
Hasil dari integrasi yang didapat dari ketiga goblin menyebutkan jika mereka memang berniat menyerang desa goblin. Karena saat itu Ratu dan pasukan terbaiknya sedang keluar sehingga pertahanan desa otomatis menjadi lebih lemah.
Pemimpin dari pasukan pemberontak adalah manusia bernama Sarif yang merupakan seorang pembunuh terampil dari Genk Karbon. Perjalanan mereka hampir sampai tujuan, namun terhenti ketika melihat sosok misterius berjubah kuning.
Sarif yang penasaran bertanya pada para Goblin yang bersamanya, namun tidak ada satupun dari mereka yang mengenali sosok berjubah kuning. Satu-satunya informasi yang dia dapatkan hanya seekor beruang berlengan empat yang menjadi tunggangan sodok misterius.
Pembunuh terlatih itu pada awalnya berniat membiarkan sosok misterius, karena dia merasa tidak akan menguntungkan jika berurusan dengannya.
Mengingat jika beruang yang sosok itu tunggangi merupakan monster penjaga desa goblin yang telah menewaskan banyak manusia. Jika kedua pihak bertarung pasti akan mengakibatkan kerugian besar.
Tetapi seorang mata-mata goblin dari desa datang untuk memberikan informasi mengenai sosok berjubah kuning. Mendengar jika sosok misterius itu merupakan utusan dari desa atas membuat Sarif merubah rencananya.
Dia berniat menggunakan desa atas yang menurut cerita para Goblin memiliki kekuatan lebih besar dari desa goblin untuk melawan pasukan Ratu Goblin.
Sebelumnya Sarif sudah berulang kali bertarung melawan pasukan Ratu Goblin. Dan dari sekian banyak pertarungan yang terjadi selama dua bulan terakhir, Assassin itu selalu gagal menyelesaikan tugasnya mencabut nyawa Goblone.
Rencana kali ini adalah memusnahkan seluruh warga desa goblin yang bertujuan untuk melemahkan mental Ratu Goblin dan pasukannya. Tetapi sejujurnya Sarif tidak yakin rencana ini akan berhasil, karena ada kemungkinan bukannya melemahkan mental pasukan Ratu Goblin justru akan mengamuk.
‘Meskipun pihak manusia nantinya akan menang melawan pasukan Goblin yang mengamuk, tetapi kerugian yang dihasilkan tidaklah sedikit.’
Karena pemikiran tidak ingin mendapatkan banyak kerugian membuat Sarif ingin memanfaatkan kekuatan lain dengan memiliki resiko terkecil. Rencananya setelah membunuh utusan dari desa atas, mereka akan menuduh Ratu Goblin yang telah melakukan pembunuhan itu.
Rencana yang sangat sederhana, tetapi tidak ada yang mengira jika rencana itu memiliki kesulitan terburuk dibandingkan menghadapi kemarahan Ratu Goblin.
Hingga pada akhirnya seperti yang diketahui rencana adu domba antara desa goblin dan desa atas berakhir dengan kegagalan dikarenakan utusan terlalu kuat untuk mereka lawan.
Manusia yang dikatakan sebagai pembunuh terampil bahkan tidak mampu bereaksi ketika Sergio menerkamnya dari belakang di tempat dia bersembunyi.
“Jadi itulah kenapa mereka tiba-tiba menyerang yang mulia.” Goblone menjelaskan padaku hasil interogasi nya terhadap tiga goblin.
Aku terus mendengarkannya berbicara sambil menikmati daging bakar. Rasanya seperti daging ayam, namun ukurannya sangat besar. Mungkin ayam yang digunakan juga mengalami evolusi.
Meskipun rasa dagingnya terasa lezat tetapi aku memilih tidak makan terlalu banyak karena ingin memberi ruang dalam perutku untuk makanan nanti malam.
__ADS_1
Setelah menghabiskan satu ekor ayam bakar, aku melihat ketiga goblin hendak dieksekusi. Sepertinya hukuman bagi penghianat begitu keras di antara para Goblin.
Algojo bersiap memotong kepala ketiganya, tangisan meminta pengampunan terdengar keras namun Goblone mengabaikan mereka.
Hingga akhir eksekusi pun dilakukan .
“Hem.... pemandangan yang entah kenapa membuatku merasa lapar lagi.”
Kepala terpotong, darah mengalir, ratapan putus asa. Jika aku yang dulu pasti sudah muntahan melihat apa yang terjadi di depanku saat ini. Namun anehnya aku tidak merasakan keanehan apapun, seakan aku sudah terbiasa melihat pembunuhan, potongan daging dan genangan darah.
Aku merasa sudah bukan lagi duriku sendiri. Seakan sesuatu sedang mencoba membuatku terbiasa dengan adegan kekerasan yang menjijikkan.
Setelah melakukan eksekusi pada 3 goblin pengkhianat, Goblone berniat melakukan hal yang sama terhadap kelima manusia. Tetapi aku segera mencegahnya lantaran masih banyak yang ingin aku ketahui dari mereka. Alhasil kelima manusia dijadikan sebagai tawanan.
***
Desa Buangan, tempat itu tidak mengalami banyak perubahan selama tiga bulan terakhir. Persawahan yang telah siap panen menjadi satu-satunya hal mencolok dari pemukiman yang dihuni kurang dari 50 populasi tersebut.
Sepertinya hubungan para Goblin dan pengungsi yang tinggal di desa ini cukup baik.
Namun aku sadar jika tidak semua manusia bisa menerima keberadaan goblin, banyak juga warga yang menunjukkan kebencian mereka terhadap Goblone dan pasukannya.
“Selamat datang Ratu goblin dan seorang utusan dari desa atas.” pemimpin desa Buangan, bapak Sugeng menyambut kedatangan kami.
Aku melihat banyak anak yang menatapku dengan penasaran, mereka terlihat kagum padaku karena menunggangi monster beruang. Tetapi tidak ada satupun yang berani mendekatiku, mungkin karena aura intimidasi yang aku miliki.
Ini membuatku penasaran, kira-kira apa yang akan terjadi pada anak-anak itu jika aku menunjukkan wajahku yang bisa membuat Goblin pingsan dan pria menjerit histeris seperti seorang pertempuran?.
Ide buruk untuk melakukannya, itu pasti akan membuat mereka trauma. Jadi ayo kita buka tudungnya.
Ketika aku hendak membuka tudung, mendadak aku melihat pada peta ada belasan titik biru bergerak ke arah desa Buangan. Dari pergerakannya yang melewati pepohonan begitu mudah membuatku sadar jika itu adalah objek tebang.
‘Dilihat dari kecepatannya bergerak, sudah jelas jika itu adalah Baloon.’ pikirku.
__ADS_1
Tidak lama kemudian tebakanku terbukti benar, belasan balon turun dari dataran yang lebih tinggi tepatnya dari desa atas. Mereka datang ke desa Buangan untuk menjemput penduduk desa yang ingin menghadiri pesta.
Anak-anak begitu antusias ingin segera menaiki balon udara, seakan mereka tidak peduli dengan monster kerangka hidup yang menjadi masinis kendaraan terbang itu.
Melihat jika jemputan sudah datang, Pak Sugeng sebagai kepala desa meminta pada para warga untuk bersiap berangkat. Meskipun aku ingin berbicara pada pria tua itu tapi untuk saat ini aku akan menahannya.
Keributan kecil terjadi ketika ada warga yang menolak untuk menghadiri pesta. Mendengar itu sontak membuat kepala desa marah. Pak Sugeng mengaggap penolakan dari warganya bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap organisasi yang telah membantu mereka selama ini.
Terlebih lagi dia takut jika pasukan Ratu Goblin marah setelah mendengar jika warganya tidak mau hadir dalam pesta yang diadakan oleh Tuannya.
Sugeng mengetahui betapa loyalnya Goblone terhadap sosok bernama Arang. Dia bahkan yakin jika Ratu Goblin itu lebih mengutamakan perintah dari Arang dibandingkan nasib dari rakyatnya sendiri.
Pada akhirnya karena rasa takut mereka terhadap Ratu Goblone, para warga yang awalnya tidak ingin mengikuti pesta berakhir dengan ikut bersama warga lainnya.
Aku melihat beberapa warga membawa bingkisan, mungkin itu adalah hadiah yang telah mereka persiapkan untuk Arang.
Satu persatu balon udara terbang secara teratur, keadaan langit yang mulai perang membuat pemandangan di langit terlihat begitu indah. Setiap anak terlihat begitu bersemangat, mereka sangat senang karena akhirnya bisa menaiki balon udara.
Di atas banyak balon udara yang lebih dahulu terbang, itu adalah pasukan Baloon yang dikerahkan untuk menjemput penduduk desa goblin. Banyaknya pasukan Baloon yang terbang membuatnya terlihat seperti pasukan lampion.
Aku menikmati suasana ini, sungguh terasa tentram. Namun momen itu agak rusak saat mataku menemukan area hutan yang menjadi rusak akibat penebangan.
“Siapa yang melakukan itu?.” tanyaku?.
Goblone tidak mengerti apa yang aku katakan, hingga aku menunjukkan area dibawah kaki gunung.
“Luar bisa, anda bisa melihat area itu pada jarak sejauh ini.” balas Goblone yang merasa takjub dengan kemampuan mataku karena mampu melihat dalam jarak yang begitu jauh.
“Itu adalah area dimana manusia datang.” balas Goblone.
Mudah ditebak memang, karena tidak ada hewan atau monster yang melakukan penebangan pohon dalam jumlah besar selain manusia. Apakah mereka berniat mendirikan sebuah pemukiman ditempat itu?.
Desa Buangan.
__ADS_1