
Kembang api meledak di langit, memperlihatkan warna indah bagaikan bunga yang bermekaran. Cahaya menyinari desa atas, tempat yang dipenuhi oleh keceriaan dan kegembiraan saat festival berlangsung.
Diatas podium yang dibuat ditengah desa, belasan Healer bernyanyi dalam paduan suara.
““Matahari jatuh menghujam sarang iblis, sang penghancur datang mengakhiri pertempuran....””
Lirik lagu yang para Healer nyanyikan berisi tentang cerita pertarungan kami melawan koloni semut raksasa. Itu sangat memalukan hingga aku ingin menutup telingaku dan menutupi wajahku menggunakan kantung kresek.
Berbeda denganku, Arang justru terlihat menikmati lagi yang dibawakan oleh para Healer. Suara tepuk tangan terdengar di seluruh desa saat para Healer mengakhiri pentas mereka.
Tidak peduli ras monster maupun manusia, Semua orang berbaur menikmati pesta. Meskipun kekhawatiran masih bisa dilihat pada wajah para pengungsi, tetapi aku percaya jika itu akan segera menghilang seiring waktu.
“Aku tidak mengira kau akan membuat banyak permainan di tempat ini.” aku mengomentari banyaknya kios permainan yang biasanya ada di taman hiburan.
“Aku mencoba membuat semua orang menikmati pesta.” Arang membalas saat tatapannya menerawang jauh, aku pikir dia sedang mengingat sesuatu yang terjadi di masa lalunya.
Kami berdua saat ini berada di balkon gedung Balai kota bersama Ratu Goblin dan kepala desa Buangan. Dari atas balkon kami dapat melihat masyarakat yang sedang merayakan festival ditengah desa.
“Aku tidak menyangka akan melihat suasana seperti ini lagi setelah bencana besar itu.” kata Pak Sugeng. Dia sangat berterimakasih pada Arang karena telah membantunya bertahan hidup setelah melarikan diri dari kota.
“Senang rasanya bantuan yang aku berikan berarti bagi anda dan semua orang.” Arang membalas sembari menyesap teh.
Dia terlihat begitu elegan, dari caranya mengambil cangkir hingga menempelkan pinggiran cangkir ke bibirnya.
Meskipun saat ini dia hanya seorang Villager, namun gerakannya yang begitu halus serta penuh etika membuat semua orang yang melihat begitu terpesona.
Dia layaknya seorang bangsawan yang penuh kehormatan. Goblone menatap Arang dengan penuh kekaguman kagum. Aku dapat melihat tulisan 'Dia adalah Ratu sejati' terukir di matanya.
Perhatian Arang kemudian beralih pada Goblone yang seketika membuat Ratu Goblin itu menjadi kaku. Kepanikan dan rasa cemas membuatnya begitu gugup saat berhadapan dengan Arang.
Arang memberikan senyuman yang tidak dapat aku pahami. “Kau terlihat sehat Goblone.”
__ADS_1
“Ah, iya yang mulia.” suaranya terbata bata karena kegugupan yang dia alami.
“Tapi kenapa aku merasa kau tidak mengalami perkembangan apapun? Bukankah sebelumnya aku berpesan padamu agar tidak malas?.”
Wajah Goblone seketika menjadi pucat seakan seluruh darah dalam tubuhnya telah terkuras. Goblin itu sangat panik hingga tubuhnya mulai menggigil.
Goblone tidak tahu apa yang harus dia katakan, selama tiga bulan terakhir dia memang kurang dalam melatih diri. Namun dia melakukan itu bukan karena malas tetapi ada alasan dibaliknya.
“Itu pasti karena Goblone lebih fokus melatih pasukannya bukan?.” aku masuk dalam pembicaraan.
“Oh sungguh?.” Arang menatapku seakan berkata ‘Dari mana kau tahu?’.
“Mungkin itu juga karena para Goblin melindungi desa kami.” kepala desa Buangan ikut memberikan alasan.
Aku pikir hubungan para Goblin dan manusia menjadi begitu baik di desa Buangan adalah karena pria tua ini.
Menurut pak Sugeng sekitar satu setengah bulan lalu beberapa manusia datang mengunjungi desa Buangan. Para warga menyambut mereka dengan ramah, awalnya semua berjalan baik-baik saja hingga para tamu itu menunjukkan wajah asli mereka.
Mendengar nama Genk Karbon membuat semua warga menjadi ketakutan, mereka ingat jika dahulu para bandit yang menyerang mereka setelah meninggalkan kota berasal dari Genk Karbon.
Para warga tidak mampu melawan hingga Genk Karbon dengan leluasa mengambil alih seluruh desa. Dibawah kendali Genk Karbon, para warga hidup dalam penderitaan.
Seluruh hasil panen yang merupakan cadangan makanan dirampas, sedang para warganya dipaksa bekerja keras tanpa diberikan makanan yang layak. Namun beruntung kekuasaan Genk Karbon tidak bertahan lama.
Lima hari setelah desa Buangan diduduki oleh Genk Karbon, pasukan Goblin yang datang untuk melakukan pengecekan dikejutkan dengan keadaan desa yang sangat memprihatikan.
Goblone yang beranggapan jika warga desa Buangan dilindungi oleh Arang akhirnya memutuskan untuk memberikan bantuan, hingga akhirnya pertempuran pun tidak bisa dihindarkan.
“Pertarungan itu terjadi begitu cepat. Pasukan goblin sarang bagaikan badai, terbang menggunakan papan seluncur, membasmi manusia jahat lalu membebaskan semua warga dari perbudakan.” Pak Sugeng bercerita dengan sangat bersemangat.
“Wah, bukankah itu cerita yang sangat menarik.” ucapku.
__ADS_1
“Sebenarnya tidak sehebat itu, tuan Sugeng hanya melebih-lebihkan saja.” bakas Goblone agak malu-malu.
“Jangan suka merendah seperti para sepuh. Aku yakin cerita pembebasan desa Buangan menang lebih baik dibandingkan cerita penaklukan koloni semut.” Arang ikut menimpali.
Mendengar ceritanya disandingkan dengan cerita kemunculan penjaga gunung membuat Goblone panik, dia segera bangkit dari tempat duduknya lalu berkata.
“I... itu tidak benar, tidak mungkin cerita tentang pasukan Goblin yang melakukan pembantaian terhadap Bandit lemah bisa disetarakan dengan kisah suci dewa perang dan penjaga gunung!.”
Goblone membantah dengan suara kencang hingga para warga yang sedang menikmati festival mendengar suaranya. Dia terlihat begitu panik hingga hampir menangis.
“Te.... tenanglah Goblone, kami hanya sedang bercanda.” aku mencoba menenangkannya dan memintanya kembali duduk.
Meskipun sebenarnya aku lebih setuju jika kisah Goblone yang diceritakan daripada cerita tentang diriku yang mengamuk. Alasannya sangat sederhana, yakni karena ceritakan terlalu memalukan.
“Tuan Sugeng boleh aku bertanya sesuatu padamu?.” tanyaku
“Tentu yang mulia, anda bebas bertanya dan aku akan menjawab dengan apa yang aku ketahui.” balas pak Sugeng.
Aku bertanya padanya tentang pemuda yang telah membangun rumah para warga menggunakannya blok dariku. Mendengar pertanyaan itu membuat raut wajah pak Sugeng menjadi begitu rumit..
“Apa ada yang terjadi pada pemuda itu?.” sikap psk Sugeng membuatku penasaran.
“Pemuda itu bernama Dirga, dia cucuku sendiri. Tiga bulan lalu dia pergi ke kota untuk mencari kejadiannya.” Pak Sugeng mengatakan informasi yang sudah aku ketahui.
“Lalu sekarang?...” aku berhenti dan berpikir lalu kembali melanjutkan, "Sampai sekarang tidak ada kabar darinya bukan?." Pak Sugeng mengangguk sebagai jawaban.
Pria tua yang usianya sudah mencapai enam puluh tahun itu menatapku dengan curiga, dia pasti bertanya-tanya kenapa aku mencari cucunya. Aku pun memberikan alasan yang sebenarnya aku jika ingin belajar beberapa hal dari pemuda itu.
“Belajar?.”
“Ya, aku yakin cucu anda memiliki pengetahuan tentang kotak-kotak ini.”
__ADS_1