
Meskipun Goblone mengatakan jika kematian dari bawahannya tidak begitu penting dan juga tidak layak untuk mendapatkan perhatian dari ku. Tetapi aku tidak bisa menerima itu begitu saja, terlebih goblin itu adalah bawahan dari bawahannya Arang.
Aku harus menggantinya dengan sesuatu yang sesuai. Namun aku tidak tahu apa yang harus diberikan sebagai ganti rugi.
‘Kira-kira apa yang para Goblin inginkan?.’
Kepalaku berusaha berpikir keras, tetapi tidak ada satupun ide yang muncul dari otakku. Apa ini karena otak cacing begitu kecil, aku pikir bukan itu masalahnya.
‘Aku hanya tidak mengenal makhluk bernama goblin dengan baik sehingga tidak tahu apa yang mereka inginkan.’
Karena tidak dapat menemukan ide apa pun, aku pun teringat dengan hadiah yang baru kudapat dari roda keberuntungan. Sebuah papan seluncur salju yang terlihat begitu biasa, aku tidak membutuhkan karena hutan ini tidak ada salju.
Jadi aku berikan saja benda itu sebagai hadiah permintaan maaf. Namu Arang terlihat ragu, lalu dia kemudian bertanya tentang keputusanku.
{Apa kau yakin ingin memberikan benda ini?}
Arang menatapku dengan raut wajah yang seakan tidak percaya jika aku akan memberikan item tersebut pada seekor goblin. Tatapan Arang membuatku agak ragu, tetapi aku sudah memutuskannya.
“Ya, tolong berikan ini pada Goblone sebagai permintaan maaf ku.” pintaku dengan penuh keyakinan.
{Yah, jika itu yang kau inginkan}
Perasaan tidak nyaman mulai membesar di dalam jiwaku, seakan baru saja aku membuat sebuah pilihan salah yang nantinya akan aku sesali.
‘Apa tidak apa memberikan papan seluncur itu sebagai hadiah permintaan maaf karena telah membunuh seekor goblin?.’
‘Papan seluncur yang bahkan tidak memiliki roda, sebuah item tidak berguna seperti itu tidak cukup untuk menggantikan nyawa seseorang. Apa aku harus menambah hadiahnya?.’
Aku terus memperhatikanku Arang yang sangat ini tengah berbicara dengan Goblone mengenai papan seluncur yang baru aku berikan padanya. Goblone menatap kearah ku sehingga aku dapat melihat wajahnya yang kecewa.
Itu adalah reaksi yang sangat normal. Bayangkan saja nyawa seseorang diganti dengan sebuah papan tidak berguna. Goblone pasti sangat kecewa dengan hadiah yang aku berikan.
“Mungkin aku harus mempersiapkan hadiah lainnya.”
Ketika aku hendak membuka toko game untuk membeli hadiah, tiba-tiba suara kegaduhan terdengar dari para Goblin. Itu dikarenakan saat ini Arang tengah melayang di udara dengan menginjak papan seluncur yang mengapung di udara.
“Oh..”
__ADS_1
Merasa tidak ada yang menarik aku pun kembali melihat toko Game untuk mencari hadiah. Tetapi aku seketika terdiam saat kepalaku yang begitu lambat dalam berpikir akhirnya berhasil menemukan keanehan.
‘Kenapa Arang bisa menggunakan papan seluncur Itu?.’ pikirku.
Papan seluncur yang aku pikir tidak berguna karena terlihat begitu biasa, kini terlihat sangat keren karena bisa membuat Arang terbang di udara.
Bagaimana bisa dia melakukan itu, apa aku melewatkan sesuatu?. Sial andai saja ada buku panduan bagaimana menggunakan papan tersebut pasti aku tidak akan menyerahkannya begitu saja.
Perasaan penyesalan mulai menghantuiku.
Melihat bagaimana Arang mencoba mengajari Goblone cara menggunakan Hoverboard membuatku sangat iri.
Aku mencoba melihat harga papan terbang serupa, namun yang aku dapatkan hanya rasa penyesalan yang semakin menyakitkan lantaran harga unit termurah dari item tersebut mencapai 25.000 gold.
Sungguh harga yang menguras kantung energi sihir. Aku bisa saja membelinya dengan menjual berbagai material tambang, namun saat ini proyek pemugaran pabrik dan penelitian robot Terminatrix menjadi fokus utama. Sehingga seluruh sumberdaya yang aku miliki dialokasikan pada kedua proyek tersebut.
Ini mengingatkan aku saat bermain game pernah melakukan kesalahan dimana aku menggunakan item yang dianggap tidak berguna untuk meningkatkan suatu item dengan tampilan keren.
Namun belakang aku justru mengetahui jika item tidak berguna yang sebelumnya aku gunakan hanya untuk meningkatkan level item lain justru merupakan item langka dan sangat penting.
‘Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Tidak etis rasanya jika aku meminta hadiah yang telah diberikan untuk dikembalikan.’
Untuk menghindari kesalahan yang sama aku mencoba untuk belajar pada Arang, bagaimana dia bisa mengaktifkan Hoverboard yang sebelumnya terlihat seperti papan selancar biasa. Ini juga menjadi kesempatan bagiku untuk menjadi lebih dekat dengan pemimpin Goblin yang sedang belajar mengendalikan Hoverboard.
Itu merupakan pelatihan singkat, Arang memberitahuku jika Hoverboard memerlukan energi Sihir sebagai bahan bakar. Tanpa energi sihir alat terbangun tersebut hanya sebuah papan biasa.
Pengetahuan yang ku dapat dari Arang membuatku kembali diingatkan jika aku hanya orang bodoh. Tidak mungkin ada sebuah alat yang bisa berfungsi dengan semestinya tanpa sumber energi.
Bagaimana aku bisa tidak menyadari sesuatu yang begitu sederhana.
“Serius aku harus mengupgrade kemampuan otakku.” pikirku saat melihat Goblone dengan senangnya terbang di atas langit area pabrik.
Karena penasaran bagaimana rasanya terbang, aku pun meminta Goblone untuk membawaku. Karena hubungan kami sudah semakin dekat, atau lebih tepatnya Goblone tidak berani menolak. Dia mengajakku yang tengah melilit lehernya terbang ke langit.
“Uwaa pemandangan gunung begitu indah saat melihatnya dari atas.”
“Gugg... ghhhhk..”
__ADS_1
Karena begitu bersemangat aku tampan sadar menguatkan lilitan ku pada lehernya, membuat Goblone tercekik. Ah... Ini berbahaya, aku harus mengendalikan diri agar tidak membunuh goblin itu secara tidak sengaja.
Goblone dengan lihat mengendalikan Hoverboard, melakukan putaran 360 derajat secara terbalik dan berbagai atraksi yang membuat aku serasa sedang menaiki rollercoaster. Itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.
Melihat bagaimana Goblone begitu lihat menghilangkan Hoverboard hanya dengan beberapa menit pelatihan, membuat aku merasa bisa dengan mudah melakukan hal yang sama. Tetapi aku sadar jika semua tidak semudah yang terlihat.
Saat Arang mencoba melatih goblin lain, mereka tidak ada yang secepat Goblone dalam hal belajar. Beberapa goblin terjatuh hingga mengalami cidera parah, aku yang melihat itu pun seketika sadar bagaimana sulitnya mengendalikan Hoverboard.
“Bukankah itu berarti Goblone adalah goblin yang jenius?.” ucapku.
“Mungkin karena dia berevolusi menjadi Hob goblin sehingga kecerdasannya lebih baik dari Goblin lain.” jawaban Arang begitu rasional.
Itu membuatku penasaran, apakah pasukan Goblin milikku yang didapat dari game Kelas off Klan juga bisa berevolusi menjadi Hob goblin.
“Tetapi jujur aku juga begitu terkejut melihatnya belajar begitu cepat, bukan seperti seniornya yang begitu lamban.”
Perkataan Arang seketika membuat panik.
“Waaaahhh... apa kau membicarakan aku?. Kau sedang membicarakan aku bukan!.”
“Kau pikir ada orang lain yang aku ajarkan sesuatu selain kalian berdua?.”
Sudah jelas jika orang yang disebut lamban oleh dedemit ini adalah aku.
“I... ini karena otakku yang kau ganti dengan batu, menjadikan kecerdasanku turun 50%, tidak tapi turun 99%. Benar saat ini aku hanya menggunakan kemampuan 1% dari total kemampuan otak yang aku miliki.”
Karena tidak ingin diremehkan membuatku terpaksa mengatakan sebuah omong kosong yang begitu berlebihan. Jelas Arang tidak akan percaya dengan semua yang keluar dari mulutku.
Atau tidak.
“Sungguh ini semua hanya satu persen dari kemampuan otak yang kau miliki?.”
Wajahnya tampak terkejut, membuatku sulit untuk mengetahui apakah dia sedang berpura-pura atau memang percaya dengan omong kosong yang aku katakan.
\*\*\*
(Bersambung)
__ADS_1