membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Setelah bisa melihat, Toni mendapati mulut besar Berung berbuka lebar tepat di depan matanya.
Namun mulut itu berhenti bergerak seakan hanya sebuah patung. Tangan gadis berjubah kuning menghentikan beruang.
“Kau bisa memakan mayat yang lain, tapi yang ini ....” Toni dapat merasakan sodok kuning tersenyum kearahnya. “... yang ini adalah milikku.” ucapnya.
Dengan patuh beruang melepas Toni laku meninggalkan tempat itu. Terdengar teriakan manusia setelahnya, mereka meminta pertolongan saat dengan suara temukan tulang sebagai latar belakang.
Siapapun bisa menebak dengan mudah apa yang sedang terjadi di sana...
__ADS_1
“Siapa kau.” tanya Toni dengan suara terputus-putus, dia menggunakan seluruh sisa tenaganya untuk bertanya.
“Aku...” sosok itu terhenti seakan sedang berpikir.
“Aku adalah mimpi buruk.” ungkapnya seraya menyingkap tudung yang menutupi kepalanya.
Melihat wajah dari sosok itu membuat Toni kembali menangis, bahkan tangisan pria itu lebih besar dibandingkan saat beruang hampir memakannya.
“Itu adalah ekspresi yang sangat tidak sopan ditunjukkan pada seorang wanita.” Aurelia sosok dibalik jas hujan kuning, tidak senang dengan sikap Toni yang justru menangis setelah melihat wajahnya.
Namun dia bisa menduga ini akan terjadi.
“A... apa yang akan kau lakukan padaku?.” Toni bertanya dengan sangat ketakutan.
“Menurutmu?.” tapi Aurelia justru membalasnya dengan pertanyaan lain.
Liquid metal melapisi kerangka tengkorak Aurelia memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya.
Gadis itu tersenyum pada Toni yang masih ketakutan, dia seakan melihat anak anjing yang ketakutan lantaran terpisah dari induknya dan tersesat.
“Aku akan membawamu ketempat ku,” jemari Aurelia memanjang menjadi cacing yang mengikat tubuh Toni.
“Le... lepas, aaarrrrggg!.” Toni begitu ketakutan, dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Aurelia padanya. Dia berusaha memberontak saat tubuhnya di seret, namun cacing yang mengikat tubuhnya sangat sulit dilepaskan.
Saat di seret, Toni melihat nasib dari pasukannya. Mereka tidak melarikan diri seperti yang dia kira. Kebenciannya pada rekan-rekannya seketika lenyap berganti dengan rasa prihatin.
Potongan kepala ditimpuk dalam satu tempat, sedangkan mayat disulam, diman sebuah tiang ditusukkan dari bawah hingga menembus tenggorokan.
Mayat-mayat itu dijadikan sate yang ditancapkan pada sebuah tiang disekitar api unggun. Beruang berlengan empat mengambil salah satu yang telah matang lalu menikmatinya.
“Iblis.” ungkap Toni melihat pemandangan mengerikan di depannya.
“Hem... iblis?... Kau ingin menjadi iblis?.” Aurelia menatapnya dengan senyuman lebar.
Toni tidak tahu apa yang akan gadis monster itu lakukan pada tubuhnya, tapi yang dia tahu akhirnya bukan sesuatu yang baik.
__ADS_1