
Tania berlari dengan sempoyongan. Wanita itu sangat lemas karena rasa lapar yang luar biasa. Kelaparan yang dia derita begitu parah sehingga Tania hanya melihat tulang dilapisi kulit saat melihat tubuhnya yang sangat kurus.
Tania terlihat sehat beberapa jam yang lalu, tanpa tanda-tanda penyakit. Tetapi sekarang, dia seperti tidak makan selama berbulan-bulan. Ini bukanlah sesuatu yang normal.
Akhirnya, Tania jatuh karena tidak memiliki tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Di tengah kelelahan dan lapar yang dia rasakan, dia mendengar suara decitan hewan pengerat yang membuatnya waspada.
Suara itu berasal dari monster Giant Rat, seekor tikus sebesar anjing yang terjadi karena mutasi tikus liar. Tania tidak bergerak saat Giant Rat mendekatinya, dia berpikir bahwa ini mungkin akhir hidupnya, dimakan oleh seekor tikus.
Namun, tiba-tiba dengan kecepatan yang tinggi, Tania meraih leher Giant Rat dan mencekiknya dengan kuat. Giant Rat mencicit kesedihan saat merasakan rasa sakit dari cekikan di lehernya.
Tania menatap tikus besar itu yang berusaha melepaskan diri, hingga akhirnya suara cucitan Giant Rat berakhir dengan tulang yang patah.
Giant Rat yang sebelumnya berusaha melepaskan diri, tiba-tiba terdiam saat Tania memperkuat cengkeramannya dan mematahkan leher monster itu.
Tania bernafas dengan cepat, jantungnya berdegup kencang. Dia berpikir bahwa dia akan mati dimakan oleh tikus besar, tetapi dengan kekuatan yang datang entah dari mana, Tania berhasil mengalahkan monster itu dengan mudah.
Tania membuang mayat tikus besar itu dan merasakan sakit kepala yang semakin parah karena rasa lapar yang tak tertahankan setiap menit.
Sejak bertemu dengan Aurelia dan mengalami rasa sakit yang sangat menyiksa, Tania merasakan tubuhnya dialiri kekuatan yang tak terbatas. Namun, sejak kekuatan itu datang, Tania merasa lapar dengan cepat.
Tania melihat mayat tikus yang sebelumnya dibuangnya. Air liurnya mulai mengalir saat matanya terus menatap bangkai itu. Meskipun pikirannya menolak, tubuhnya yang lemah mulai merangkak menuju bangkai itu.
Rasa lapar yang membuatnya menderita, menyingkirkan perasaan jijik Tania.
Dengan lahap, Tania memakan bangkai tikus besar tanpa memikirkan risiko yang mungkin dihadapinya setelah memakan makhluk mutasi itu. Rasa lapar membuat Tania kehilangan sisi kemanusiaannya sejenak, hingga semua bangkai itu habis dimakannya, Tania kembali pada akal sehatnya.
Dia menatap tangannya yang penuh darah. Tangan yang sebelumnya hanya kulit dan tulang kini kembali normal. Tania merasa sangat sehat setelah memakan satu bangkai tikus.
Tiba-tiba, terdengar suara decitan lainnya, membuat Tania menatap tajam ke arah asal suara itu. Dia terlihat seperti predator yang masih lapar, tikus besar yang sebelumnya berniat menyerang Tania justru merasa takut ketika melihat tatapannya.
Tikus besar yang ketakutan berusaha untuk mundur, tetapi sudah terlambat, Tania sudah mengincarnya. Dengan kecepatan yang luar biasa, Tania berhasil menangkap tikus besar yang berusaha melarikan diri.
__ADS_1
Suara cucitan penuh kesedihan bergema di hutan saat Tania memakan hidup-hidup buruan yang baru saja ditangkapnya.
Perasaan Tania semakin baik setiap kali dia mengisi perutnya. Dia merasa bebas, dengan kekuatan yang mengalir dalam dirinya, seolah tak terbatas.
Dengan tenang, Tania melanjutkan perjalanannya di hutan yang gelap. Darah yang melumuri tangan dan mulutnya menarik perhatian monster yang lebih besar, tetapi Tania tidak takut.
Tertawa dengan riang, suara Tania terdengar di seluruh hutan saat dia terus bertempur melawan monster yang sebelumnya ditakutinya.
Tania merasakan kekuatan pengendalian bayangan yang ia miliki jauh lebih kuat daripada sebelumnya, dan dia tidak merasa lelah seolah energi sihirnya tak terbatas.
"Ghahahaha, daging, beri aku lebih banyak daging!" tanpa sadar, Tania telah berubah menjadi pribadi yang sangat berbeda.
Setelah berjam-jam berburu, Tania beristirahat di bawah sinar rembulan. Perutnya agak membuncit karena terlalu banyak makan. Di atas tumpukan mayat monster, wanita itu tersenyum dengan bibir merahnya yang masih bercampur darah.
***
Pagi menjelang, Aurelia melakukan olahraga bersama Regalia. Keduanya melakukan beberapa gerakan senam untuk meregangkan otot di depan town hall yang megah. Olahraga yang semula hanya dilakukan oleh mereka berdua perlahan diikuti oleh para warga yang terpesona dengan semangat mereka. Hingga akhirnya, suasana berubah menjadi semarak acara senam massal yang tak terduga.
"Apa kau lupa jika hari ini kau harus pergi ke kota?" tiba-tiba seorang wanita berambut merah dan berotot menghampiri Aurelia yang tengah memimpin senam, mengejutkan semua orang.
"A.... Arang!" Aurelia dengan panik menghadapi pemimpin desa yang terkenal sangat tegas. Semua warga yang sebelumnya bersenang-senang juga mulai membubarkan diri, melihat itu membuat Regalia sedih.
Aurelia tidak tega melihat adiknya sedih seperti itu, namun Arang berusaha mendidik Regal dengan ketegasan. Dia ingin mengajari Regal tentang kedisiplinan dan tanggung jawab.
Aurelia mengerti maksud Arang. Jika tidak bisa mengajari dengan kata-kata, setidaknya jangan menjadi contoh yang buruk. Aurelia juga tidak ingin memberikan pengaruh negatif pada adiknya.
"Mbakyu, cepat kembali!" seru Regalia sambil melambaikan tangan. Aurelia tersenyum sembari membalas lambaian Regalia. Dia merasa bersemangat setelah melihat adiknya, meskipun dia terpaksa harus berpisah dengannya karena harus pergi ke kota.
Aurelia melompat dari atas tebing, meluncur jatuh dengan cepat menuruni gunung. Jubah kuning yang Aurelia kenakan berubah menjadi wingsuit sehingga gadis itu bisa melayang lebih lama dan lebih mudah mengendalikan tubuhnya saat meluncur di udara.
Dalam waktu singkat, Aurelia berhasil mencapai pabrik pengolahan kayu. Dia mendarat dengan mengubah jubah kuning menjadi parasut.
__ADS_1
"Sungguh item yang serba guna," ucap Aura yang puas dengan kinerja item sihir Jubah Kuning. Dia merasa bangga bisa menggunakan item tersebut dengan baik.
Kemampuan item sihir itu selain bisa menutupi wajah pemakainya jika tudungnya digunakan, juga bisa menyatu dengan kulit Aura yang terbuat dari liquid mental maupun yang terbuat dari sulaman cacing kecil. Kemampuan itu membuat Aura bisa mengendalikan jubah kuning dengan leluasa selayaknya tubuhnya sendiri.
Semua mutan, atau yang Aurelia sebut dengan ras Abomination, menyambut kedatangan tuan mereka saat kembali ke area pabrik. Mereka memperhatikan Aurelia, menunggu perintah selanjutnya.
Sebelumnya saat rapat kemarin malam, Aurelia dan Arang membicarakan mengenai ras Abomination yang Aurelia ciptakan. Arang menanyakan kegunaan dari monster raksa mengerikan dan semua zombie mutasi.
Awalnya Aurelia kesulitan memberikan jawaban yang tepat. Dia tidak ingin mengungkapkan bahwa dia tidak memiliki rencana apa pun saat menciptakan ras Abomination.
Setelah melalui berbagai tekanan batin yang sangat menyiksa, akhirnya Aurelia memberikan alasan jika penciptaan ras Abomination adalah untuk menjaga kelestarian lingkungan gunung.
Aurelia memberikan contoh penebangan hutan yang sangat parah yang dilakukan oleh Genk Karbon selama tiga bulan. Mendengar alasan itu, Arang memahami maksud baik Aura.
"Tapi masalahnya, bagaimana kau merawat mereka?" Arang khawatir jika kehadiran ras Abomination justru akan merusak ekosistem di dalam gunung.
Namun, Aurelia tampaknya tidak perlu khawatir karena dia telah menanamkan jantung Iblis dalam tubuh Goregor. Jantung Iblis bukan hanya berguna untuk menyimpan pasukan zombie mutan, tetapi juga bisa meregenerasi tubuh inangnya. Dengan begitu, daging Goregor tidak akan pernah habis meskipun dijadikan makanan untuk rasanya sendiri.
"Mulai sekarang kalian adalah penjaga gunung Diraksa yang suci!" Aurelia memberikan tugas untuk semua ras Abomination. "Berikan hukuman bagi makhluk luar yang berani merusak gunung kita dengan tangan kotor mereka!"
Setelah Aurelia menutup pidato singkat, semua zombie mutasi dan Goregor bergemuruh dalam suka cita. Mereka seakan telah diberikan mandat langsung dari Dewa.
Semua zombie mutasi kembali bersatu dengan Goregor yang akan melakukan tugasnya menjaga gunung Diraksa. Raksasa Titan itu akan berkeliling di sekitar gunung, siap menghadapi ancaman apa pun.
Sekarang hanya tersisa Aurelia seorang diri di tempat itu. Dia kemudian mengambil beberapa batu kotak dari dalam storage untuk disusun menjadi sepuluh tugu prasasti yang berisi himbauan kepada para pengunjung.
[Gunung Diraksa: tempat bersemayamnya penjaga gunung. Sangat berbahaya, resiko kematian 95%]
Setelah membuat tugu peringatan itu, Aurelia akhirnya melanjutkan perjalanan menuju kota, penuh semangat dan keberanian.
***
__ADS_1
Arc 2 berakhir