System Play Store

System Play Store
58. Serangan balasan


__ADS_3

Lingkar sihir super besar muncul di atas langit. Kemudian saat lingkaran sihir bersinar kemerahan, kobaran api mulai dalam jumlah besar mulai turun bagaikan hujan. Tetapi seakan tertarik oleh sesuatu, kobaran api itu berkumpul dalam satu titik, hingga membentuk bola api berukuran besar.


“Take my Revenge!.”


Tepat dibawah bola api raksasa, seorang Wizard yang terus mengangkat lengan kanannya ke atas langit, dengan cepat menjatuhkan kebawah. Bersamaan dengan itu, bola api raksasa di atas kepalanya meluncur turun menimbulkan dampak udara panas yang sangat menyengat.


“Waaaaaa, apa kau berniat melenyapkan seluruh gunung!.” ucapku dengan panik.


Arang yang merasuki tubuh Wizard tidak memperdulikan perkataanku, namun aku dapat melihat senyumannya dari belakang.


Ini bukan hanya sekedar balas dendam.


Dia hanya ingin melihat kekuatan dari para Wizard.


Bola api raksasa yang dijatuhkan oleh Arang mengenai gundukan tanah besar seperti gunung kecil dengan ribuan lubang, yang tidak lain adalah sarang semut raksasa.


Ledakan mengerikan terjadi dengan guncangan hebat manakala bola api menghantam sarang semut. Sekilas aku teringat kejadian saat pabrik terbakar di malam bintang api terjadi.


Mengingat kejadian itu membuatku ketakutan, hingga tubuhku bergetar seakan kedinginan. Ini, apa mungkin aku mengalami trauma karena musibah itu?.


“Akan sangat bodoh jika pada akhirnya aku menjadi takut pada api.” pikirku.


Seluruh pasukan bertepuk tangan setelah Arang berhasil melakukan serangan pembuka. Pasukan Wizard mulai tertarik untuk mengembangkan keahlian sihir api mereka.


Sedangkan pasukan lainnya terlihat tidak terlalu peduli karena mereka tidak memiliki keahlian untuk menggunakan sihir. Sorakan kegembiraan yang mereka tunjukkan dikarenakan pemandangan indah saat ribuan semua mati terbakar.


Goblone terlihat begitu bangga setelah melihat kekuatan majikannya, sangat berbeda dengan goblin bawahannya yang memasang wajah pucat karena begitu ketakutan.


Melihat wajah para Goblin yang mulai memutih karena terlalu takut, membuatku merasa lega karena ternyata takut melihat api yang begitu besar dari sebuah ledakan sihir adalah sesuatu yang normal.


Screeeeee!


Suara berisik dari puluhan ribu serangga terdengar begitu mengganggu. Berikutnya getaran kecil terasa mulai membesar, rasanya pasukan dalam jumlah besar bergerak semakin mendekat.


“Mereka datang.” gumam Arang.

__ADS_1


Jika Avatar cacing memiliki mata, mungkin mataku akan terbelalak begitu lebar saat melihat apa yang ada di depanku.


Gundukan tanah telah berubah menjadi cekungan besar, seakan sebuah bom telah dijatuhkan dan meledak ditempat itu. Api berkobar disekitar membakar pohon maupun mayat semut, menjadikan area itu seperti medan perang yang begitu mengerikan.


Tetapi bukan pemandangan itu yang membuatku merinding ketakutan dan berpikir untuk segera melarikan diri.


Dari tengah kawah, seekor semut hitam keluar dari lubang diikuti oleh ribuan semut lainnya. Serangga-serangga itu keluar terus menerus seperti luapan air selokan.


“Arang, apa kemarin malam kau benar-benar melawan semut sebanyak itu?.” tanyaku dengan panik.


{Hemm... ya, mereka masih semut yang sama. Tetapi jumlahnya mungkin sedikit lebih banyak} balas Arang.


“Kau yakin jumlahnya hanya ‘Sedikit’ lebih banyak?.”


Aku sedikit ragu dengan penjelasan arang setelah melihat kawah dari ledakan sebelumnya mulai terisi penuh oleh semut hitam.


“Ya, itu hanya sedikit lebih banyak.” ucapnya saat kembali menggunakan sihir yang sama.


Kawah itu bagaikan sebuah mangkuk yang terisi penuh oleh semut kebingungan. Para semut terus berjaga di sekitar sarang, serta mencari tahu penyebab dari ledakan yang menyebabkan bagian luar sarang mereka hancur.


Udara menjadi bertambah panas, seakan-akan matahari telah membelah diri menjadi dua.


Menyadari keberadaan bola api raksasa membuat semut-semut sadar jika penyebabnya hancurnya sarang mereka adalah akibat dari bola api yang sama. Itu bisa dibuktikan dengan kondisi sarang yang terbakar dan cekungan besar seakan ledakan besar telah terjadi.


Tidak ingin serangan yang sama kembali dijatuhkan ke sarang, pasukan semut segera menyerbu bukit tempat kami berada.


“Bagaimana mereka bisa tahu?.” kataku penasaran ketika melihat para semut menuju kearah kami.


Serangga-serangga itu seakan tahu jika bola api raksasa merupakan hasil dari sihir seseorang yang sedang berlindung di atas bukit.


Jumlah pasukan semut tidak bisa diremehkan. Serangga-serangga yang sedang marah itu terus bermunculan tanpa henti dari sarang, mereka terlihat seperti air got yang meluap.


Melihat jumlah lawan yang harus dihadapi membuatku merinding ngeri. Tetapi sebaliknya, tidak terasa sedikit pun adanya ketakutan pada pasukan kami, karena semuanya telah bersiap untuk bertempur.


Arang sengaja mengumpulkan seluruh pasukannya di atas tebing karena rencananya untuk menghadapi para semut mutan adalah menggunakan strategi bertahan.

__ADS_1


Pasukan semut yang tidak terhitung jumlahnya mulai merangkak naik keatas tebing, sehingga Arang memerintahkan para Wizard untuk menyerang.


Ledakan demi ledakan terjadi, dalam waktu singkat ribuan semut dibakar oleh sihir Fireball para wizard yang merupakan sihir dengan kerusakan area. Namun semua itu belum cukup. Jumlah pasukan semut seakan tidak memiliki batas, mereka terus bermunculan, membuat jarak antara kami dengan para semut semakin dekat.


“Ini akan memberikan kita sedikit waktu.”


Setelah mengatakan itu Arang kembali menurunkan tangannya yang menjadi pertanda jika matahari kecil di atas kepala kami akan dijatuhkan. Semua semut terdiam sesaat ketika bola api besar mulai turun dari langit.


Hingga semuanya menjadi panik begitu rumah mereka mendapatkan serangan untuk kedua kalinya. Ledakan kali ini sama kuatnya seperti yang pertama, namun jumlah korban jauh lebih banyak karena para semut berkumpul di sekitar sarang mereka.


Para semut semakin agresif setelah serangan kedua dari Arang menghancurkan rumah dan puluhan ribu saudara mereka menjadi korban. Meskipun mendapatkan serangan mereka kembali bangkit kemudian melanjutkan penyerangan dengan kondisi tubuh yang hancur.


Pasukan semut seperti zombie yang tidak merasakan sakit.


{Mereka masuk dalam mode Frezie} kata Arang yang kembali membaca pikiranku secara ilegal.


Mode Frezie yaitu fase dimana seseorang begitu marah hingga membuatnya gila. Dalam fase ini penderita tidak akan peduli dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Syaraf rasa sakit seakan telah mati karena satu-satunya yang dapat mereka pikirkan dan rasakan hanyalah mengamuk.


“Tebing ini akan menjadi bukit, lalu berubah lagi menjadi gunung.”


Tidak ada ketakutan yang terlihat pada wajah wizard itu. Dia justru terlihat seperti tengah bernostalgia ketika melihat pasukan semut yang hendak memakannya hidup-hidup.


“Pemandangan ini mengingatkanku dengan saat-saat terakhir menjadi utusan Dewa.”


“Kau terbunuh oleh pasukan semut?.”


“Ahahaha, bukan. Tapi cara semut-semut itu merangkak menaiki tebing sama seperti para iblis yang mencoba merangkak keluar dari retakan neraka.”


Jawaban Arang secara tidak langsung memberitahuku jika dia terbunuh saat melawat pasukan iblis. Kematiannya juga bisa diartikan sebagai akhir dari seratusnya sebagai utusan Dewa.


Aku sangat tertarik untuk mengetahui kehidupan Arang dahulu, namun saat ini aku harus bisa bertahan dari serangan para semut yang mencoba membalas dendam.


Pasukan semut semakin dekat, kurang dari satu menit mereka akan mencapai puncak tebing. Tetapi sebelum itu Arang segera melanjutkan rencananya ke fase kedua, fase dimana aku akan berperan penting.


***

__ADS_1


__ADS_2