System Play Store

System Play Store
50. Useless


__ADS_3

Ding!


[Town hall selesai diupgrade ke level 6]


Suara sistem membangunkan aku di pagi hari. Dibandingkan hari sebelumnya dimana aku selalu merasa segar ketika baru terbangun di pagi hari, tetapi kali ini justru terasa lemah dan tenagaku masih belum pulih.


Semua disebabkan karena tadi malam Arang begitu antusias ketika aku menunjukkan padanya beberapa hasil tambang yang aku dapatkan saat mencari makan menggunakan Avatar cacing.


Aku tidak pernah berpikir jika Arang akan sangat tertarik dengan apa yang aku temukan. Meskipun dia seorang perempuan tetapi selama beberapa hari aku bersama dengannya, Arang tidak sedikit menunjukkan ketertarikan pada benda mewah seperti emas maupun intan.


Pemikiran itu normal dikarena latar belakangnya yang merupakan seorang prajurit utusan Dewa membuat aku berpikir jika Arang pasti lebih menghargai senjata dibandingkan dengan senjata.


Tetapi pemikiran itu tidak sepenuhnya sebuah kesalahan, karena pada faktanya Arang menyukai batu mulia bukan karena keindahan maupun nilai ekonomis yang tinggi.


Tetapi karena batu-batu tersebut memiliki efek khusus yang bisa digunakan sebagai bahan pembuatan senjata sihir dan mantra sihir.


Logam mulia seperti perak dan emas tidak akan menarik perhatian Arang, bahkan berlian pun hanya dianggap tidak lebih sebagai materil dasar.


Sementara itu batu mulia seperti Safir, Zamrud, Topaz, Ruby dan lain sebagainya membuat Arang begitu tergila-gila hingga sepanjang malam dia terus tertawa-tawa seperti kuntilanak yang sedang makan 100 tusuk sate.


Arang mengatakan jika semua batu mulia tersebut memiliki kekuatan sihir di dalamnya. Mendengar itu aku agak skeptis.


Tetapi mengingat jika tidak mungkin satu gunung menyimpan begitu banyak jenis logam dan batu mulia kecuali karena bantuan energi sihir, pada akhirnya aku pun percaya dengan perkataan Arang.


Batu Red Stone, atau yang lebih dikenal sebagai Ruby menjadi item paling digemari Arang dikarenakan memiliki konduktivitas penghantar energi sihir yang lebih baik dari material lainnya.


Malam itu juga Arang meminta Master Builder untuk membantunya dalam penelitian terhadap robot T-X yang nantinya akan di sambung dengan potongan kepalaku.


Master Builder yang sedang terlelap langsung diseret ke dalam pabrik. Pria setengah baya dengan kumis tebal itu marah karena perlakuan Arang, namun ekspresinya berubah setelah melihat seluruh materi yang aku kumpulkan.


Master Builder dengan cepat berubah menjadi Arang 2.0. Dia sama-sama tertawa, tapi kali ini seperti seorang bos mafia yang baru saja menemukan cara untuk menguasai dunia.


Dalam sudut pandang ku, baik Arang maupun Master Builder memiliki kesamaan yakni sangat terang sang dengan batu. Yah, meskipun itu bukan sembarang batu.


Tetapi tetap saja terasa aneh.

__ADS_1


Memperhatikan dua ilmuwan gila di depanku, membuat aku bertanya-tanya apakah para pembuat bom atom juga seperti mereka saat menemukan uranium dan plutonium?.


Sebuah papan kayu besar di buat oleh Master Builder sebagai papan tulis, lalu arang menggambar diagram rumus yang sama sekali aku tidak mengerti.


Bukannya aku yang tidak mengerti simbol-simbol matematik maupun sains fisika, tetapi karena Arang menang menulis teorinya dengan bahasa yang sama sekali aku tidak mengerti. Dia mengatakan jika itu adalah sebuah bahasa dari dunia lain.


Namun tidak demikian dengan Master Builder, pria tukang bangunan itu seakan bisa memahami rumus yang Arang buat sehingga keduanya pun kembali berdiskusi panjang.


Dua jam kemudian, aku yang sedang memberikan makanan pada tahanan Gagak hitam tidak lagi mendengar suara perdebatan antara Arang dan Master Builder.


Sepertinya mereka telah membuat kesepakatan setelah saling melempar teori dan argumentasi.


Orang dewasa memang beda. Meskipun keduanya saling serang dengan ucapan yang terkadang menyudutkan pihak lain, tapi pada akhirnya semua akan baik-baik saja setelah mencapai kesepakatan.


Dari perdebatan yang aku dengar rupanya Master Builder ingin membuat sebuah robot yang dapat dia kendalikan seperti Megazord dari Cincin Pacifik.


Karena aku adalah seorang player Kelas off Klan, dengan mudah aku bisa menebak robot seperti apa yang ingin dia buat. 'Robot dengan palu petir, Bukankah itu keren?' aku seakan bisa mendengar suara hati Master Builder.


Rancangan telah dibuat, selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memperbaiki pabrik. Mereka berniat menggunakan teknologi pengolahan besi di dalam pabrik sebagai alat pengolahan bahan material sihir, yang nantinya akan digunakan untuk menyatukan kepalaku dengan robot T-X.


Dan karena inilah yang membuatku begitu lelah saat bangun pagi ini. Sepanjang malam aku terus menggali di dalam gunung untuk mencari sebanyak mungkin mungkin.


Entah berapa ton bijih besi yang aku muntahkan, itu membuatku sedikit khawatir jika akan menghabiskan pasokan besi di dalam gunung, tetapi sebanyak apapun aku mengambilnya material di dalam gunung tidak pernah berkurang.


Seakan seiring waktu gunung ini akan menghasilkan material secara berkala. Apakah itu mungkin?.


Entah, aku tidak memiliki jawaban tentang Itu karena aku sadar jika kepalaku hanya berisi batu.


Itu bukan sebuah kiasan, tetapi kenyataannya memang demikian. Saat mencoba mencocokkan kepalaku dengan robot T-X, mereka melakukan pembedahan sehingga aku dapat melihat tidak ada otak di dalam tempurung kepalaku karena arang menggantinya dengan batu meteor.


Apakah itu yang membuatku begitu bodoh hingga tidak mengerti apapun tentang sistem dan struktur yang dibahas Arang dan Master Builder sebelumnya?.


Tidak, aku rasa itu tidak benar. Aku merasa bodoh karena dikelilingi oleh orang jenius. Di tengah perut bumi aku terdiam memikirkan keadaanku saat ini yang tidak begitu berbeda dari sebelum bencana terjadi.


Aku hanya menjalankan perintah dari mereka yang memiliki rencana.

__ADS_1


Apakah menang tidak ada perubahan?.


Sebenarnya apa tujuanku?.


Tidak ada?.


“Benar aku tidak memiliki tujuan.”


Aku memikirkannya cukup lama hingga membuat Arang begitu khawatir karena aku tidak kunjung muncul ke permukaan. Pada akhirnya aku diminta untuk beristirahat karena sudah menggali semalaman.


Di saat semua orang tengah bekerja keras, aku justru tidur begitu nyenyak. Perasaan tidak nyaman yang aku alami pagi ini sungguh mengganggu.


“Selama ini aku berpikir dengan bekerja keras akan menutup kebodohan yang menjadi kekuranganku. Tetapi itu salah.” ucapku saat menatap area pabrik yang tengah direnovasi.


Melihat para Builder yang bekerja sejak kemarin malam membuat rasa bersalahku semakin meningkat.


Menyadari jika bekerja keras saja tidak cukup, membuat aku bertekad untuk belajar dari Arang dan Master Builder. Entah apa pun itu, aku berharap bisa mempelajari sesuatu dari mereka.


“Kau ingin belajar tentang teori sihir?. Kenapa tiba-tiba?.” tanya Arang saat mendengar aku ingin belajar darinya.


“Itu karena tadi malam aku merasa sangat bodoh ketika tidak memahami apa pun yang kau dan Master Builder perbincangkan.” jawabku dengan jujur.


Tapi hasilnya itu hanya membuat Arang tertawa terbahak-bahak.


Ah, aku tahu akan menjadi seperti ini. Tetapi aku tidak akan menyerah.


“Eh, kau serius?.” Arang cukup terkejut ketika aku menatapnya dengan serius.


“Apa itu mustahil?.”


“Samasekali tidak, makhluk sepertimu yang memiliki jumlah energi sihir begitu besar pasti akan mudah menggunakan sihir.”


Bahkan dia memanggilku dengan sebutan makhluk, sepertinya memang kemanusiaan ku telah hilang.


***

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2