System Play Store

System Play Store
117. Gagak Api


__ADS_3


Pasukan sekte Gogo Gread melancarkan serangan terhadap pasukan zombie. Anggota sekte yang terlatih dengan baik menyerbu, menggunakan pedang dan tombak untuk menebas dan menikam mayat hidup yang bergerak lamban. Pertempuran terlihat mudah, namun sebenarnya tidaklah demikian. Setiap kali seorang zombie terluka, dari luka tersebut muncul cacing-cacing berbahaya. Cacing-cacing ini berbeda dengan cacing besar yang memiliki gigitan mematikan dan keluar dari leher zombie.


Cacing-cacing yang muncul dari luka pada tubuh zombie lebih kecil namun panjang seperti tentakel. Yang membuat mereka berbahaya adalah ujung cacing yang sangat tajam dan gerakannya yang cepat, menjadikannya seperti cambuk yang mematikan.


Zrat!


"Aaaaargh!"


Zrat!


"......"


Anggota sekte lainnya menjadi korban saat terkena cambukan cacing tersebut. Salah satunya terkena di lengannya, mengakibatkan luka parah. Rasa sakit membuatnya kehilangan fokus pada lawannya, sehingga tidak menyadari ketika cambukan berikutnya mengarah ke lehernya.


"Sialan!"


Yoga marah karena kehilangan salah satu prajurit yang telah dilatih dengan susah payah. Prajurit tersebut memiliki kekuatan setara dengan 20 manusia biasa, yang telah membuat nama sekte Gogo Gread menjadi terkenal. Namun saat ini mereka sedang dibantai oleh sekelompok zombie aneh.


"Ini bukan lelucon. Apa yang kau lakukan, Endar? Apa kau sedang tidur?!" dengan marah, Yoga memarahi Endar yang masih belum bergabung dalam pertempuran.


"Sabarlah! Kau pikir memanggil binatang sihir itu mudah!" balas Endar.


Mendengar perkataan rekannya membuat Yoga semakin kesal. Dia sebelumnya berpikir bahwa selama mereka memiliki pasukan kesatria, kehadiran Endar tidaklah penting. Namun, zombie-zombie yang mereka hadapi saat ini membuktikan bahwa pemikiran tersebut salah besar.


Yoga dihadapkan pada kenyataan bahwa di dunia baru ini, tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan kekuatan fisik semata.


Screeee! Salah satu zombie dengan cacing besar di lehernya mencoba menggigit kepala Yoga, namun pemimpin pasukan ini berhasil menghindar dengan sejengkal. Mata Yoga melebar karena tidak percaya bahwa ia berhasil menghindari serangan cacing yang begitu cepat. Namun, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, jadi Yoga segera menebas leher cacing tersebut.

__ADS_1


Jrasss! Pedang besar Yoga memenggal cacing yang keluar dari potongan leher zombie, membuat tubuh mayat hidup itu terjatuh dan tak bergerak lagi. Yoga tetap waspada terhadap zombie tersebut, khawatir bahwa mayat itu bisa hidup kembali. Namun, setelah menunggu cukup lama...


"Dia mati?" Yoga sulit mempercayai bahwa zombie yang selalu hidup kembali, seberat apapun lukanya, ternyata bisa mati. Yoga merasa senang karena akhirnya menemukan titik lemah dari zombie yang dikendalikan oleh cacing parasit.


"Dengar baik-baik, titik lemah dari monster-monster ini adalah..." Yoga terhenti ketika melihat api berkobar tinggi di langit.


Kwak! Terdengar suara keras, dan dari kobaran api muncul seekor gagak hitam berukuran besar.


"Akhirnya aku berhasil!" seru Endar dengan bahagia. "Ini adalah binatang sihir tingkat Menengah dengan elemen api. Dengan adanya gagak luar biasa ini, semua zombie pasti akan terbakar hingga menjadi abu," pungkas Endar.


"E... sebenarnya aku sudah mengetahui titik lemah para zombie..."


"Crow Fire maju!"


Yoga ingin memberitahu Endar bahwa dia sudah mengetahui titik lemah zombie, sehingga Endar tidak perlu turun tangan. Namun, Endar terlalu bersemangat setelah berhasil memanggil makhluk sihir tingkat menengah untuk pertama kalinya.


Masih di dalam kantor pemimpin pabrik, Aurelia mantap ke luar jendela menyaksikan kobaran api yang kemudian berubah menjadi seekor burung gagak besar.


Melihat kemunculan burung dari kobaran api, dengan yakin Aurelia menyadari bahwa binatang sihir itu memiliki kemampuan menggunakan elemen api yang menjadi kelemahan cacing miliknya.


"Meskipun aku bisa bertahan dengan asam lambung Seekor Naga, tapi tidak dengan api," gumam Aurelia. Sebelumnya, dia telah melakukan berbagai penelitian tentang kemampuan yang dimiliki oleh Avatar cacing sekaligus mencari tahu kelemahannya.


Dalam penelitiannya, dia menemukan bahwa elemen api adalah masalah terburuk yang dihadapi oleh semua jenis cacing. Little Ware Wurm adalah satu-satunya cacing yang memiliki ketahanan terbaik melawan api, tetapi tetap saja itu tidak akan bertahan lama.


Kwak! Dari langit, kobaran api menghujani semua zombie, membuat area di sekitar kawanan mayat hidup dilahap oleh kobaran api. Banyak zombie yang terbunuh oleh serangan itu, namun masih ada beberapa yang tetap bertahan.


Zombie-zombie yang terbakar sebagian hanya berupa potongan tubuh, sedangkan tubuh utama mereka masih bisa mempertahankan diri dari kobaran api karena cacing parasit telah memperkuat kulit mereka hingga sekeras batu yang merupakan keahlian Avatar cacing Little Ware Wurm.


"Hmm, melihat gagak itu membuatku teringat akan burung menjengkelkan yang pernah membunuhku tiga bulan lalu," kata Aurelia tanpa sedikitpun kekhawatiran, meskipun pasukan zombie miliknya sedang dalam keadaan terdesak, tetapi dia terlihat begitu tenang.

__ADS_1


Pasukan dari sekte Gogo Gread bersorak gembira saat melihat semua zombie terbakar dalam kobaran api. Mereka yakin bahwa serangan dari makhluk sihir yang Endar panggil akan memusnahkan monster-monster itu.


Sementara itu, Yoga merasa kesal karena informasi penting tentang kelemahan zombie yang telah dia dapatkan akan terbuang percuma.


Grooor! Tiba-tiba terdengar suara auman yang begitu keras, sehingga semua orang yang mendengarnya merinding ketakutan. Mendengar informasi itu, membuat Aurelia tersenyum lebar.


"Rise, my boy," ucapnya seakan berbicara dengan seseorang.


Setiap anggota sekte mencari sumber auman yang sebelumnya mereka dengar, namun suara yang begitu keras membuat mereka sulit menentukan sumbernya.


"Lihat!" seru salah satu anggota sekte sambil menunjuk ke arah kobaran api.


Terlihat sosok tinggi besar berdiri di sisi lain kobaran api. Melihat penampilannya, semua orang bisa tahu bahwa sosok itu juga seorang zombie, tetapi berbeda dengan zombie-zombie yang telah mereka lawan sebelumnya.


Dengan postur tubuh tinggi besar dan banyak benjolan di seluruh tubuhnya, sosok itu terlihat sangat mengerikan. Itulah Big Jek, yang akhirnya berubah menjadi zombie setelah diberikan cacing parasit oleh Aurelia.


"Apa menurutmu suara auman tadi berasal dari zombie besar itu?" tanya Yoga.


"Aku tidak yakin, tapi melihat bahwa hanya dia yang tersisa, bisa jadi itu benar," jawab Endar.


Tidak ada yang memulai serangan, baik Zombie Big Jek maupun pasukan sekte, karena di antara mereka terdapat lautan api. Pasukan sekte segera siap siaga saat melihat Zombie Jek mengeluarkan banyak tentakel dari mulutnya.


Tentakel-tentakel itu tidak ditujukan untuk menyerang para manusia, tetapi malah terarah pada zombie-zombie yang saat ini terbakar. Big Jek menggunakan kekuatannya untuk mengeluarkan para zombie dari kobaran api.


Big Jek melakukannya bukan karena ingin menyelamatkan zombie lain, tetapi karena dia sedang merasakan kelaparan. Big Jek memakan semua zombie yang telah dia ambil.


"Gila, apa ini sungguhan!" ucap salah satu prajurit dengan ketakutan yang mendalam setelah melihat pemandangan itu. mereka terkejut melihat zombie yang memangsa zombie lain.


Belasan manusia yang telah menjadi zombie ditelan bulat-bulat oleh Big Jek. Akibatnya, perut Big Jek semakin membesar. Setelah selesai makan, Big Jek mendekati pasukan sekte Gogo Gread yang telah bersiap.

__ADS_1


__ADS_2