
Naga Geni merasa masalahnya telah teratasi setelah memakan manusia yang terus menggangunya yang ingin menghancurkan desa.
Dia begitu percaya diri dengan kemampuan pencernaannya karena selama ini belum ada satupun yang bisa bertahan setelah masuk kedalam perutnya.
‘Pahlawan hingga Dewa saja tidak ada yang bisa keluar dari perutku, apa lagi dia yang hanya manusia kaleng.’ pikir Nagini.
Tetapi manusia kaleng yang baru saja dia makan seolah tidak ingin mati begitu saja. Itu dibuktikan ketika rasa sakit dirasakan Naga Geni pada tenggorokannya, rasanya seperti sesuatu menusuk dari dalam tenggorokan.
“Dasar Semut keras kepala!.”
Tidak tahan dengan rasa sakit yang dia rasakan, Naga Geni berniat memakan batu besar untuk menyingkirkan serangga yang tersangkut di tenggorokannya.
Tetapi tiba-tiba saja pasukan Naga bergerak cepat menuju kearahnya.
“Dasar belut bersayap, berani kau memakan temanku!.”
Naga yang terbang paling depan berbicara dengan penuh emosi. Saat jarak keduanya sudah cukup dekat, Naga berwarna ungu segera menyemburkan nafas api kearah Naga Geni.
{Api? Kau pikir aku yang merupakan penguasa api bisa dilukai oleh api?}
Suara itu terdengar begitu keras hingga dapat didengar hingga wilayah luar gunung. Bersamaan dengan itu Arang dapat merasakan perasaan bahaya yang begitu kuat.
Perasaan bahaya yang arang rasakan juga dirasakan oleh penghuni gunung lainnya. Banyak hewan dan monster penghuni gunung menjadi sangat ketakutan oleh suara tersebut hingga membuat mereka segera bersembunyi.
Sedangkan manusia yang instingnya tidak begitu kuat, menjadi kebingungan ketika melihat perilaku aneh para penghuni gunung. Hanya beberapa dari manusia itu yang mampu merasakan bahaya dari raungan sang Naga Geni.
“Waktunya makan!.”
Dari balik api yang disemburkan oleh Arang, muncul mulut raksasa yang bersiap untuk memakannya. Dengan cepat arang menghindar dengan jarak yang begitu tipis. Jika Arang telat melakukan penghindaran sedetik saja dia pasti sudah berada ditempat yang sama dimana Aurelia berada.
“Hem....”
Sesaat Arang merasa bisa melakukan telepati dengan Aurelia ketika dirinya berada dekat dengan kepala Naga Geni. Itu menandakan jika temannya masih hidup di dalam tubuh monster tersebut.
Dia berniat untuk menyelamatkan temannya dari dalam perut Naga yang entah kenapa justru memakan bongkahan batu dari tebing.
Pasukan Arang akhirnya berhasil menyusul, pertempuran dengan naga pun akhirnya pecah. Serangan bertubi-tubi dari tujuh naga dan pasukan pendukung mulai membuat Naga Geni terpojok.
Meskipun Naga Geni memiliki ketahanan kuat terhadap elemen petir, tetapi pertahanan butuh bukanlah pertahanan mutlak.
__ADS_1
Naga Geni masih bisa terluka oleh serangan api dari nafas Naga ungu, meskipun luka yang diberikan tidak berdampak besar, tetapi tetap saja jika terus mendapatkan serangan akan berakibat buruk untuk Naga Geni.
Angin topan yang diciptakan oleh Naga Geni berhasil mengacaukan formasi pasukan Naga. Serangan tersebut juga merenggut nyawa beberapa pasukan yang menunggangi punggung Naga.
Naga yang tidak memiliki penunggang berakhir dengan menjadi liar, mereka menyerang Naga Geni secara membabi-buta. Hasilnya Naga-naga itu terbunuh dengan begitu mudah, antara terkena nafas api atau dimakan.
Sisa pasukan menjadi begitu berantakan, namun semuanya berjalan dengan baik seperti yang Arang rencanakan.
“Aku mendapatkan mu!.”
Disaat Naga Geni dibuat sibuk oleh kegilaan para Naga yang kehilangan penunggangnya. Arah mengambil kesempatan untuk mendekat secara diam-diam lalu menggapai kepala Naga Geni.
“Kurang ajar, kau pikir kepala siapa yang sedang kau injak-injak!.”
Naga Geni menjadi begitu marah ketika arang tiba-tiba berada di atas kepalanya. Ular Naga melakukan berbagai cara demi menyingkirkan Naga ungu dari kepalanya, namun Arang berusaha bertahan dengan berpegang pada salah satu tanduk Naga Geni.
Seakan menaiki rollercoaster, Arang terus bertahan di atas kepala Naga Geni yang terbang begitu cepat sambil bermanuver dengan sangat lincah.
“Lia apa kau bisa mendengar ku?.” Arang kembali mencoba menghubungi Aurelia menggunakan kemampuan telepati nya.
“Arang, syukurlah aku bisa mendengar mu.”
Dan yang lebih parah tempat yang dia targetkan adalah Town Hall.
Naga Geni terbang dengan cepat, menukik dari atas, turun bagaikan sambaran petir. Seluruh Menara pertahanan segera menargetkan saat Naga Geni semakin mendekat, tembakan panah dari para Archer, ledakan petasan menghujani tubuh ular Naga Itu.
Tetapi meskipun mendapatkan serangan bertubi-tubi, Naga Geni masih terus bergerak seakan tidak ada yang bisa menghentikannya. Arang sempat berpikir jika hari ini Town Hall akan hancur oleh serangan Naga Geni.
Namun menara pertahanan terakhir tiba-tiba muncul membuat sebuah kejutan.
Menara Tesla menampakkan dirinya begitu Naga Geni yang menjadi ancaman bagi Town Hall akhirnya masuk dalam area serangannya. Sambaran petir ditembakkan begitu cepat hingga sang Naga tidak mampu menghindar.
Bezzzzzz!
Sengatan yang begitu kuat hingga Naga Geni tidak dapat merasakan tubuhnya. Naga itu diam di tempat seperti sebuah patung, tubuhnya yang kaku akhirnya terjatuh menimpa beberapa rumah warga.
Seluruh pasukan yang telah bersiap akhirnya mendapatkan kesempatan mereka untuk memberikan pelajaran pada naga Geni yang mengancam kedamaian desa mereka.
Keadaan tiba-tiba menjadi tidak menguntungkan untuk Naga Geni. Serangan demi serangan terus menghujani tubuhnya.
__ADS_1
‘Makhluk-makhluk rendahan seperti mereka berani membuatku begitu kesakitan.'
Naga Geni menjadi begitu murka karena makhluk yang awalnya ingin dia permainkan justru membuatnya dalam kesulitan. Amarahnya meluap menyebabkan api berkobar dari seluruh tubuhnya, melihat itu Arang segera meminta seluruh pasukannya untuk menjauh.
{Bakar semuanya, aku akan membakar kalian semua, sadar para serangga....}
Bezzzzz!
“Gyaaaa!.”
Naga Geni kembali tidak dapat bergerak begitu menara Tesla menyambarnya untuk kedua kalinya. Melihat Naga yang kembali menjadi lumpuh membuat pasukan desa melanjutkan serangan mereka.
Keadaan yang sama terus terjadi berulang-ulang. Saat Naga Geni bangkit, Tesla akan segera menyambarnya hingga menjadi lumpuh, lalu pasukan desa akan memukulinya, seakan putaran ini tidak akan berakhir hingga Naga Geni terbunuh.
Tetapi Naga Geni tentu tidak akan membiarkan dirinya terbunuh oleh makhluk yang telah dia hinakan. Dia bukanlah makhluk bodoh, meskipun harus menanggung malu, itu jauh lebih baik daripada terbunuh oleh makhluk rendahan.
{Ini adalah kemenangan kalian, tapi selanjutnya aku akan menghancurkan kalian semua....}
Bezzzzzz!.
Naga Geni berniat untuk melarikan diri, namun Menara Tesla kembali menyambarnya dengan listrik. Tubuhnya menjadi lumpuh hanya selama sepuluh detik, saat efek lumpuh menghilang Naga Geni pun kembali bergerak menjauhi pusat desa yang dilindungi oleh menara Tesla.
Setelah berhasil keluar dari zona serangan menara Tesla, Naga Geni berniat terbang untuk melarikan diri. Arang tentu tidak akan membiarkannya karena Aurelia masih ada di dalam perut Naga itu.
Pertarungan pun kembali terjadi, tetapi hanya beberapa saat setelah Naga Geni keluar dari desa, tiba-tiba monster itu merintih kesakitan hingga akhir terjatuh.
Arang tidak tahu apa yang terjadi, seluruh pasukannya telah berusaha begitu keras untuk mengalahkan Naga Geni, namun kerusakan yang mereka buat tidak begitu berdampak pada Naga sejati sepertinya.
Tetapi kenapa sekarang Naga Geni menjadi begitu menderita?.
“Apa ini karena menara listrik itu?.” Arang berpikir jika keadaan Naga Geni saat ini adalah akibat dari menara Tesla.
Namun tebakan Arang segera terbantah saat Naga Geni batuk hingga muntah darah, tetapi bukan hanya darah yang keluar dari mulut Naga Geni melainkan ribuan cacing ikut dimuntahkan oleh sang Naga.
“Arang?.”
***
__ADS_1