System Play Store

System Play Store
89. Keadaan tidak terduga


__ADS_3

Aku sedang diikuti.


Geerrrrrr!


Guk! Guk! Guk!


Sergio yang sadar akan keberadaan para penguntit segera menggonggong ke arah mereka berada. Karena tidak kunjung keluar, serigala musim dingin itu pun mulai memasang kuda-kuda.


Aku segera melompat dari punggung Bearsatu untuk menghentikan Sergio membekukan seluruh hutan dengan sihirnya.


“Anak baik, aku senang kau melindungi ku. Tetapi tidak apa, mereka hanya para Goblin yang tersesat.”


Nguiing!. Suara Sergio terdengar begitu lucu ketika aku menggaruk lembut kepalanya.


Setelah itu aku meminta para penguntit untuk segera keluar dari tempat mereka bersembunyi, dengan ancaman jika tetap tidak mau menunjukkan keberadaan mereka maka aku tidak akan menghentikan Sergio untuk kedua kalinya.


Ancaman itu berhasil, para Goblin yang mengikut aku sejak meninggalkan desa goblin akhirnya keluar dari tempat mereka bersembunyi. Ada lima goblin yang mendekat, sedangkan yang lainnya...


‘Ada apa ini, kenapa manusia...?.’


Aku merasa sesuatu yang aneh. Mereka tidak terlihat seperti para Goblin yang menguntit ku karena kekaguman. Tetapi aku justru merasakan niat jahat dari mereka.


Sergio dan Bearsatu aku perintahkan untuk waspada tetapi tetap tenang. Aku tidak bisa bertindak gegabah karena jika melakukan kesalahan takutnya memancing kemarahan Ratu Goblin.


‘Aktifkan mode perekaman?.’


[Mode perekaman aktif. Sekarang apa yang anda lihat akan direkam]


Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, aku ingin rekaman yang aku buat menjadi barang bukti. Meskipun aku lebih suka jika tidak ada hal buruk terjadi.


Satu dari lima goblin yang seperti adalah pemimpin kelompok itu maju lalu berkata dengan bahasa yang masih kasar, sepertinya dia tidak terbiasa menggunakan bahasa manusia, sangat berbeda dengan goblin tua yang aku temui di desa.


Intinya goblin itu hanya ingin meminta maaf karena membuatku tidak nyaman diikuti olehnya dan rekannya. Cara dia berbicara begitu bertele-tele seakan sengaja ingin membuyarkan fokus ku.


Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang ingin mereka lakukan, tetapi ada tugas yang harus aku selesaikan. Aku kembali menaiki punggung Bearsatu, tetapi tiba-tiba...


Swiiing!

__ADS_1


Telingaku mendengar suara sesuatu yang melesat cepat membelah angin menuju kearahku. Insting mengatakan jika itu adalah anak panah, dan benda yang seharusnya digunakan untuk menyerang musuh itu terbang mengarah ke kepalaku.


Grab! Dengan cekatan tanganku menangkap anak panah sebelum mengenai kepalaku. Dapat aku lihat kelima goblin terkejut dengan apa yang aku lakukan, tetapi keadaan itu tidak berlangsung lama.


Guigi! Goblin yang sebelumnya berbicara padaku segera memberikan perintah pada rekannya. Semua goblin segera mengeluarkan senjata mereka, sudah jelas jika mereka ingin bertarung denganku.


Merasakan ancaman, Sergio dan Bearsatu mulai mengeluarkan intimidasi, mereka bersiap untuk bertarung melindungi ku. Tetapi tiba-tiba beberapa bola yang mengeluarkan asap dilemparkan oleh para Goblin kearah kami.


“Apa itu bom?.” aku terkejut para Goblin akan langsung mengeluarkan sesuatu yang berbahaya seperti bom untuk melawanku.


***


Ledakan terjadi beberapa kali, asap yang begitu pekat memenuhi penglihatan. Beberapa goblin merasa senang saat melihat betapa kuatnya ledakan yang dihasilkan dari bom.


Tetapi pemimpin mereka segera memerintahkan bawahannya untuk tetap siaga. Dia khawatir jika target mereka masih selamat, kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.


Beberapa bulan lalu dia pernah berhadapan dengan Bearsatu yang sedang melamun di atas tebing. Dirinya tidak sendiri tetapi bersama sepuluh kawannya, namun pertarungan yang terjadi saat itu tidak pantas disebut sebagai pertarungan.


Pihak goblin yang berniat membunuh kawan dari Ratu Goblin justru dibantai secara brutal. Hanya beberapa dari mereka yang berhasil selamat setelah mengorbankan teman sendiri untuk dijadikan sebagai umpan.


Beruntung saat itu dia menggunakan topeng sehingga Bearsatu tidak mengenalinya.


Sebuah tembok tanah setinggi lima meter dan lebar sepuluh meter berdiri kokoh di tempat wanita kuning itu berada. Terdapat retakan di dinding akibat dari ledakan, yang berarti tembok tersebut telah menahan ledakan dari bom.


Goblin menyadari jika dinding itu adalah hasil dari kekuatan sihir, dia pun memerintahkan anak buahnya untuk menyerang serempak menggunakan senjata.


Namun sebelum mereka bergerak maju, suara raungan Bearsatu dari balik tembok terdengar membuat beberapa goblin tidak mampu bergerak.


Raungan Bearsatu memiliki efek (stun) yang membuat tiga goblin tidak bisa bergerak, sedangkan dua lainnya masih berlari berniat menyerang.


Guesetop!


Goblin yang bisa menggunakan bahasa manusia berteriak pada dua rekannya untuk berhenti, namun perintahnya tidak diindahkan. Dua goblin melompat ke balik tembok, lalu yang terjadi berikutnya sangat mudah ditebak.


Raungan beruang terdengar kemudian cipratan darah dan suara ratapan para Goblin mengikuti. Keadaan menjadi mencekam selama beberapa saat, tiga goblin yang masih mematung tidak tahu apa yang terjadi dibalik tembok.


Suara ratapan goblin perlahan tenggelam berganti dengan suara koyakan daging dan remuknya tulang. Merasakan semua itu tentu semua orang pun tahu jika nasib dari kedua goblin telah berakhir.

__ADS_1


Barak! Tembok tanah runtuh oleh pukulan kuat Bearsatu. Melihat monster beruang berlengan empat dengan wajah penuh noda darah membuat ketiga goblin merinding ketakutan.


Salah satu goblin mengalihkan pandangannya pada hutan seakan mengharapkan bantuan datang. Sementara itu Bearsatu berjalan semakin mendekati ketiganya.


Air liur yang bercampur dengan darah menetes dari mulut Bearsatu seakan ingin memberitahu jika dua goblin saja belum cukup untuk mengisi perutnya. Para Goblin masih tidak bisa bergerak, dua diantaranya mulai menangis karena takut akan kematian, sedangkan yang satu lagi masih memiliki harapan jika ‘temanya’ akan datang menolong.


Zrak! Tiba-tiba sesuatu bergerak cepat dari pepohonan, melihat itu goblin yang berharap mendapat bantuan, kini merasa terselamatkan. Dua berpikir teman-teman yang merupakan para manusia pasti bisa menemukan cara untuk melawan Bearsatu.


Ghahaha! Karena terlalu bahagia membuat Goblin itu tertawa terbahak-bahak. ‘Aku akan selamat, aku pasti akan selamat.’ pikirnya.


Merasa ada yang aneh, manusia kuning yang duduk di punggung Bearsatu memerintahkan Berung itu untuk berhenti. Keadaan ini memperkuat dugaan goblin jika manusia kuning merasa terancam oleh keberadaan temannya.


Hingga semuanya terjawab ketika...


Gebuk! Sesuatu jatuh tepat di depan goblin, saat dilihat itu adalah benda bulat yang ditumbuhi bulu halus seperti rambut.


Tidak bulu halus itu memang rambut dan benda itu adalah sebuah potongan kepala. Potongan kepala dari manusia yang goblin anggap sebagai ‘teman’.


Aahhh... aaahhhh! Tawa kebahagiaan dengan cepat berubah menjadi jeritan kegilaan.


Goblin tidak percaya jika temannya telah tewas, dia sudah melihat kemampuan manusia itu, tidak mungkin temannya tewas dengan begitu mudah. ‘Siapa yang melakukan ini?.’ pertanyaan itu memenuhi pikirannya.


Grrrr! Suara eraman seekor anjing terdengar disampingnya, saat melirik goblin itu dikejutkan dengan kehadiran serigala putih yang sebelumnya berjalan dengan Bearsatu.


‘Sejak kapan?.’ para Goblin benar-benar tidak menyadari kehadiran serigala didekat mereka.


Hawa dingin perlahan dirasakan oleh tiga goblin dari serigala putih. Hawa dingin semakin kuat hingga terasa menusuk, jika dibiarkan seperti itu lebih lama, ketiga goblin akan berubah menjadi patung es.


“Sergio kau sudah selesai?.” tanya manusia kuning pada serigala putih.


Bark! Serigala putih berlari kearah manusia kuning lalu menjilati wajahnya.


“Oh, hey tenanglah Sergio, mulutmu penuh darah. kau mengotori wajahku.”


Serigala putih terus menjilati wajah manusia kuning hingga kulitnya melumer memperlihatkan tulang mengkilap seperti besi dan segerombol cacing menggeliat berjatuhan dari kulit yang terkelupas.


Bruk! Melihat sesuatu yang sangat mengerikan melebihi mimpi terburuk, akhirnya membuat ketiga goblin kehilangan kesadaran.

__ADS_1


***


__ADS_2