
“Rocket Punch!.”
Ayunan tangan bergerak begitu cepat karena pendorong jet di lenganku. Aku dapat membayangkan jika pukulan ku itu bisa menghancurkan tembok beton.
Menghadapi serangan ku, Arang menggerakkan tangannya dengan begitu lembut, gerakannya bagaikan aliran sungai yang begitu tenang namun terarah.
Serangan yang aku berikan dengan mudah dibelokkan, dia seperti tidak menggunakan tenaga sedikitpun saat melihat itu.
Brak!
Seorang balik arang menghantam dagu ku. Serangan itu begitu keras hingga aku terpental ke atas. Tidak berhenti sampai di situ, Arang melanjutkan combonya dengan memberikan tendangan kuat pada perutku, sehingga aku pun terpental beberapa meter darinya.
Gufffu! Rasanya seperti seluruh organ dalam tubuhku meledak, meskipun aku hanya mesin. Latihan kami baru berjalan dua menit, tetapi aku sudah dihajar dengan begitu brutal.
“Apa kau baru saja terpeleset?.” Arang mengatakan itu sambi tersenyum penuh ledekan dan memberikan isyarat untuk maju dengan tangannya.
‘Apa dia sedang merundungku?.’
Aku kembali bangkit lalu segera menghampiri Arang, namun kali ini aku tidak akan gegabah seperti sebelumnya.
Dengan tenang aku berlari lalu mengayunkan pukul beberapa kali, Arang masih bisa menghindarinya dengan mudah. Serangan balasan terus mengenai tubuhku, tetapi aku tidak akan mempermasalahkannya, lagipula tubuhku terbuat dari besi.
“Jangan terlalu percaya diri dengan kemampuan tubuh mu, itu akan berakibat fatal.” ucap Arang.
Telapak tangan Arang menjadi seperti ular, meliuk-liuk diantara sekarang yang aku berikan, hingga jarinya menotok daku.
Bezzzz!
“Aaaaaaa!.”
Aku merasa tersambar petir begitu serangan Arang mengenaliku. Tubuhku tidak bisa digerakkan, kepalaku rasanya baru saja meledak. Apa yang terjadi, apakah baru saja dia menggunakan sihir?.
“Aku hanya mengacaukan aliran energi sihir di dalam tubuhmu.” Arang menjawab pertanyaan di kepalaku.
“Hah?.”
Tubuhku digerakkan oleh energi sihir yang bisa diibaratkan darah pada tubuh makhluk hidup. Jika aliran energi sihir dikacaukan maka bisa menyebabkan masalah fatal.
“Kau harus berhati-hati dengan orang yang memiliki kemampuan seperti ini.”
Arang kembali menyerang, aku berusaha menghindar tapi gerakan Arang begitu cepat hingga tapak tangannya menghantam dadaku. Serangan itu tidak begitu kuat, namun dampak dari kacaunya aliran energi sihir membuat tubuhku menjadi sulit dikendalikan.
Aku hanya diam tidak mampu bergerak dengan asap mengepul dari seluruh bagian tubuhku. Meskipun begitu Arang memintaku untuk melanjutkan latihan kami.
__ADS_1
Sungguh dua terlihat seperti seorang guru killer sekarang.
Latihan berlanjut, semakin lama aku belajar semakin banyak, ditambah dengan bantuan dari sistem Analisis membuatku dapat mengkopi teknik pertarungan Arang.
Duel singkat terjadi ketika aku menggunakan teknik bertarung Arang untuk membalas serangan. Ditengah adu pukulan, aku dapat melihat senyum kecil di bibir Arang.
Entah apa maknanya, yang jelas meskipun aku sudah mengkopi teknik bertarungnya, aku masih tetap tidak bisa mendaratkan satu pukulan. Baik kekuatan maupun kekuatan, Arang masih berada di atasku.
Empat jam kami berlatih, dan hasilnya aku hanya menjadi samsak tinju.
“Aku merasa kepalaku akan meledak.”
Setelah selesai berlatih, Arang mengantarku ke tempat tidur. Tubuhku mengalami sedikit kerusakan akibat terlalu memaksakan diri.
“Kau akan baik-baik saja. Kita akan melanjutkan latihan lagi besok.” ucapnya. Apa dia iblis? Aku bahkan bisa melihat senyuman jahat di wajahnya.
“Oh, tidak. Aku tidak ingin tersetrum lagi, bisa bisa otakku meleleh.” Aku mencoba merengek agar dia melepas ku, tetapi itu tidak berhasil.
Arang mengatakan jika besok kami tidak akan melakukan latihan pertarungan melainkan hanya uji coba penggunaan sistem yang lebih rumit.
Jadi aku tidak perlu khawatir, ‘Katanya’.
Meskipun demikian aku masih merasa tidak yakin dengan perkataannya. Karena aku yakin semuanya pasti akan berakhir dengan baku hantam seperti latihan yang baru kami lakukan.
[Sambungan dengan tubuh Terminatrix terputus]
[Tidak dapat terhubung hingga masa perawatan berakhir. Terkecuali jika terjadi keadaan darurat]
Suara notifikasi menjadi hal terakhir yang aku dengar sebelum kehilangan fungsi panca indra ku. Begitu sambungan telah terputus sepenuhnya aku pun melakukan log out dari tubuh Terminatrix.
“Sekarang mari kita lihat perkembangannya.”
Town hall telah selesai diupgrade saat aku tengah berlatih dengan Arang, terdapat banyak fitur baru yang terbuka, aku sudah tidak sabar melihat pasukan jenis baru.
Yang pertama adalah peningkatan Barak, setelah barak ditingkatkan akan terbuka pasukan Naga.
“Serius, ini membuatku sangat penasaran. Kira-kira reaksi seperti apa yang akan arang buat jika dia tahu akan ada Naga yang bergabung dalam pasukannya.”
Tanpa pikir panjang aku segera menggunakan sumberdaya untuk melakukan operasi Barak.
Kemudian fitur selanjutnya adalah tungku ramuan sihir. Sebenarnya fitur ini sudah terbuka di Town Hall 5 tapi karena masalah sumberdaya membuatku terpaksa menunda untuk membukanya.
“Aku pikir akan baik-baik saja jika aku menempatkannya di sini.”
__ADS_1
Berbeda dengan yang ada di game, fitur pembuatan ramuan bukan lagi sekedar wajah besar berwarna emas melainkan sebuah bangunan yang setara dengan Barak.
Butuh area yang cukup besar untuk membangun fasilitas pembuatan ramuan. Melihat area sekitar Town Hall yang begitu berantakan dipenuhi perumahan membuatku kesulitan untuk menentukan tempat membangun fasilitas baru.
Tetapi aku tidak begitu khawatir karena ada fitur pengeditan. Dengan fitur tersebut aku bisa memindahkan bangunan di sekitar area town hall dengan sangat mudah.
Rumah-rumah yang dibangun secara tidak beraturan aku rapikan. Terlihat banyak warga yang kebingungan saat melihat rumah mereka berterbangan saat aku pindahkan, tetapi mereka segera sadar jika ini adalah perbuatan ku.
“Dewa Gunung sedang mengawasi kita!.”
“Puja Dewa gunung ululululu...”
Mengetahui jika aku sedang melakukan pekerjaanku, para warga segera melantunkan pujian padaku.
'Sungguh ini sangat memalukan, mohon hentikan atau aku akan melempar rumah kalian jatuh dari gunung.' hatiku rasanya ingin berteriak namun tentu saja tidak akan ada yang bisa mendengarnya.
Tidak. Aku pikir ada satu orang yang bisa mendengar suara hatiku, dan orang itu saat ini sedang tertawa terbahak-bahak sambil menekan perutnya yang mulai sakit akibat terlalu banyak tertawa.
{Arang, semua ini salahmu karena membiarkan para Healer menciptakan ajaran sesat Itu!}
Aku memarahi Arang lewat telepati.
{Ahaha... Aduh perutku....} Dia mulai menangis karena tidak kuat menahan tawa.
Dengan dalih memotivasi pasukan, Arang membiarkan sekte yang dibuat oleh para Healer tetapi eksis. Meskipun tidak ada masalah yang akan mereka timbulkan, tetapi beban mental yang aku tanggung terlalu besar.
Dewa?
Apa kau bercanda?
Ekspetasi mereka padaku terlalu besar. Aku hanya manusia biasa yang telah berubah menjadi Leak atau mesin atau bahkan hanya sekedar kesadaran tanpa raga.
Aku takut membuat seseorang yang percaya padaku kecewa.
“Kau terlalu overtaking Lia.” suara Arang terdengar begitu dalam hingga membuatku merasa agak tenang.
“Kau tahu? Bersikap masa bodo adalah sifat alami para dewa, karena itulah orang-orang tidak akan segera mendapatkan apa yang mereka inginkan hanya dengan berharap belas kasih dari Dewa.”
“Mereka hanya sedang mengekspresikan rasa syukur atas kehidupan yang telah kau berikan. Jadi biarkan saja. Bahkan mungkin kau bisa memanfaatkan keimanan mereka terhadapmu.”
Meskipun sulit tapi aku harus mencobanya, bersikap acuh pada mereka yang berpikir aku adalah dewa. entahlah, aku merasakan firasat buruk tentang ini.
***
__ADS_1