
"Embakyu, Mommy!" Sesampainya di desa Buangan, aku langsung disambut oleh makhluk paling imut yang pernah aku temui, Regalia. Gadis kecil dengan rambut putih dan dua tanduk di kepalanya itu segera berlari ke arahku, memancarkan aura keceriaan yang tak terbendung.
"Alia!" seruku sambil tersenyum lebar. Aku meraih Regalia dan menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Diantara semua anak-anak yang aku temui, hanya Regalia yang tidak takut akan keberadaan-ku. Gadis naga ini seakan tidak terpengaruh oleh efek karma negatif yang aku miliki.
Sebelumnya, Arang sudah memberitahuku bahwa pengaruh karma negatif akan berbeda-beda pada setiap orang, tergantung usia dan ras mereka. Karma dapat dirasakan sebagai peringatan yang menandakan tingkat bahaya seseorang. Namun, Regalia tampaknya tidak terpengaruh olehnya, membuatnya menjadi sosok yang istimewa di mataku.
"Embakyu, kenapa kok bajunya jadi beda?" tanya Regalia dengan rasa ingin tahu yang khas. Ia menunjuk ke jubah kuning lusuh yang kini menggantikan jas hujan kuning yang biasa aku kenakan.
Aku tersenyum kepadanya, lalu menjelaskan bahwa bajuku menjadi rusak karena pertarungan dengan beberapa orang jahat yang menyerang-ku. Regalia mendengarkan dengan antusias dan menyimpulkan bahwa pakaianku rusak karena perlawanan heroik yang aku tunjukkan.
Mendengar cerita itu, Regalia memperlihatkan kekesalannya terhadap anggota Genk Karbon dan pasukan sekte Gogo Gread yang menjadi pihak antagonis dalam cerita yang aku ceritakan padanya. Ia menggemaskan saat membayangkan mereka mendapatkan hukuman yang pantas atas perbuatannya.
[Hukum yang pantas, huh? Ya tentu saja kau merubah mereka semua menjadi mutan]
Sistem menyindirku, tapi abaikan saja suara di kepalaku itu sebagai bisikan jahat.
[......]
Aku terus menemani Regalia bermain disekitar desa, menciptakan dunia imajinasi yang penuh petualangan dan keajaiban. Sementara itu, Arang mengurus para budak yang baru saja kami bebaskan. Dia melakukan perundingan dengan kepala desa Buangan, Pak Sugeng, untuk memastikan bahwa penduduk desa menerima kehadiran mereka dengan tangan terbuka.
Pemimpin dan penduduk desa Buangan ternyata tidak segan menolong mantan budak. Mereka merasa tergerak untuk memberikan bantuan dan perlindungan kepada mereka, terutama karena sebagian besar dari para budak adalah anak-anak yang tidak berdosa. Mereka juga merasakan penderitaan yang sama ketika berada di kota.
Meskipun masalah makanan tidak menjadi kekhawatiran, karena Arang telah menyediakan persediaan makanan, kami masih perlu mencukupi kebutuhan sandang dan papan para budak. Sebagian besar pakaian yang mereka gunakan sudah tidak layak pakai, penuh dengan noda dan sobekan.
__ADS_1
Aku bahkan melarang Regalia untuk bermain dengan anak-anak budak, khawatir bahwa penampilan mereka yang kotor dan lusuh akan membahayakan kesehatannya. Meski Arang meyakinkanku bahwa tidak mungkin seorang anak naga sakit hanya karena bermain dengan anak-anak berpenampilan lusuh, tetapi aku tetap ingin melindungi adik kecilku yang sangat berarti bagiku.
Selain itu, kami juga menghadapi tantangan dalam mencari tempat tinggal yang layak bagi para budak. Para Builder dengan sigap membangun rumah-rumah untuk mereka, namun perabotan seperti tempat tidur masih menjadi kekurangan yang harus kami atasi. Inilah saat dimana aku kembali diingatkan akan pentingnya menemukan pemuda bernama Gibran, yang akan mengajariku lebih baik tentang Mining Craft .
Setelah semua urusan para budak selesai, kami pun pulang menuju desa Wesiabang dengan menggunakan balon udara. Saat balon semakin tinggi terbang, pandanganku terpaku pada puncak gunung Diraksa. Rasa penasaran memenuhi pikiranku, menggelitikku untuk mengeksplorasi apa yang ada di puncak gunung itu.
Aku menceritakan tujuan pasukan sekte Gogo Gread yang ingin mendaki puncak gunung pada Arang yang tengah menggendong Regalia yang telah terlelap di pelukannya. Gadis naga itu pasti lelah setelah bermain seharian.
Arang juga merasakan hal yang sama denganku, dan keinginannya untuk melanjutkan eksplorasi di area gunung semakin membara. Namun, kegiatan di desa sudah menyita sebagian besar waktunya.
[Author: maaf kebanyakan kata 'yang']
"Andai saja ada seseorang yang memiliki waktu luang untuk membantuku," ujar Arang dengan nada sindiran. Dengan tanpa perasaan Aku memilih untuk mengabaikannya, ini memang sulit. Meskipun aku bisa menciptakan banyak bawahan dengan jumlah hampir tanpa batas, tetapi sebagian besar masalah hanya bisa kami berdua yang menanganinya.
Arang memberitahuku jika Town Hall kini sudah diupgrade ke level 8. “Town Hall 8 jika tidak salah pleton yang terbuka ditingkat itu adalah seorang wanita dengan Kampak, manusia batu dan kesatria robot” aku sangat bersemangat ingin melihat kekuatan tiap pleton baru.
"Hog Rider!" terdengar seruan dari dalam hutan dekat desa Wesiabang. Itu adalah suara yang digunakan oleh pleton pengendara Hog untuk berkomunikasi.
Meskipun hanya terdiri dari dua kalimat, tetapi memiliki banyak makna. Seperti contohnya yang baru saja aku dengar, mereka memberitahu pada Rider lain jika kepala desa dan Tuan mereka telah kembali.
Balon udara tidak lagi mendarat di tengah desa seperti yang selalu dilakukan sebelumnya. Dengan alasan ketertiban dan keamanan.
"Mungkin di masa depan stasiun itu bisa kita gunakan untuk tempat pemberhentian Airship," ungkap Arang.
__ADS_1
Airship, sebuah elemen penting dalam dunia fantasi. Aku yakin semua orang pasti pernah berpikir seandainya ada kendaraan terbang yang lebih efisien dari sebuah pesawat maupun helikopter. Jawabannya kalau bukan mobil terbang pasti kapal terbang.
Kami akhirnya sampai di desa, banyak warga mengenakan pakaian biru dari bunker berkeliaran di sekitar desa, membaur dengan penduduk lainnya. Keberadaan mereka membuatku merasa sedang memainkan sebuah game yang baru saja dirilis sehingga para pemain masih mengenakan pakaian default.
Perhatianku segera terfokus pada seorang raksasa yang bukan dari pleton Giant, "Ah, aku lupa tentang pria besar itu," ucapku begitu menyadari jika raksasa yang aku lihat menang bukan Giant melainkan raja dari para Barbarian.
Arang meninggalkan aku untuk mengantar Regalia tidur di kamarnya. Aku sendiri pergi ke arena pelatih prajurit untuk melihat perkembangan peningkatan Barak, setelah selesai meningkatkan Town Hall, saat ini giliran barak biasa maupun barak kegelapan yang dalam proses peningkatan.
Semakin lama keadaan di desa semakin ramai sehingga pelebaran desa semakin meningkat. Jika dibiarkan seperti ini terus lama, desa ini akan menjadi sebuah kota.
"Kami mungkin perlu merencanakan pembangunan dalam skala yang lebih luas."
Setelah Arang mengantar Regalia ke tempat tidur, dia memintaku menemuinya di dalam bunker untuk melakukan perencanaan desa ke depannya. Ternyata masalah overpopulasi telah menjadi masalah yang lebih serius dari yang aku duga.
Arang menyarankan padaku untuk memisahkan beberapa jenis pleton dari desa, seperti goblin yang kini telah bergabung dengan pasukan Goblone. Arang menyarankan aku memindahkan pasukan Barbarian yang kini sudah memiliki pemimpin untuk membuat koloni baru.
"Itu berarti setiap Pasukan yang memiliki pahlawan akan dipisahkan dari desa?" ucapku. Rasanya berat meminta pleton yang telah berjasa besar harus diusir dari desa.
"Tindakan ini bukan hanya mencegah overpopulasi, tetapi juga untuk meningkatkan pertahanan wilayah desa," Arang menerangkan rencananya jika alam menempatkan koloni Barbarian di tempat yang strategis.
Tetapi rencana ini tentu tidak akan berjalan dengan mudah karena keterbatasan tenaga kerja untuk membangun tempat di mana para Barbarian akan tinggal.
"Lia, kau harus mempercepat rencana pencarian pemuda itu," ucap Arang.
__ADS_1
Ya, aku pikir memang telah membuang banyak waktu untuk bermain. Besok aku harus sampai di kota tidak peduli apa.