
ratusan duri tajam ditembakkan oleh monster mawar kearah kami, dengan sigap aku membuat tembok tanah dari sihir bumi untuk berlindung. Serangan pertama dari para monster hutan pemakan daging bisa ditahan, namun keadaan masih belum aman.
Belasan monster mawar melompat dari dahan pohon tempat mereka sebelumnya melempar duri. Lengan mereka berubah menjadi berbagai senjata seperti sabut, cambuk berduri hingga tombak panjang.
“Monster, monster ini seakan sudah terbiasa bertarung.” aku menatap para monster tanaman yang melompat kearahku.
Ctak! Satu jentikan hari dariku memberikan isyarat pada Bearsatu dan Sergio untuk menyerang.
Raungan beruang itu membuat setengah dari monster tanaman mematung, mereka terjatuh begitu saja seperti boneka. Sedangkan sisanya harus menghadapi proyektil es yang ditembakkan oleh Sergio.
“Bukankah ini terlalu mudah?.” ucapku saat menghabisi monster tanam yang mematung akibat raungan Bearsatu.
Kreek! Monster tanaman menjerit kesakitan ketika aku memotong kepalanya menggunakan sebatang kayu. Kelopak mawar seketika berguguran saat monster itu terbunuh.
Ding!
[Kelopak bunga dari monster tanaman bisa dijadikan berbagai ramuan, dan juga bisa]dijual dengan harga tinggi di toko]
Mendengar informasi dari sistem, aku segera melihat harga jual kelopak mawar dari monster tanam. Lalu setelah melihat harganya aku memutuskan untuk melakukan pemanen sebelum keluar dari hutan ini.
Dengan bantuan peta aku bisa dengan mudah menemukan keberadaan monster tanaman. Tetapi masalahnya mereka berada ditempat yang terpisah-pisah sehingga akan memakan waktu lama untuk memburu mereka satu persatu.
“Karena itu aku butuh bantuan kalian.” ucapku pada tiga goblin yang sekarang aku gantung pada pohon secara terbalik.
Ketiga goblin menatapku dengan penuh ketakutan. Mereka seperti sedang melihat dokter gila yang akan melakukan eksperimen tidak manusiawi terhadap tumbuh mereka.
Untuk melakukan pemanen monster aku sudah mempersiapkan beberapa hal, salah satunya adalah area pertarungan. Aku sengaja memilih area terbuka ditengah hutan agar bisa melawan banyak monster sekaligus dengan mudah.
“Apa kalian siap?.”
Pertanyaanku segera dijawab dengan Raungan dan lolongan kedua hewan imut itu. Berikutnya aku mengeluarkan bola cacing dari mulut ketiga goblin, kemudian seperti sebelumnya teriakan para Goblin yang ketakutan segera bergema di seluruh sudut hutan.
Groooooar! Raungan monster terdengar dari kejauhan. Aku merasa bukan hanya sepuluh atau dua puluh monster yang mendapatkan undangan dariku.
“Ini dia!.”
Pohon disekitar kami bergetar, lalu puluhan monster dengan kepala berbagai macam bunga menyerang secara serempak.
__ADS_1
“Machine Gun mode!.”
[Mengaktifkan mode Machine Gun].
Tanganku dengan cepat berubah menjadi senapan mesin. Bentrokan dimulai ketika suara tembakan meletus. Puluhan monster tanaman berjatuhan oleh serangan dariku, namun jumlah mereka masih terlalu besar.
Bersatu dan Sergio bekerja sama mengikis jumlah monster. Serangan sihir es dan cakar berubah dengan mudah mencabik-cabik tubuh monster tanaman. Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin banyak monster yang telah kami kalahkan.
Kelopak mawar berterbangan di udara, ares luas yang sebelumnya hanya ditumbuhi rumput kini sepenuhnya berwarna merah oleh kelopak bunga .
[Peringatan senjata mesin mengalami kepanasan karena terlalu lama digunakan. Disarankan untuk mengubah mode senjata]
“Overheat! Di saat seperti ini.”
Karena terlalu menikmati membantai tanaman aku sampai lupa untuk menahan diri. Akibatnya mesin terlalu panas sehingga tidak bisa digunakan untuk sementara waktu.
Di saat itu juga salah satu monster tanaman berhasil mendekatiku. Segera monster tanaman mengayunkan lengannya yang berupa akar berduri kearahku, tetapi dengan mudah aku menangkap lengannya setelah tanganku kembali ke mode normal.
“Serangan selambat ini bagaimana mungkin bisa melukaiku?.”
Grab! Aku mencengkram leher monster tanaman yang sebelumnya hendak menyerang ku.
“Biar aku ambil kepalamu.”
Jrasss!
Dengan begitu mudah layaknya mencabut rumput liar, aku menarik kepala monster hingga terputus.
Kelopak mawar mulai berguguran dari kepala monster di tanganku. Melihat kejadian itu membuat monster lainnya agak ragu untuk menyerang, jumlah mereka telah berkurang begitu banyak sehingga kesempatan menang pun semakin kecil.
Tetapi ada satu hal yang membuat para monster tanaman memiliki keyakinan jika pihak mereka akan menang, yakni stamina yang kami miliki.
Sergio dan Bearsatu sudah mulai kelelahan setelah bertarung melawan ratusan monster. Beberapa kali mereka bahkan terkena serangan monster tanaman karena fokus yang semakin menurun.
“Jika kalian pikir akan menang hanya karena kedua temanku sudah tidak bisa bertarung. Maka kalian hanya menggantungkan harapan pada sesuatu yang tidak akan terwujud.”
Seluruh kulitku mencair menjadi liquid mental, memperlihatkan kerangka robot yang dipenuhi oleh cacing.
__ADS_1
“Keluarlah anak-anakku, sudah saatnya untuk makan siang.” Ribuan cacing segera merayap keluar dari tubuhku. “Menu kali ini merupakan menu makanan vegetarian.”
Setiap cacing yang telah meninggalkan sarangnya mulai tumbuh besar dengan cepat, sebagian besar berakhir menjadi Wurm kecil setelah berevolusi.
Monster tanaman sebelumnya berpikir telah unggul dalam jumlah, tetapi melihat banyaknya pasukan cacing yang siap bertempur, seketika angan-angan mereka akan kemenangan jatuh hingga ke dasar.
Tetapi makhluk berkepala bunga itu tidak akan mundur. Pertempuran masih berlanjut meskipun pemenang sudah ditentukan.
Ribuan cacing bukan hanya membanjiri pasukan tanaman dalam jumlah, tetapi pasukan mengerikan itu juga nyatanya memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan satu lawan satu dengan monster tanaman.
Lima menit berlalu, hutan pemakan daging yang sebelumnya ramai oleh pertarungan kini menjadi sunyi. Tidak ada lagi monster tanaman, sedangkan setiap cacing kembali ke dalam sarang mereka dengan perut kenyang.
Area tempat pertarungan sepenuhnya ditutup kelopak bunga. Menggunakan kemampuan Eating time, aku menghisap seluruh kelopak bunga dengan lubang di telapak tangan.
“Kalian berkerja keras dengan sangat baik.” aku mengerikan pujian pada Sergio dan Bearsatu.
Keduanya mungkin mereka rendah diri setelah melihat para cacing yang melakukan pembersihan pada pasukan monster. Aku harus berusaha membuat mereka tidak berpikir jika keberadaan mereka tidak berguna.
“Bertahan sebentar lagi oke, kita akan segera sampai ditempat tujuan. Jika tugas sudah selesai, kita akan menghadiri pesta besar bersama Arang!.”
Kedua binatang mutan menjadi sangat senang saat mendengar tentang pesta, dan kesempatan untuk melihat majikan yang sangat jarang terlihat.
Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa kali serangan monster hutan menghentikan kami, tetapi semuanya diselesaikan dengan relatif mudah.
“Aku pikir akan sangat disayangi jika kita meninggalkan tempat ini begitu saja.”
Pada akhirnya aku tidak bisa melakukan penjelajahan di hutan Pemakan Daging dengan skor poin seratus persen. Itu dikarenakan banyak hal yang sengaja dilewatkan demi melewati hutan ini dengan lebih cepat.
“Akan sangat disayangkan jika tempat ini tidak dimanfaatkan.”
Selama penjelajahan di dalam hutan aku menyadari jika banyak tanaman yang bermanfaat dari segi pengetahuan hingga ekonomi. Akan sangat disayangkan jika tempat ini ditinggalkan begitu saja menjadi hunian monster.
Merasa jika hutan pemakan akan menjadi wilayah yang sangat berharga, aku memutuskan untuk menempatkan ratusan cacing ditempat ini. Mereka terlihat sedih seperti anak anjing yang tahu akan dibuang.
"Ini cukup menyedihkan, tapi kalian harus hidup mandiri mulai sekarang agar menjadi lebih kuat dan berguna." para cacing mengerti apa yang aku katakan, tidak ada lagi keluhan dari mereka.
Hutan kematian akan menjadi taman bermain mereka, membuatnya menjadi lebih subur dan semakin mematikan.
__ADS_1