System Play Store

System Play Store
72. Latihan


__ADS_3

Ketika kami sampai di Town Hall, aku mendapati tempat itu menjadi begitu ramai oleh berbagai jenis pasukan. Arang yang melihat kebingunganku pun menjelaskan jika setiap pergantian shift, para penjaga akan datang ke tempat ini untuk mendapatkan makanan.


Itu berarti Town Hall akan menjadi ramai seperti ini setidaknya dua kali sehari. Lalu bagaimana dengan persiapan makanannya?. Arang mengatakan jika keadaan dapur akan menjadi begitu sibuk karena banyaknya makanan yang harus disiapkan.


Karena penasaran aku pun pergi ke dapur untuk melihat keadaan tempat itu. Dan seperti yang Arang katakan jika tempat itu begitu kacau, Villager dan Healer yang bertugas mengurus dapur terlihat berkerja keras.


Di pojokan aku terus memperhatikan mereka bekerja sembari mengaktifkan kemampuan analisa. Aku mencoba merekam dan mempelajari cara para juru masak kantin desa kami bekerja.


Hasilnya sungguh diluar ekspektasi, hanya dengan memperhatikan mereka bekerja selama sepuluh menit aku sudah bisa ikut bergabung untuk memberikan bantuan.


Diawali dengan sekedar membersihkan piring, lalu memotong sayuran, hingga akhir ikut memasak. Meskipun ini adalah pertama kalinya aku memasak untuk orang lain tetapi tidak ada keraguan di kepalaku, semuanya berjalan begitu mudah, seakan aku sudah melakukan ini berkali-kali.


“Analisa dan Peniruan adalah dua kemampuan yang saling bersinergi. Aku hanya perlu melihat sekilas bagaimana mereka memasak, setelah itu dalam sekejap aku bisa menirunya.”


Pekerjaan di dalam dapur akhirnya berakhir setelah satu jam berlalu. Para wanita yang bertugas menyiapkan makanan setiap hari merasa terbantu oleh keberadaan ku. Mereka mengajakku untuk beristirahat bersama, tetapi aku menolak dengan alasan Arang tengah menungguku.


“Jadi kau bisa memasak sekarang?.” tanya Arang saat melihatku datang membawa makanan yang telah aku buat sendiri.


“Aku sudah pandai memasak bahkan sebelum keadaanku seperti ini.” balasku.


Pertama-tama aku meminta maaf padanya karena telah membuatnya menunggu, Arang mengatakan jika dirinya tidak mempermasalahkan hal itu. Dia bahkan berterimakasih padaku karena telah membantu para koki.


Saat makan malam kami membicarakan beberapa hal penting yang diantaranya adalah persiapan pesta, mencari solusi untuk melakukan pemanen dengan lebih efisien dan rencana pelatihan yang harus aku lakukan.


Untuk masalah pertama yakni persiapan pesta, Arang berencana memanggil banyak undangan dari koloni goblin dan desa para pengungsi. Rencana itu akan membutuhkan persiapan yang matang terutama tentang jamuan.


Pasokan makan yang kami miliki melimpah karena baru saja panen. Tetapi masalahnya semua itu merupakan bahan yang belum di oleh, saat ini kami masih belum memiliki teknologi untuk mengolah bahan makanan menjadi siap pakai sepatu tepung dan minyak.


Saat bekerja di dapur, aku juga melihat begitu sulit mendapatkan tepung, kami harus menggiling beras terlebih dahulu untuk mendapatkan bahan penting tersebut. Proses penggilingan beras sangat tidak efisien karena dilakukan secara manual.


“Kami berencana untuk mendirikan pabrik baru menggunakan alat-alat dari bekas pabrik baja yang telah kami simpan.” Arang menjelaskan rencana masa depan desa kami.


“Tetapi itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama.” tambahnya.

__ADS_1


Mungkin kami harus mengundurkan waktu perayaan karena masalah persediaan untuk jamuan. Ini sangat disesalkan tetapi tidak ada pilihan lain, ..... Kecuali.


“Jika seandainya kita memiliki pabrik, maka semuanya akan menjadi lebih mudah bukan?.”


“Kau benar, tapi saat ini kita tidak bisa membangunnya karena master Builder masih sibuk dengan penelitiannya. Tetapi jika...”


Arang menatapku dan aku melempar senyuman padanya, dia pasti mengerti apa yang sedang aku pikirkan.


“Apakah kau bisa melakukan sesuatu dengan kemampuan sistem yang kau miliki?.” tanya Arang penasaran.


“Entahlah, tetapi aku rasa ini patut di coba.” jawabku penuh keraguan.


Membuka menu status, aku melihat saat ini memiliki 2 kesempatan untuk melakukan putaran roda keberuntungan.


Aku berharap semua poin yang aku dapatkan setiap hari selama tiga bulan terkumpul. Tetapi sistem tidak mengizinkan itu karena semua poin yang tidak terpakai akan dihapuskan setiap harinya.


Tetapi bayangkan berapa banyak poin yang bisa aku kumpulkan selama tiga bulan. Mungkin dengan semua poin itu aku bisa melakukan gacha sepuasnya.


“Sudah waktunya, ayo berlatih.” ucapnya dengan sorot mata tajam.


Dia terlihat begitu berbeda dari saat siang hari, itu dikarenakan ketika malam kekuatan arang yang merupakan seorang Dedemit berjenis Leak meningkat pesat.


Kami berencana melakukan latihan untuk menguji kekuatan tubuhku yang baru, sekaligus untuk melihat sampai mana batas kemampuan yang aku miliki.


***


Tepat di tengah desa terdapat tanah lapang yang seluas lapangan sepak bola. Arang mengatakan jika dia berencana untuk membuat sebuah kolam air mancur sebagai landmark desa.


Tetapi dia segera mengurungkan niatnya karena berpikir menjadikan area itu sebagai tempat pertarungan seperti sebuah Colosseum akan lebih menguntungkan.


“Colosseum, kah? Ya aku rasa akan menyenangkan jika ada tempat seperti itu.”


“Benar bukan. Bayangkan banyak orang dari luar datang untuk melihat pertandingan manusia melawan naga.”

__ADS_1


Arang begitu bersemangat membayangkan desa ini semakin ramai dikunjungi oleh para pendatang. Tetapi kenapa aku merasa ada yang tidak beres, maksudku manusia melawan naga, bukankah itu hanya akan berakhir dengan pembantaian?.


“Tidak akan terjadi jika manusia itu adalah pahlawan.” ujarnya.


Para pasukan yang ingin melihat kami bertarung terus membuat keributan, area itu berubah menjadi begitu ramai. Meskipun Arang mengatakan jika kami hanya akan melakukan latihan, tetapi sepertinya para penonton menginginkan pertumpahan darah.


Penampilan Arang kini telah berubah, dia kini seperti seorang master bela diri. “Baiklah, datanglah kapanpun kau siap.” ucapnya dengan penuh percaya diri.


Aku pun melakukan hal yang sama seperti Arang, mengganti penampilan dengan jaket olahraga. Setelah itu aku pun bersiap untuk memulai latihan pertempuran.


Pengalaman ku dalam pertarungan cukup menjanjikan, karena dahulu saat masih sekolah aku sering menjadi sasaran perundungan.


Alasan mereka melakukan itu sangat sederhana, sebagai seorang yang tidak memiliki kedua orang tua, aku dianggap tidak akan berani melawan mereka karena tidak ada seorangpun yang akan melindungi ku.


Namun aku bukanlah tipe orang yang akan diam saja jika diinjak. Meskipun tahu resikonya aku tetap berbalik melawan para pengecut yang hanya berani pada mereka yang lemah dan selalu mengandalkan angka.


“Cukup meyakinkan.” kata Arang, sepertinya dia membaca pikiranku lagi.


Selesai melakukan persiapan, aku pun memasang kuda-kuda bersiap menyerang. Dengan sekuat tenaga aku melompat menuju Arang. Ledakan terjadi diikuti getaran kecil ketika kakiku menendang tanah.


Penglihatanku kabur karena bergerak begitu cepat, dalam waktu singkat aku sudah berada di depan Arang tetapi memiliki kemungkinan akan melewatinya karena pergerakan tubuhku tidak terkendali.


“Sial, aku terlalu kuat saat melompat!.”


Aku tidak tahu bagaimana cara mengendalikan diri dalam kecepatan setinggi itu, jika dibiarkan saja maka aku akan menabrak Arang.


Tetapi tiba-tiba kaki Arang menghantam dadaku hingga terpental ke belakang.


“Langsung menyerang begitu saja tanpa rencana. Kau sama saja seperti para siswa menengah atas yang suka tawuran.”


Seperti yang diharapkan dari Arang, dia bisa dengan mudah menghentikan aku yang lepas kendali. Pertarungan kami selanjutnya dipenuhi oleh kerja keras. Arang memintaku untuk menyerang sementara dia akan menahan setiap serangan.


****

__ADS_1


__ADS_2