
Goa tempat ratu semut bersarang mengalami getaran tanpa henti, seakan akan ada raksasa yang sedang berjalan di atas sarang semut tersebut.
Setelah kepergian Aurelien yang berusaha membesarkan tubuhnya dengan cara menahan semut-semut di luar. Arang dapat merasakan kekhawatiran dari Ratu semut, dia merasa jika ibu dari para semut raksasa tidak begitu memperhatikan keberadaannya serta pasukan yang semakin mendekat.
“Dia sedang fokus melihat keadaan di luar.” pikir Arang.
Dugaan Dedemit itu tidak salah karena saat ini Ratu semut menang tengah berbagai penglihatan dengan salah satu anaknya yang berada di luar sarang. Tetapi Arang tidak tahu apa yang Ratu semut itu lihat hingga membuatnya mulai menunjukkan emosi kemarahan.
“Mungkinkah Lia mengakibatkan kerusakan besar pada para semut di luar?, Namun melihat banyaknya pasukan semut itu... hemm, terlalu sedikit info yang aku ketahui tentang kekuatan Lia sehingga terlalu cepat untuk berasumsi.”
Perhatian Ratu semut yang terbagi telah memberikan kesempatan besar bagi Arang untuk melakukan serangan. Pasukan Arang akhirnya menghadapi pemimpin pasukan semut secara langsung.
Meskipun perisai sihir melindungi ratu semut tetapi mereka terus melancarkan serangan. Satu persatu pasukan mengalami luka akibat serangan mereka sendiri yang dipantulkan, tetapi tidak ada satupun yang berhenti.
“Sergio, gunakan hembusan musim dingin!.”
Sekali lagi Arang memberikan perintah pada serigalanya untuk memanggil angin dingin seperti sebelumnya.
Angin dingin bertiup kencang membuat perisai yang melindungi Ratu semut menjadi berembun karena menjadi dingin. Tetapi Ratu semut masih terlihat baik-baik saja.
“Jika kau berpikir aku berencana membekukan mu dengan serangan itu, maka kau salah.”
Berikutnya arang memerintahkan para Wizard melakukan serangan serempak dengan bola api, namun bukan untuk menargetkan ratu secara langsung melainkan tanah di sekitarnya.
Bola api yang dilemparkan terus menerus membuat area sekitar Ratu semut terbakar, itu membuat suhu semakin memanas.
Ratu semut masih tetap baik-baik saja di dalam perisai, bahkan dia tidak merasakan apapun dari semua serangan yang pasukan Arang coba lakukan.
Ratu semut mulai berpikir jika musuh-musuhnya mulai menyerah sehingga melakukan serangan secara asal.Tetapi monster itu tidak tahu jika rencana arang sudah sesuai dengan yang dia inginkan.
“Pertanyaan kecil. Apa yang terjadi jika gelas dingin tiba-tiba dipanaskan?.”
Ratu semut tidak mengerti apa yang Arang bicarakan, hingga sebuah retakan kecil tiba-tiba muncul di perisainya, retakan itu dengan cepat membesar hingga memenuhi seluruh bagian perisai.
Arang tersenyum melihat rencananya berhasil, tidak ingin kehilangan kesempatan dua pun segera melempar tombaknya yang telah dilapisi sihir cahaya ke arah Ratu semut.
__ADS_1
“Rise for Glory!.”
Kilatan cahaya dengan cepat melesat kearah ratu semut, perisai yang retak kini dengan mudah di hancurkan. Jeritan keras Ratu semut akhirnya terdengar, membuat Arang tersenyum dengan begitu bahagia.
“Untuk waktu yang lama, akhirnya aku bisa merasakan lagi perasaan kemenangan seperti ini.”
Meskipun Ratu semut belum terbunuh, tetapi luka yang diakibatkan oleh lemparan tombaknya begitu parah, sehingga Arang yakin jika tidak akan banyak yang bisa dilakukan Ratu semut untuk bertahan bahkan mencoba melakukan serangan balik.
“Ini adalah kemenangan kami... Wat the hek!.”
Keyakinan Arang segera runtuh begitu Ratu semut tiba-tiba mengeluarkan sayap dari punggungnya. Meskipun luka yang dia derita begitu parah, tetapi ratu semut tidak akan menyerah begitu saja.
Ratu semut berencana untuk kabur menuju area luar di mana jutaan anak-anaknya berada. Jika dia berhasil bersatu dengan mereka maka Ratu semut akan terhindar dari maut.
Mengetahui rencana Ratu semut membuat Arang menjadi panik. Dua berusaha keras untuk menjatuhkan ratu semut namun semua usahanya berakhir sia-sia.
“Bagaimana makhluk sebesar itu bisa terbang begitu cepat?.” ucap Arang saat mencoba mengejar Ratu semut.
Sepanjang pengerjaan di dalam lorong goa, Arang merasa keanehan karena tidak melihat satupun Semut, bahkan potongan tubuh serangga pun tidak ada.
“Apa Lia memakan mereka semua hingga tidak bersisa?.”
“Aku harap dia baik-baik saja.”
***
Ratu semut berusaha menyelamatkan diri, eskipun beberapa kali mendapatkan serangan dari pasukan Goblone yang mengejarnya, tetapi Ratu semut pada akhirnya berhasil bertahan hingga keluar dari sarang.
Namun bukan jutaan semut menyambut kedatangannya seperti yang Ratu semut bayangkan, tetapi justru tekanan yang begitu kuat menghantam tumbuh hingga terjatuh.
Ratu semut tidak mengerti, tubuhnya menjadi begitu berat, dia bertanya dalam hati kemana perginya semua anak-anaknya yang seharusnya memenuhi seluruh area sarang.
‘Apakah mereka kabur?.’ pikir Ratu semut, namun itu tidak mungkin karena tidak akan ada satupun monster yang bisa menakuti pasukan semut sebanyak itu.
Kecuali...
__ADS_1
Grooor!.
Auman keras membuat udara dan bumi bergetar, seluruh tubuh Ratu semut ikut bergetar hebat, dia merasa begitu lemas seakan seluruh kekuatannya tersedot keluar setelah mendengar auman mengerikan barusan.
Ratu semut tidak mampu berdiri, keenam kakinya tidak mampu menopang tubuhnya karena terus bergetar karena perasaan ketakutan. Perasaan takut itu semakin besar hingga Ratu semut hampir pingsan karena ketakutan.
Getaran di bumi semakin kuat dengan diriku perasaan khawatir yang semakin tidak terkendali. Ada sesuatu yang berada di dalam tanah. Sesuatu yang begitu menakutkan hingga Ratu semut pun tidak berani untuk bergerak karena terlalu takut takut, dia khawatir makhluk itu akan menyadari keberadaannya.
Getaran semakin kuat, hingga ledakan terjadi di dekat Ratu semut yang tengah merunduk. Sesosok makhluk tidak diketahui keluar dari dalam bumi, ukurannya begitu mencengangkan, memiliki bentuk tubuh seperti ular namun tidak memiliki kepala.
Makhluk dengan ukuran besar itu terus naik ke atas dengan mulut terbuka lebar. Panjangnya tidak bisa diperkirakan karena masih bergerak ke atas melewati ketinggian seratus meter namun masih bergerak ke atas.
Seakan makhluk itu hendak memakan bukan di atasnya.
Hingga sampai pada ketinggian 350 meter lebih, makhluk itu akhirnya berhenti bergerak ke atas. Posisi itu bertahan selama beberapa saat. Suara Auman penuh kemarahan datang dari makhluk itu, dia seakan marah karena panjang tubuhnya tidak berhasil mencapai bulan.
Mulutnya yang mengerikan terbuka lebar untuk menghisap semua yang ada diatasnya, berharap satelit alami bumi dapat tertarik masuk kedalam mulutnya.
Terjadi badai hebat begitu makhluk itu mulai menghisap, hingga seluruh awan di langit dibersihkan, bebatuan dan pepohonan pun ikut terbang masuk kedalam mulut monster itu.
Ratu semut berusaha sebisanya untuk bertahan tetapi tanah yang dia pijak mulai terangkat naik menuju mulut makhluk itu. Dengan putus asa Ratu semut mencoba terbang menjauh tetapi usahanya sia-sia karena tarikan dari daya hisap terlalu kuat untuk dilawan.
Dalam keputusan Ratu semut melakukan usaha terakhirnya untuk mempertahankan diri dengan melindungi dirinya mudeng perisai sihir. Hingga akhir ratu semut masuk kedalam mulut monster yang terlihat seperti jurang tanpa dasar.
“Aurelia, apa itu benar-benar dirimu?.”
Arang hampir tidak dapat mengatakan apapun saat melihat cacing raksasa di depannya. Dia menyaksikan apa yang terjadi pada Ratu semut. Sebanyak apapun dia mencoba untuk memahami situasinya, namun dia tidak berhasil menemukan jawaban.
‘Bagaimana dua bisa menjadi begitu besar seperti itu. Apa mungkin World Serpent memberinya kekuatan?.’
Wujud dari Aurelia saat ini mengingatkan Arang pada sosok Titan yang memiliki wujud ular raksasa. Panjang dari tubuh ular Titan itu bahkan bisa mengitari bumi.
Aurelia akhirnya berhenti menghisap udara, sepertinya dia mulai sadar jika sekuat apapun dia berusaha tidak akan pernah bisa menggapai bulan di atasnya.
Menyadari itu membuatnya begitu marah, gunung berguna hebat ketika dia mengamuk. Hingga suara Arang terdengar di kepalanya.
__ADS_1
***