
Gary dan kelompoknya masih menunggu di tempat yang sama. Mereka berharap jika Arang akan datang membawa kabar baik.
Namun setelah berjam-jam hingga matahari naik begitu tinggi, orang yang diharapkan akan datang memberikan pertolongan tidak kunjung memperlihatkan kehadirannya.
Sebagian besar orang pun mulai merasa jika organisasi tempat Arang bekerja tidak akan memberikan bantuan.
Mereka kecewa saat berpikir demikian, harapan mereka organisasi itu bisa memberikan tampar yang kayak untuk tinggal, karena tidak ada lagi tempat untuk mereka di kota yang saat ini dikuasai oleh orang-orang serakah.
Tapi jika tidak kembali ke kota lalu mereka akan tinggal di mana?.
Para orang tua mungkin tidak masalah jika mereka tetap tinggal meskipun pada akhirnya akan dimakan monster, mereka telah siap untuk mati.
Tetapi bagaimana dengan para anak-anak?.
Masa depan mereka masih panjang, tidak sepatutnya hidup mereka berakhir begitu cepat bahkan sebelum benar-benar mengenal dunia.
Memang begulitu dunia sekarang, menjadi begitu keras lebih dari sebelumnya. Jika seseorang ingin bertahan makan tidak ada cara lain selain menjadi kuat.
Tidak akan ada kesempatan untuk mereka yang lemah.
Gary bangkit dari tempat duduknya, dia meminta semua orang untuk ikut bersamanya kembali ke kota. Mendengar perkataan pemuda itu seketika semua orang memasang wajah cemas.
Meskipun begitu mereka mengerti jika tidak memiliki pilihan lain yang bisa diambil.
Gary memimpin kelompoknya kembali ke kota, tapi saat berniat segera berangkat, tiba-tiba para anak-anak menjadi begitu gaduh karena melihat Ballon terbang dari atas gunung.
“Siapa mereka?.”
“Apa itu bantuan yang dikirim oleh wanita itu?.”
“Aku berharap demikian.”
Sepuluh Ballon udara dengan cepat turun menghampiri rombongan mereka. Di Ballon terdepan semua orang dapat melihat Arang yang sedang melambaikan tangan ke arah mereka.
Melihat kedatangan wanita itu membuat semua orang menjadi senang. Mereka berpikir Ballon udara yang Arang bawa akan digunakan untuk mengantar mereka ke markas organisasi.
Tetapi mereka semua keliru.
Seperti sebelumnya, mereka berdiskusi mengitari mengitari api unggun.
“Aku tahu jika kalian berharap agar bisa diizinkan untuk berlindung di markas organisasi. Tetapi sayangnya saat ini keadaan masih belum stabil untuk kami, sehingga tidak mungkin bisa memberikan izin untuk orang dari luar untuk mengungsi.”
Tentu saja semua orang menjadi kecewa saat mendengar jawaban dari Arang, namun mereka merasa heran karena banyak pasukan dengan seragam hitam yang datang bersama dengan Arang.
__ADS_1
‘Jika dia datang hanya untuk mengatakan penolakan, kenapa dia membawa banyak pasukan?.’ pikir Gary.
Pemuda itu merasa ada yang tidak beres. Takut jika Arang bermaksud jahat, Gary bersiap mengambil senjatanya. Tetapi usaha Gary dihentikan oleh orang tua yang duduk di sampingnya.
Pak Sugeng menyentuh pundak Gary seakan memberitahu pada pemuda itu jika tidak perlu waspada terhadap Arang dan pasukannya.
Jika dipikirkan baik-baik seandainya menang Arang ingin berniat buruk bukankah dia sejak awal sudah melakukan serangan pada kelompok mereka. Tetapi dibandingkan langsung menyerang, perempuan itu justru mengajak berdiskusi.
“Kami mengerti dengan keadaan saat ini yang menjadi serba menyulitkan. Dan kami pun memahami dengan jelas penolakan yang anda sampaikan.”
Pak Sugeng mencoba berbicara dengan sopan, berusaha untuk tidak menyinggung perasaan Arang dan pasukannya.
“Aku sangat menyesal karena hal ini.”
Arang menundukan kepalanya untuk meminta maaf. Melihat itu tentu membuat Sugeng dan tetua lainnya dengan panik segera memintanya untuk mengangkat kepala.
Melihat bagaimana Arang meminta maaf, membuat mereka sadar jika perempuan itu mungkin telah berusaha keras untuk meyakinkan organisasi untuk menerima para pengungsi seperti mereka.
Meskipun pada akhirnya hasilnya tidak begitu baik, setidaknya mereka tahu jika Arang memang bersinggungan ingin menolong.
“Tetapi itu tidak sepenuhnya gagal.”
“!!!!”
Arang mengatakan jika organisasi memang saat ini tidak menerima pengungsi karena masalah keamanan. Namun mereka akan memberikan bantuan kepada kelompok Gary jika ingin mendirikan sebuah tempat pengungsian di tempat mereka berada sekarang.
“Kami akan menawarkan bantuan untuk mendirikan tempat tinggal yang layak, dan menyediakan kebutuhan selama satu bulan. Juga jangan khawatir tentang keamanan, kami akan menempatkan personil keamanan untuk melindungi tempat ini.”
Setiap orang saling menatap setelah Arang mengatakan semua yang ingin dia sampaikan. Arang kemudian meninggalkan para orang tua yang membutuhkan waktu untuk berdiskusi.
Perempuan itu kemudian menghampiri para anak-anak yang terlihat sedang bermain.
“Ahahaha, kamu jaga.”
“Uuh, aku lapar. Tidak bisa bergerak bergerak lagi.”
“Oh, ayolah bukankah kau seharusnya memakan daging yang diberikan tadi pagi?.”
“Um, aku sudah memberikannya pada adikku.”
Mendengar percakapan anak-anak membuat Arang menyadari jika daging panggang yang dia masak kemarin malam telah habis.
Dia pun berniat untuk memasak makanan lainnya, namun dia berniat meminta bantuan pada anak-anak untuk membantu memasak. Dia melakukan demikian hanya karena ingin menjadi lebih dekat dengan kelompok itu.
__ADS_1
Setiap anak menjadi senang saat mendengar akan bisa makan sepuasnya jika membantu Arang memasak. Semua anak pun berebut untuk membantu Arang demi mengisi perut mereka yang sudah kosong sejak malam kemarin.
Terhitung ada 15 anak-anak dan 21 orang dewasa termasuk Gary.
Disaat orang dewasa masih berdiskusi,carang dan anak-anak mulai memasak. Arang membagi tugas pada mereka untuk menyimpan bahan, sementara dirinya yang akan memasak.
Sementara Arang menitan pada pasukannya untuk berburu hewan yang bisa di makan. Namun terjadi masalah saat pasukan arang membawa buruan mereka.
“Hem..”
Arang memperhatikan seorang Goblin dengan kepala terluka karena diserang oleh pasukan arang.
“Apa kau yakin ini bisa dimakan?.”
Arang bertanya pada pasukan Barbarian yang telah menangkap goblin itu. Para Barbarian memberikan jempol mereka serempak sebagai jawaban. Arang memicingkan matanya melihat kelakuan para Barbarian, dia tidak tahu jika seekor goblin bisa di makan.
‘Apa mereka pernah memakan goblin?.’
Yang Arang tahu selama ini pasukannya hanya makan daging serigala dan meminum Elixir. Melihat seekor goblin akan dijadikan menu masakan, sontak membuat semua orang menjadi ketakutan.
Menyadari itu Arang pun dengan cepat memerintahkan pasukannya untuk mencari buruan lainnya selain Goblin.
Tetapi pasukan kedua yakni para Goblin bahkan lebih buruk dari Barbarian. Mereka kembali membawa buruan yang berupa Zombie.
“Uwaaaaa....”
Zombie terbakar oleh sinar matahari.
Melihat zombie gosong seketika membuat nafsu makan semua orang menghilang.
“Ini buruk.”
Tetapi semuanya berubah ketika pasukan Archer kembali dengan membawa buruan mereka berupa belasan kelinci dan seekor rusa.
“Seperti yang diharapkan dari para Ranger.”
Karena bahan utama telah didapatkan, arang pun berniat untuk memulai memasak. Melihat anak-anak yang sedang bekerja keras, para orang tua pun tidak ingin kalah.
Akhirnya sebagian besar urusan menguliti dan memotong daging diserahkan kepada para orang tua.
\*\*\*
(Bersambung)
__ADS_1