
Setelah sarapan dan mengajarkan cara menggunakan Hoverboard pada Goblone. Pasukan Arang akhirnya mulai bergerak menuju pengungsian menggunakan puluhan balon.
Ini untuk pertama kalinya aku menaiki balon udara, rasanya biasa saja, tidak ada yang istimewa karena sebelumnya aku sudah tenang dengan Goblone menggunakan Hoverboard.
Para Goblin yang merupakan anak buah Goblone terlihat senang saat menaiki balon udara. Aku berpikir mereka menjadi benci untuk terbang karena mengalami beberapa kali cidera saat belajar menggunakan Hoverboard.
Tetapi sepertinya pemikiran itu salah.
Selain Goblin, juga ada para perempuan yang menjadi alasan Arang pergi ke pengungsi. Manusia yang telah mengalami masa-masa buruk itu saat ini tengah bersama Arang dalam satu balon yang sama.
Sepertinya hanya Arang yang mereka percayai dari semua orang, mereka juga sepertinya takut padaku karena saat aku mencoba untuk menyapa mereka, semua perempuan itu justru menjerit histeris.
Mendapatkan reaksi seperti itu membuatku sangat terpuruk. Aku pikir mereka menjadi begitu ketakutan karena wujudku saat ini yang merupakan monster cacing.
Ya, aku juga akan bersikap sama seperti mereka saat melihat makhluk mengerikan tiba-tiba mengajak berbicara.
Tetapi bukankah sikap takut yang mereka tunjukkan begitu berlebihan?. Bahkan semuanya mulai menangis hingga ada beberapa yang sampai pingsan.
Apa aku memang begitu menakutkan?.
Hingga semuanya menjadi jelas ketika Arang memberitahu padaku jika ketakutan yang dialami oleh para perempuan manusia memang tidak normal. Ketakutan itu karena efek dari intimidasi yang aku tebarkan secara tidak sengaja.
Kasus yang mirip seperti para Goblin, namun para manusia mendapatkan efek lebih parah karena kekuatan mental mereka tidak begitu baik dibandingkan para Goblin.
Namun diantara lima perempuan yang begitu ketakutan saat melihatku, ada satu gadis yang terlihat begitu tenang. Bahkan karena terlalu tenang membuatku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan dikarenakan raut wajah yang terlalu datar.
Dikatakan jika sebelumnya gadis itu memiliki emosi seperti yang lainnya. Namun setelah mengalami beberapa hal yang begitu buruk ketika berada bersama para Goblin, membuat gadis itu akhirnya mengalami gangguan mental yang membuatnya lebih banyak melamun dan kurang respon terhadap keadaan sekitar.
Aku dapat mengerti apa yang telah dia alami, itu pasti sangat menakutkan. Ingin rasanya aku mengatakan padanya jika dia telah aman sekarang, namun tidak mungkin aku melakukan itu karena kemungkinan terbesar yang terjadi adalah gadis itu akan berteriak keras karena ketakutan seperti perempuan yang lain.
\*\*\*
Dari kejauhan aku dapat melihat sebuah rumah yang terbuat dari susunan blok kayu dan batu. Sebuah rumah besar seperti sebuah vila mewah, dibangun menggunakan material dari game Mining Craft.
Jujur semuanya terlihat biasa, tetapi yang menakjubkan adalah fakta jika waktu pembangunan rumah dengan kapasitas 50 orang itu hanya memakan waktu 6 jam yang dikerjakan oleh satu orang.
Melihat dengan mata kepala sendiri betapa megahnya bangun itu, membuat aku yakin jika orang yang membangunnya merupakan seorang gamer Mining Craft yang sangat berpengalaman.
Perjalanan dengan balon udara hanya memerlukan waktu 15 menit.
__ADS_1
Para orang tua dan anak-anak yang tengah mengurus lahan pertanian segera menghentikan aktifitas mereka setelah melihat kedatangan puluhan balon terbang menuruni gunung.
Kedatangan pasukan Arang disambut para pengungsi.
“Seharusnya anda tidak perlu menghentikan kegiatan di pertanian hanya untuk menyambut kami.” ucap Arang pada pemimpin pengungsian.
“Ini bukan masalah besar, lagipula kami juga telah menyelesaikan tugas pagi ini di ladang.” balas pria tua yang menjadi wakil semua pengungsi.
Jika tidak salah namanya adalah bapak Sugeng.
Ketika aku melihat sekitar, banyak anak-anak yang menatap kami dengan penasaran. Tetapi tidak lama kemudian mereka menjadi begitu ketakutan.
Entah apa yang membuat anak-anak itu ketakutan. Jangan katakan jika itu semua karena aku
Tidak, jika diperhatikan secara seksama anak-anak itu takut ketika melihat Goblone dan bawahannya turun dari balon udara.
Menyadari itu membuatku bernafas lega karena bukan aku yang menyebabkan mereka ketakutan. Tetapi belum tentu juga mereka tidak akan takut saat melihat wujudku yang hanya seekor cacing mengerikan.
“Para goblin itu adalah...”
Seperti para anak-anak, orang dewasa pun menunjukkan reaksi waspada saat melihat para Goblin.
Arang menjelaskan jika Goblone dan anak buahnya tidak akan menyerang karena telah dijinakkan. Mendengar penjelasan Arang membuat kekhawatiran para pengungsi agak berkurang, tapi tidak sepenuhnya menghilang.
Sikap selalu waspada untuk mereka perlihatkan membuatku bisa merasakan betapa takutnya para manusia terhadap entitas yang tidak mereka pahami.
Tetapi entah kenapa aku merasa biasa saja. Mungkin karena aku tidak menganggap para Goblin adalah makhluk berbahaya. Pemikiran itu muncul setelah melihat betapa kuatnya pertahanan area pabrik dan pasukan kami yang begitu kuat Setelah Town Hall mencapai level 6.
Arang memberikan alasan jika jika kerjasama antara pihaknya dengan para Goblin adalah usaha untuk bertahan dari lingkungan berbahaya gunung yang dipenuhi oleh monster.
Para pengungsi memahami penjelasan Arang. Mereka tidak begitu terkejut mendengar jika organisasi tempat Arang bekerja bahkan butuh dukungan untuk bertahan gunung ini.
Meski begitu kenapa goblin?.
“Itu karena mereka adalah makhluk yang sederhana.” jawaban yang Arang berikan justru menimbulkan tanda tanya yang lebih besar.
Lima perempuan yang diculik oleh para goblin akhirnya diserahkan pada para pengungsi. Melihat para wanita itu membuat para pengungsi semakin waspada terhadap goblin, semua anak bahkan disuruh untuk masuk ke dalam rumah.
Mereka bahkan masih tidak sadar jika semalam semua pengungsi bisa tidur dengan nyenyak dikarena para Goblin dengan kemampuan kamuflase diperintahkan Arang untuk melindungi rumah mereka dari ancaman monster.
__ADS_1
Meski merasa tidak tenang dengan keberadaan para Goblin, tidak ada satupun yang berani berbicara. Para pengungsi tidak ingin Arang dan organisasinya menghentikan bantuan yang mereka berikan.
Aku merasa semuanya akan menjadi merepotkan suatu saat nanti, tetapi semoga saja tidak demikian.
Setelah menyerahkan para tawanan wanita, Arang kemudian bertanya pada Sugeng tentang keberadaan Gary, pemuda yang mendirikan rumah para pengungsi.
Pertanyaan Arang membuatku bersemangat karen akhir bisa bertemu dengan sang Ahli, tetapi justru pertanyaan itu membuat Sugeng khawatir lantaran pemuda yang Arang tanyakan sudah tidak ada lagi di pengungsian.
“Dia kembali ke kota?.” tebak Arang yang seketika di balas dengan anggukan kepala pak Sugeng.
“Benar, dia pergi subuh tadi bahkan sebelum yang lainnya bangun. Dia meninggalkan surat yang memberitahu jika berniat membawa kekasihnya ke tempat ini.”
Sugeng sangat menyesalkan keputusan Gary, karena mungkin saja tindak pemuda itu bisa memancing kedatangan para bandit ketempat pengungsian mereka.
Meskipun Arang mengatakan jika tidak perlu khawatir dengan para bandit, tetapi kekhawatiran para pengungsi tidak mungkin bisa dihilangkan dengan begitu mudah.
Sementara itu Arang sendiri tidak mempermasalahkan para pengungsi yang nantinya bertambah banyak. Tetapi yang membuatnya khawatir adalah keselamatan Gary sendiri. Jika pemuda itu mati maka kami akan kehilangan sumber informasi yang sangat berharga tentang Mining Craft.
“Apa kita perlu turun ke kota untuk memastikan jika pemuda itu aman?.” tanyaku.
“Tentu, aku juga penasaran dengan peradaban dunia ini sehingga ingin sekali pergi ke kota. Tetapi kita harus menyelesaikan penelitian saat ini lebih dahulu.”
Arang kembali mengingatkan jika masih banyak hal lebih yang harus kami lakukan.
Setelah menyerahkan para tawanan wanita. Arang pun mohon pamit pada para tetua karena dia akan segera meninggalkan tempat pengungsian. Tetapi ketika dia akan kembali menaiki balon, tiba-tiba Arang merasa beberapa orang mulai mendekat.
Jelas itu bukan Gary yang saat ini sudah pergi ke kota.
“Apa mereka anggota dari para bandit yg sebelumnya?.”
Arang memahami tujuan kedatangan orang-orang itu bukan untuk penyerangan, tetapi hanya sekedar pengawasan. Meskipun begitu akan sangat berbahaya jika mereka mendapatkan banyak informasi.
“Bagaimana menurut mu?.” tanya Arang padaku.
“Biarlah.”
Dengan tenang aku mengatakan pada Arang untuk membiarkan mereka melakukan pengawasan terhadap pengungsi. Jelas Arang bingung dengan balasan dariku, tetapi perlahan bibinya membentuk senyuman, entah apa yang dia pikirkan.
\*\*\*
__ADS_1
Bersambung