
Di dapur terdapat seorang gadis kecil dengan rambut putih dan sepasang tanduk di kepalanya. Dia makan dengan sangat lahap olahan daging yang Arang sajikan untuknya.
“Momi tambah lagi!.” ucap gadis itu dengan mulutnya yang begitu kotor oleh saus.
“Are, kau sudah menghabiskan piring lainnya?. Bukankah kau benar-benar suka makan?.” Arang mengambil sepiring rendah lainnya.
“Daging buatan momi sangat enak.” gadis itu terlihat sangat senang melihat Arang membawa porsi lainnya.
Namun senyum itu pudar begitu melihat sosok kuning yang tidak lain adalah Aurelia masuk kedalam dapur. Dengan cepat gadis kecil memeluk piring berisi daging seakan melindunginya.
Snifff! Aurelia menghirup udara dalam-dalam menikmati aroma wangi dari masakan yang Arang buat.
“Aromanya tercium sangat lezat.” Aurelia mengambil kursi lalu duduk di meja makan tepat di depan gadis kecil. “Bisakah aku mencobanya?.” pintanya.
Gadis kecil terlihat kebingungan, terlihat jelas jika dia sangat menyukai makanannya sehingga tidak ingin membaginya. Namun Aurelia terus menggoda hingga hampir membuat gadis kecil menangis.
Bletak! Sebuah jitakan mendarat di kepala Aurelia, mengakhiri pembullian yang dia lakukan terhadap gadis kecil.
“Apa setengah ton rendah masih belum cukup untuk mu!.” Arang terlihat emosi saat mengetahui Aurelia melakukan perundungan.
“Auuuh.” Aurelia merasa kesakitan di kepalanya setelah mendapat pukulan dari Arang, wajahnya terlihat sedih ketika merasakan sakit di kepalanya. Gadis kecil merasa kasihan pada Aurelia sehingga dia bersedia membagi daging miliknya.
“Eh, sungguh!.” Aurelia begitu senang mendapatkan rendang, namun merasakan intimidasi dari Arang yang wajahnya menjadi gelap karena marah. Aurelia pun memutuskan untuk menolak daging pemberian di Gadis.
“Ehem, kakak nggak apa-apa kok.”
“Hontoni?.”
“Ya!." Jawab Aurelia tegas “Sudah lewat tengah malam, cepat habiskan makananmu lalu segera tidur.” sambung Arang yang tengah mencuci piring.
Gadis itu mengangguk kecil lalu melanjutkan makan. Namun dia beberapa saat kemudian dia terdiam seakan memikirkan sesuatu.
“Ada apa?.” tanya Aurelia yang masih duduk didepannya.
“Kenapa momi menangi Kaka dengan sebutan Aurelia, dan kenapa kakak memanggil momi dengan sebutan Arang?.”
Brak! Mendengar pertanyaan gadis itu seketika Aurelia membenturkan kepalanya ke meja. “Aku tidak siap mendapatkan pertanyaan sulit seperti itu. Tidak, sebenarnya aku tidak siap menjadi seorang kakak.” ucapnya.
Gadis yang kebingungan menatap Arang yang datang untuk mengambil piring kotor. Setelah mencuci semua piring, Arang mengantar gadis kecil ke kamar tidurnya. Dia pun menerangkan fungsi nama pada gadis itu.
“Oh, apa aku juga punya nama?.” tanya gadis dengan Mata berbinar.
__ADS_1
“Ya, kamu akan mendapatkannya pagi nanti.” balas Arang.
Setelah mengantar gadis itu ke tempat tidur lalu menyelimutinya, hingga diakhiri dengan ciuman penuh kasih sayang di kening, Arang pun hendak meninggalkan kamar.
“Aku sayang ibu.” gumam gadis kecil yang mulai mengantuk. Arang terkejut dengan apa yang dia dengar, membuat senyumnya mengembang. Setelah mengatakan selamat malam, Arang mematikan lampu kamar lalu menutup pintu.
***
“Bagaimana?.” tanya Aurelia saat melihat Arang kembali.
“Dia sudah tidur sekarang.” balasnya.
“Maksudku tentang nama.”
Mendengar perkataan Aurelia membuat Arang menceritakan apa yang dia sampaikan pada gadis itu, dimana dia mengatakan akan memberitahu namanya pagi nanti.
“Pagi, huh. Hanya tersisa lima jam hingga pagi tiba.” Arang menyandarkan tubuhnya pada kursi, tatapannya menerawang ke langit-langit ruangan. Arang juga melakukan hal yang sama, dia jatuh dalam pemikiran yang mendapat.
Keduanya saat ini tengah kebingungan mencari nama untuk gadis yang mengaggap mereka sebagai ibu dan saudara perempuannya. Tapi bukankah memberikan nama untuk seorang anak adalah hal yang mudah?.
Memang benar jika yang diberi nama adalah anak manusia atau binatang yang lebih rendah. Namun lain cerita jika anak yang dimaksud adalah anak seekor naga.
Setidaknya itu yang Arang katakan setelah bersama Aurelia menemukan anak itu ditengah tumpukan abu Naga Geni.
“Bukankah proses reinkarnasi naga Geni mirip dengan mitos Phoenix?.” tanya Aurelia.
“Kau benar. Mungkin saja naga Geni berasal dari perkawinan antara naga dan Phoenix.” balas arang.
Keduanya terus memikirkan nama yang cocok untuk gadis naga, menghabiskan berjam-jam hanya untuk berdebat tentang nama. Hingga pagi sebentar lagi datang , namun mereka masih belum mendapatkan satupun nama yang cocok.
“Sebagai ibunya, aku berhak memberikan dia nama!.” bentak Arang.
“Nagaji (Naga siji)? Ada apa di neraka!, nama macam apa itu!. Cukup hanya Goblone, Bearsatu dan Sergio yang menderita karena selera penamaan mu yang buruk. Aku tidak akan membiarkan gadis kecil itu mengalami hal yang sama!.” Aurelia menolak usulan nama Arang.
“Jika begitu, bagaimana denganmu?.” Arang mempersilahkan temannya untuk mengajukan sebuah nama.
Tetapi....
“Oke, nama yang akan aku berikan pasti lebih baik, umm.... pasti akan menjadi keren.... yeah... itu ... Itu.. pasti lebih baik...” Perkataan Aurelia terputus-putus dan terus berulang seakan terjadi kerusakan pada sistemnya.
Pada akhirnya tidak ada satupun nama yang keluar dari mulut Aurelia. Mungkin selera penanaman Arang memang buruk, tetap Aurelia bahkan lebih buruk karena tidak biasa membuat satupun nama.
__ADS_1
“Aku tahu!.” tiba-tiba Aurelia berteriak hingga membuat Arang terkejut, “Itu pasti Nagini!.” Aurelia sangat bersemangat karena akhirnya mendapatkan satu nama yang dia pikir sangat cocok untuk gadis kecil.
“Bukankah itu menang nama aslinya?.” celetuk Arang, membuat Aurelia kembali jatuh dalam keputusasaan.
Ditengah rasa sakit kepala yang terjadi karena terus digunakan untuk berpikir. Aurelia teringat dengan gunung dan desa tempatnya tinggal saat ini juga belum memiliki nama. Memikirkan itu membuat kepala semakin berasap.
“Ada apa dengan kalian?.” Master Builder yang baru beristirahat setelah melakukan penelitian, bermaksud mengambil minuman. Namun yang dia dapati justru kedua perempuan dengan keadaan yang menyedihkan.
Arang pun menceritakan semua tentang gadis itu pada master Builder, berharap pria tua itu memberikan sebuah solusi, tepatnya sebuah nama.
“Regalia.” sebuah nama dari Master Builder langsung menarik perhatian Arang dan Aurelia.
“Bagaimana anda memikirkan nama itu?.” tanya Arang. Meskipun nama yang Master Builder usulkan terdengar sangat cocok, tapi dia merasa masih ada yang kurang.
Melihat jika master Builder membutuhkan makanan, Arang segera menyalakan kompor lalu memasak nasi goreng.
“Nama itu berasal dari kedua nama kalian yang digabungkan.” balas master Builder.
Aurelia memikirkan nama dari Master Builder, untuk memastikan apakah pernyataannya benar atau tidak.
[Regalia: aRanG AurELIa]
“Luar bisa, aku tidak pernah berpikiran untuk menggabungkan Nana kami berdua. Kakek tua kau sungguh seorang sepuh sejati, tidak kau pasti sudah mencapai ranah seorang Suhu.”
Aurelia menunduk dengan hormat pada Master Builder.
“Aku tidak tahu apa kau sedang memujiku atau justru meledekku.” balas master Builder.
Mengetahui jika master Builder pandai memberi nama, Aurelia pun memintanya untuk memberikan nama pada desa dan gunung.
“Apa kau juga akan memintaku untuk memberikan nama pada setiap pasukan yang keluar dari barak?.” tanya master Builder asal menebak.
“Hah! Bagaimana kau tahu?.” Aurelia terkejut lantaran master Builder dapat membaca pikirannya.
“Jadi benar kau ingin aku menamai semua pasukan di desa.” master Builder bertambah kesal karena tebakannya ternyata benar.
Jumlah pasukan di desa saat ini lebih dari seratus pleton, tidak mungkin master Builder dapat menamai mereka dari persatu. Hingga akhir dia memberikan saran pada Arang untuk mengizinkan setiap pasukan menggunakan nama yang mereka inginkan.
“Kalau begitu nama master Builder apa?.” Arang datang dengan pertanyaan dan sepiring besar nasi goreng beserta es teh.
“Namaku? Aku sudah memikirkan itu semenjak kalian menceritakan tentang gadis naga itu.” master Builder mematung menatap nasi goreng didepannya.
__ADS_1
“Gordon, itu namaku.”