System Play Store

System Play Store
111. Bagian dalam Pabrik


__ADS_3

Big Jek masih terkapar di tanah, luka yang dia derita membuatnya tidak bisa bergerak. “Tolong aku, siapapun!.” dia masih tidak menyerah untuk meminta pertolongan.



“Ben! Aku tahu kau mendengar ku. Cepat tolong aku atau orang tuamu nanti dalam masalah.” Big Jek langsung menggunakan kartu AS nya yaitu teknik ancaman.



Dia melakukan pengancaman terhadap beberapa pengawas yang masih berada di dalam pabrik, tetapi bahkan setelah mengatakan ancamannya dengan keras hingga mulut Big Jek berbusa, masih saja tidak ada yang datang untuk membantunya.



“Sialan, kalian akan menyesal karena telah mengabaikan aku!.” Big Jek sangat marah karena tidak ada satupun yang bersedia menolongnya.



“Kau sungguh berisik.”



“!”



Big Jek sangat terkejut mendengar suara dari gadis yang telah membantai rekan-rekan. Ketakutan yang menghilang karena amarah dan rasa sakit, kini kembali lagi menghantui pria besar itu.



“Mo... monster! To.... tolong, kumohon tolong aku!.” Big Jek yang ketakutan mencoba menyeret tubuhnya menjauh dari Aurelia, namun...



“Gyaaa!” tangan Big Jek yang sebelumnya patah oleh pukulan Aurelia, kini lukanya semakin parah. Rasa sakit dan ketakutan yang dia alami membuat Big Jek menangis keras, hingga dia tidak tahan untuk buang air.



“Dasar bab!.” umpat Aurelia saat mencium bau tidak sedap dari celana Big Jek yang mulai basah.



“Siapapun kumohon! Siapapun tolong!.”



“Diam sialan, kau suaramu yang berisik membuatku muak!.”



Krack! Terdengar suara tulang patah begitu Aurelia menginjak kaki Big Jek yang terluka. Serangan itu tentu membuat teriakan Big Jek semakin keras, tapi Aurelia memiliki cara untuk membuat bab! Itu berhenti berteriak.



Dari telapak tangan Aurelia muncul seekor cacing biasa yang kemudian berevolusi menjadi Worm o War. Gumpalan cacing itu kemudian dipadatkan hingga menjadi bola daging seukuran bola pingpong.



“Buka mulutmu!.” pinta Aurelia yang tentunya tidak digubris Big Jek, merasa kesal Aurelia kembali menginjak kaki pria itu hingga membuatnya kesakitan.



“Gyaaa.. ghookk... apa... apa yang kau masukkan kedalam mulutku....” Big Jek panik saat tiba-tiba Aurelia memasukkan sesuatu yang aneh kedalam mulutnya.



Big Jek mencoba memuntahkan bola aneh yang masuk kedalam mulutnya, namun bola Itu justru bergerak masuk ke dalam tenggorokannya.



“Gyaaa... keluar... keluar... !.” Big Jek mencoba mengambil bola di mulutnya hingga memasukkan tangannya sendiri tetapi usahanya percuma, bola daging yang merupakan kumpulan koloni cacing sudah masuk kedalam perutnya.

__ADS_1



“Sekarang diam dan biarkan anak-anakku bersarang di dalam tubuhmu.” setelah mengatakan itu Aurelia kembali berjalan menuju pabrik kayu.



Sedangkan Big Jek merasakan sakit perut yang sangat menyiksa. Dia ingin berteriak karena rasa sakit diperutnya, namun tenggorokannya seakan tersumbat oleh sesuatu sehingga suaranya tertahan.



\*\*\*



Ketika memasuki pabrik, Aurelia segera disambut dengan sangat hangat, hingga dia merasakan seluruh tubuhnya terbakar oleh sambutan itu.



“Wow, sungguh sambutan yang sangat ramah.” ucap gadis itu yang tubuhnya dibakar dengan pelontar api oleh tiga karyawan pabrik.



Mereka berpikir api akan membunuh monster yang mengenakan jas hujan kuning tersebut. Namun mereka hanya berhasil membakar kulit luarnya saja.



“Tck, padahal aku mulai menyukai jas itu dan berpikir untuk menjadikannya sebagai ikon.” ungkap Aurelia sat melihat jas kuning yang dia kenakan terbakar.



Setelah seluruh jas kuning habis terbakar, Aurelia kini terlihat seperti gadis muda pada umumnya, tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya memperlihatkan lekuk sempurna dari sebuah mahakarya yang sangat menggoda.



Semua karyawan pabrik seketika terkesima melihat monster yang telah membunuh para pengawas di luar ternyata hanyalah seorang gadis yang sangat cantik.




Lima jari Aurelia memanjang lalu mengikat ketiga karyawan pabrik begitu erat dan terus mengerat hingga mereka terbunuh karena tergencet.



Melihat kengerian itu sebagian karyawan memutuskan untuk melarikan diri, sedangkan yang masih melawan berakhir dengan sangat tragis.



“Aku masih mempertanyakan alasan kalian menyerang ku.” ucap Aurelia sembari melempar mayat yang baru saja dia bunuh.



Lobi pabrik yang dimasuki Aurelia kini sudah dipenuhi oleh mayat para karyawan yang mencoba menyerangnya. Gadis itu menghela nafas panjang menyesalkan pembunuhan yang tidak diperlukan.



Aurelia beranggapan apa yang dia lakukan adalah bentuk pembelaan diri karena mereka mencoba membunuhnya.



“Jika kalian tidak nakal, aku pun tidak akan menghukum kalian.” kata Aurelia saat masuk lebih dalam ke dalam pabrik.



Beberapa karyawan yang bersembunyi sambil bersiap melakukan serangan dadakan, akhirnya mengurungkan niat mereka. Meskipun perkataan Aurelia tidak bisa mereka percayai, tetapi tidak ada pilihan lain.



Karena jika memutuskan kembali melawan maka tidak ada jaminan nasib mereka berbeda dengan rekan yang telah terbunuh di lobi. Merasa tidak ada kesempatan untuk menang membuat mereka tetap bersembunyi.

__ADS_1



Aurelia akhirnya tiba-tiba ditempat para karyawan bekerja.



Tempat itu dipenuhi kayu...



“Ya, namanya juga pabrik kayu, memangnya apa yang kau harapkan ada di dalam pabrik kayu kalau bukan kayu?.” balas Aurelia kesal.



Dia marah karena tubuhnya terasa lengket akibat cipratan darah, potongan daging dan jus otak yang mengotori seluruh badannya. Merasa tidak nyaman. Aurelia melelehkan kulitnya menjadi liquid mental untuk membersikan diri.



Seluruh darah dan daging yang menempel di kulitnya terserap kedalam tubuh menjadi makanan koloni cacing yang berada di dalam kerangka Terminatrix.



Liquid metal kemudian kembali menjadi kulit, dan kini Aurelia mengenakan sebuah baju lantaran dia tidak suka tubuhnya terekspos begitu saja.



“Aku bukan seorang eksibisionis tau.” gumamnya.



\[Iya kah?\]



“What the ...” Aurelia terkejut karena tiba-tiba sistem menimpali perkataannya.



“Kenapa tiba-tiba?.”



\[Sistem hanya ingin memberitahu jika player belum menggunakan tiket roda keberuntungan harian\]



“Oh ya, tentu saja.”



Karena terlalu sibuk melindungi diri (membunuh) Aurelia sampai lupa memutar roda keberuntungan yang selalu dia nantikan setiap harinya. Aurelia berharap bisa mendapatkan jubah lainnya yang bisa menggantikan jas hujan kuning.



Tetapi saat berniat memutar roda keberuntungan, telinga Aurelia mendengar suara lain selain suara gemetar ketakutan para karyawan yang sedang bersembunyi.



Suara rintihan meminta pertolongan penuh keputusasaan dari anak-anak. Mendengar itu membuat Aurelia berpikir jika masih banyak anak-anak yang dipekerjakan di dalam pabrik.



Mengikuti suara yang dia dengar, Aurelia sampai ditempat penuh kandang besi. Di tempat itu dia bukan hanya menemukan anak-anak manusia tetapi banyak pula binatang yang ditahan di dalam kandang.



\[Menurut analisa, pemilik pabrik juga memburu binatang dan monster eksotis untuk diperdagangkan\]


__ADS_1


Sistem memberikan informasi sebelum Aurelia memintanya. Gadis itu merasa ada yang aneh dengan sistem, namun pikirannya segera teralihkan saat melihat anak-anak yang sekarat membutuhkan bantuannya.


__ADS_2