System Play Store

System Play Store
47. Membangun Rumah


__ADS_3

Saat semua orang tengah bekerja membantu dalam menyiapkan bahan makanan. Arang mengambil perapian yang sebelumnya telah di buat oleh Aurelia dari dalam tasnya.



Perapian berbentuk kotak awalnya hanya sebentar telapak tangan, namun begitu dilempar ke tanah kotak itu dalam sekejap membesar seukuran satu meter persegi.



Semua orang yang melihatnya begitu terkejut, mereka yang tidak melihat Arang melempar kotak ditangannya akan berpikir jika perapian kotak tiba-tiba muncul begitu saja.



‘Bagaimana kotak sebesar itu bisa muncul begitu saja dari kotak yang begitu kecil?, Apa itu teknologi nano atau semacamnya.’



Gary yang memiliki ketertarikan dengan dunia teknologi merasa jika apa yang baru saja digunakan oleh Arang adalah sebuah alat dengan teknologi canggih.



Pemuda itu menjadi begitu penasaran dengan alat kotak yang mirip dengan perapian di game Mining Craft tersebut.



‘Benar juga, bukankah benda itu memang sangat mirip seperti perapian di game Mining Craft?.’



Gary terus memperhatikan dari kejauhan, hingga Pak Sugeng memintanya agar berhenti menatap Arang karena takut membuat wanita itu tersinggung.



‘Ah, mungkin desainer alat itu memang suka bermain Mining Craft.’



Gary sadar jika perapian itu menang alat yang sama seperti perapian di game yang dulu sangat suka dia mainkan. Tetapi tidak mungkin jika sebuah item dalam game yang merupakan sebuah data komputer bisa di aplikasikan di dunia nyata.



Memilih untuk mengabaikan perasaan janggalnya, Gary kembali membantu para tetua membersihkan daging.



Bau harum tercium semerbak di area api unggul membuat perut semua orang semakin terasa lapar. Tidak lama kemudian Arang menyelesaikan masakannya, lalu mereka pun makan bersama.



Setiap pasukan juga ikut makan dengan para pengungsi. Beberapa orang terlihat heran karena berpikir jika wajah setiap orang ada yang terlihat mirip. Namun mereka tidak terlalu memperdulikan karena rasa enak masakan arang membuat mereka sibuk.



Selain makan, diskusi kembali berlanjut. Kali ini para tetua akhirnya akan memberikan keputusan mereka.



“Merasakan kebaikan hati nona Arang, membuat kami sangat tersentuh...”



Ucap Sugeng yang menjadi perwakilan kelompoknya.



“Itu bukan apa-apa, aku sangat senang jika semua orang menyukai masakan ku.” balas Arang.



“Tentu, masakan buatan anda begitu luar biasa.” puji Pak Sugeng.



Tetua itu pun mulai berbicara serius tentang keputusan setiap orang mengenai apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.



“Keputusan dari tawaran yang anda berikan untuk menerima bantuan mendirikan tempat tinggal atau menolak dan kembali ke kota. Kami memutuskan bahwasanya akan menerima bantuan dari anda.”



Setiap orang kemudian menundukan kepala di depan Arang.



“Mohon bantuannya nona. Kami para orang tua mungkin tidak banyak berguna, tetapi kami pasti akan berusaha keras untuk membayar semua kebaikan anda jika diberi kesempatan.”


__ADS_1


Ini bukan pertama kali bagi Arang mendapatkan perlakuan seperti ini. Selama tugasnya menjadi utusan Dewa, membuat arang sering menolong manusia yang sedang kesulitan.



Mungkin kerena kebiasaan Arang di kehidupan sebelumnya membuat dia ingin sekali membantu orang-orang ini.



Setelah keputusan dibuat, jika mereka akan tinggal di kawasan kaki gunung. Semua orang pun mulai bekerja sama untuk membangun rumah tempat tinggal sementara.



Pasukan Barbarian menggunakan kapak saat membersihkan area disekitar dari pepohonan dan batu. Sedangkan para Builder mengolah kayu yang telah ditebang menjadi material bangunan.



Para tetua saling bahu membahu membangun rumah di are dekat api unggun. Gary begitu sibuk saat membantu mengangkat balok kayu berukuran besar.



Tiga jam berlalu, mereka baru saja selesai membuat pondasi. Selanjutnya membangun kerangka, namun Arang menghentikan semua orang saat melihat Ballon yang turun dari atas gunung.



Arang merasa kecemasan saat melihat pasukan balon tersebut. Dia khawatir jika terjadi sesuatu di pabrik, hingga Aurelia mengirim pasukan balon untuk menit bantuan.



Tetapi Arang bernafas lega ketika tahu jika kedatangan pasukan balon hanya untuk mengantar para Goblin.



Semua orang terkejut saat melihat Arang berbicara dengan sosok yang mereka anggap sebagai monster.



“Apa, ada kiriman untukku?.”



Gugii!.



Para Goblin segera membuka karung goni yang mereka bawa untuk mengeluarkan semua item yang tersimpan di dalamnya. Seketika kotak-kotak kecil dalam jumlah besar dikeluarkan dari dalam karung.




Arang terdiam begitu seluruh item yang keluar dari karung goblin jumlahnya begitu banyak, sampai-sampai menutupi seluruh area yang dibersihkan.



Setelah menjalankan tugasnya, para Goblin pun kembali menggunakan Balon udara tanpa peduli dengan masalah yang baru saja mereka buat.



“Ya ampun apa apaan sih ini.”



Arang mengambil satu blok lalu melemparnya ke tanah, blok yang kecil seketika berubah menjadi lebih besar seperti perapian sebelumnya, namun blok itu hanya sebuah potongan kayu berbentuk kotak.



“Untuk apa Aurelia memberikan benda ini dalam jumlah besar?.” Arang merasa tidak membutuhkan blok seperti itu dalam jumlah besar.



Tetapi berbeda dengan Gary yang merasa penasaran karena semua blok yang dikirim oleh para goblin jelas adalah item dari game Mining Craft yang sangat dua gemari.



“Nona Arang, bolehkah aku bertanya?.”



Arang melirik Gary sebentar lalu mempersilahkan dia berbicara.



“Aku rasa bisa menggunakan seluruh blok ini untuk membangun rumah.”



Perkataan pemuda itu sontak menarik perhatian Arang. Ini kesalahannya karena membiarkan para Goblin pulang sebelum meminta penjelasan. Akibatnya dia tidak tahu apa pun mengenai semua material yang Aurelia berikan.

__ADS_1



“Semua ini adalah hasil dari eksperimen temanku. Dia begitu tergila-gila dengan game hingga menciptakan item aneh seperti ini.”



Arang tentu tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada sembarang orang. Karena itu dia membuat alasan jika semua item didepan mereka adalah hasil dari penelitian sains berteknologi tinggi.



Gary mengangguk saat mendengarkan penjelasan Arang. Dengan ini menjelaskan jika dugaannya menang benar seluruh blok adalah item dari game Mining Craft.



‘Tapi eksperimen seperti apa yang dilakukan oleh teman nona Arang hingga mampu merealisasikan teknologi game ke dunia nyata.’



Gary mengambil blok berwarna abu-abu, saat dua melemparnya seketika berubah menjadi batu berbentuk kotak.



Untuk memastikan apakah itu benar-benar batu, Gary memukul kotak itu menggunakan pemukul tingkat, hasilnya tangannya merasa begitu kesakitan karena dampak dari memukul benda keras.



“Ini nyata.” ucapnya sambil menahan rasa sakit di telapak tangan.



Senyuman melebar di wajah Gary, dengan seluruh blok di depannya, dia berpikir jika bisa mendirikan sebuah rumah bahkan sebelum matahari terbenam.



Gary dengan cepat bekerja, dia mengambil berbagai macam kotak lalu mulai menyusunnya. Semua orang hanya melihat apa yang pemuda itu lakukan, blok demi blok di dusun membentuk kerangka rumah.



Anak-anak yang melihat Gary membangun rumah seperti sedang bermain, membuat mereka senang. Sementara para tetua tidak yakin dengan apa yang Gary buat benar-benar bisa ditinggali.



Mereka tidak yakin apakah bahan yang digunakan untuk membangun benar-benar kuat karena Gary terlihat tidak membutuhkan perekat seperti semen maupun paku untuk memperkuat setiap komponen.



Tetapi saat pak Sugeng mencoba untuk mendorong sebuah tiang yang terdiri dari susunan blok kayu, yang terjadi justru seluruh tiang itu rubuh sepenuhnya seakan seluruh blok telah menjadi satu.



Melihat jika Gary seorang diri bisa mendirikan rumah, Arang pun mengerahkan semua orang untuk mengerjakan hal lain seperti mendirikan tembok atau membangun lahan pertanian.



Beberapa jam pun berlalu, Gary mengelap keringat di dahinya. Senyumnya melebar saat melihat di depannya sebuah rumah besar berdiri kokoh begitu indah seperti sebuah maha karya.



Setidaknya itulah yang dia pikirkan, namun berbeda dengan para tetua yang merasa rumah yang dua buat begitu berantakan karena sebagian besar terdiri dari kotak-kotak.



“Yah, seolah kita bisa membuat rumah lebih cepat dari ini.”



Meskipun tampilan rumah yang Gary buat berantakan, tetapi seluruh fungsi di dalamnya bekerja dengan baik. Banyak kamar yang bisa ditinggali, kamar mandi dan toilet, serta dapur dan ruang makan yang sangat luas.



Gary membangun rumah itu begitu besar dengan tujuan bukan hanya untuk ditinggali oleh kelompoknya saat ini, tetapi dia juga berniat untuk mengundang orang-orang yang masih berada di kota untuk tinggal di tempat ini.



“Kita akan membangun semuanya lagi dari awal.”



Melihat cakrawala yang mulai gelap, Gary dipenuhi akan hari esok yang lebih baik.



\*\*\*



(Bersambung)

__ADS_1



__ADS_2