
Pemukiman Goblin.
Malam itu begitu mencekam bagi para goblin. Suara ledakan terus terdengar di arah barat, membuat monster yang berada di hutan menjadi begitu aktif, akibatnya monster berkali-kali melakukan serangan pada pemukiman mereka.
Karena tidak tahan dengan keadaan ini pemimpin koloni memerintahkan beberapa penunggang serigala untuk mencari tahu penyebab suara ledakan.
Ketika melakukan penyelidikan, para Goblin Rider bertemu dengan kelompok goblin yang tidak mereka kenal. Melihat kelompok itu membuat Para Goblin Rider berpikir jika mereka berasal dari koloni berbeda yang hendak berburu di malam hari.
Meskipun hanya sebatas dugaan, tapi para Goblin terlanjur marah. Mereka tidak ingin goblin dari koloni lain masuk ke wilayah mereka apa lagi dengan tujuan berburu.
Tanpa berniat melakukan komunikasi, Goblin Raid segera melakukan serangan.
“Lah, kenapa mereka. Kok tiba-tiba malah menyerang?.”
Arang heran dengan perilaku kelompok Goblin Rider yang tidak sengaja dia temui saat berniat kembali ke pabrik.
Goblone berusaha untuk berbicara sebagai wakil Arang, namun goblin Rider sepertinya tidak berniat mendengarkan. Goblin yang menunggangi serigala berjumlah lima belas, dengan cepat menuju kearah pasukan Arang.
“Hem.... aku tidak tahu apa masalah kalian hingga bisa dengan mudah melakukan serangan pada orang yang baru pertama kali kali temui.”
Arang membuka toko Kelas off Klan untuk membeli beberapa item.
“Yang jelas kalian memilih hari yang buruk untuk menghadapi ku. Karena saat ini perasanku sangat tidak nyaman setelah kehilangan banyak prajurit.”
Arang menunjuk tanah yang ajan di lalui para goblin. Tidak ada seorangpun mengetahui apa yang Arang lakukan.
Hingga akhir para Goblin Rider sampai di area yang Arang tunjuk, lalu saat serigala menginjak tanah itu tiba-tiba...
“Uwaaaa....”
Lima goblin beserta serigala tunggangannya terlempar ke langit akibat ranjau pegas yang mereka injak.
Semua Goblin Rider terkejut dengan hal itu, namun mereka masih memacu serigala tanpa peduli dengan keadaan rekan-rekannya. Pemimpin Goblin Rider berpikir jika sudah tidak ada jebakan lainnya.
__ADS_1
Tetapi mereka ternyata salah besar.
Tanah yang mereka injak tiba-tiba bersinar lalu ledakan demi ledakan terjadi menewaskan pasukan Goblin, hingga hanya tersisa pemimpinnya pasukan yang berhasil selamat karena serigala tunggangannya berlari cukup cepat.
“Fitur jebakan (Trap) cukup berguna bukan?, Tapi sayangnya ini masih belum cukup untuk melawan para semut.” ujar Arang.
Hanya tersisa pemimpin pasukan Goblin yang saat ini terdiam melihat semua anak buahnya tewas akibat jebakan yang Arang pasang.
Dia sana sekali tidak tahu bagaimana Arang memasang jebakan. Yang dia ketahui Arang menunjuk titik dimana pasukannya akan melewati itu lalu ledakan pun terjadi.
“Jadi apa kita akan melanjutkannya?.”
Goblin dihadapkan dengan situasi yang menyulitkan. Sudah jelas jika dia sudah kalah, menghadapi belasan pasukan Goblin dengan pemimpin yang memiliki kekuatan aneh, tidak mungkin seorang Goblin sepertinya menghadapi semua itu seorang diri.
Jalan satu-satunya yang bisa diambil hanya kabur. Goblin berpikir untuk memberitahu pemimpin koloni jika ada sarangan yang akan datang ke pemukiman mereka.
Namun sebelum Goblin melarikan diri, Arang menjentikkan jarinya sebagai tanda untuk para Archer. Dua anak panah melesat mengenai serigala, membuat Goblin terjatuh akibat serigala yang kesakitan.
Serigala itu tewas karena serangan tersebut, melihat jika kesempatan untuk mematikan diri telah menghilang. Goblin pun tidak punya pilihan lain selain melakukan perlawanan hingga akhir.
Arang hendak mengakhiri semuanya dengan menghujani Goblin menggunakan serangan anak panah Archer.
Namun.
“Gugigi!.”
Goblone menghentikan Arang menjentikkan jarinya. Akibat tindakannya itu membuat semua pasukan menatapnya.
“Ada apa goblin!.” tanya Arang.
Goblone tidak menjawab, dia kemudian maju membawa pemukul kayunya. Melihat kehadiran Goblone, membuat Goblin itu terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu.
“Kau ingin menghadapinya?.”
__ADS_1
Goblone mengangkat pemukul kayu sebagai jawaban Arang.
“Oke, jika kau berhasil melawan goblin bodoh ini maka kau bisa pergi.” ucap Arang pada Goblin terakhir.
Meskipun tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh Arang, tapi goblin itu seakan mengerti jika dirinya akan dibiarkan kabur seandainya berhasil mengalahkan goblin di depannya.
Tanpa penundaan pertarungan antara Goblone dan pemimpin Goblin Rider pun terjadi. Tapi pertarungan itu begitu cepat hingga Arang pun tidak memiliki waktu untuk menguap.
Awalnya Goblin menyerang dengan tombaknya, namun Goblone dengan mudah menghindari serangan itu. Menggunakan momentum yang tepat Goblone membalas serangan dengan memukul kepala Goblone.
Braak! Kepala goblin itu hancur dengan satu pukulan.
Goblone terdiam melihat mayat goblin di depannya. Seakan dia sendiri tidak mengira akan menghabisi lawannya hanya dengan satu serangan.
Selama ini Goblone mengira jika dirinya begitu lemah karena di setiap pertarungan selalu memberikan kontribusi paling sedikit dibandingkan pasukan lainnya.
Tetapi sekarang dirinya sadar jika dibandingkan dengan goblin umum di alam liar, dirinya termasuk kategori kuat.
Dia menjadi begitu lemah hanya karena lawan-lawan yang dihadapi jauh lebih kuat darinya.
Lawanyang seharusnya tidak mungkin dihadapi oleh para Goblin.
“Pertemuan ini merubah rencanaku.”
Awalnya Arang berniat kembali ke pabrik, namun setelah bertemu dengan pasukan Goblin membuat arang berubah pikiran. Dia berniat untuk melihat koloni goblin, namun rencana arang membuat Goblone merasa cemas.
Bagaimana jika nanti Jusri berakhir dengan peperangan?.
Meskipun Goblone sudah bergabung dengan pasukan Arang, namun dirinya masih memiliki ikatan dengan koloni Goblin.
Goblone harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan koloni. Jangan sampai mereka memutuskan untuk berperang dengan Arang.
\*\*\*
__ADS_1
(Bersambung)