System Play Store

System Play Store
94. Tempat Penyimpanan


__ADS_3

Terpengaruh oleh perkataan manusia membuat Goblone menghentikan pukulannya. Kepanikan mulai menguasai Ratu Goblin itu, dia pun berencana kembali ke desa secepat mungkin karena khawatir terjadi sesuatu pada rakyatnya.


Tetapi sebelum Goblone memberi perintah penarikan pada pasukannya. Aku segera menghentikannya karena ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padanya.


“Aku penasaran apakah kau mengenal orang ini?.” ucapku pada pria yang masih bisa tertawa meskipun wajahnya sudah babak-belur.


“Kau? Siapa kau, apa aku mengenalmu? Kau pasti seorang budak yang dipekerjakan oleh para Goblin untuk menjadi bantal guling, bukan?.”


Mendengar perkataan pria itu yang sangat tidak sopan membuat Goblone naik pitam dan langsung menendang wajahnya.


“Guak! Sakit, yang itu sangat sakit sialan!.”


Tidak berhenti sampai di situ, Goblone terus menginjak-injak wajah manusia hingga virus hampir terbunuh.


Semua perkataan pria itu tentang keadaan desa goblin yang dimaksudkan untuk membuat Goblone ragu, sama sekali tidak didengarkan. Hingga aku melihat mata pria itu mulai menunjukkan ketakutan.


“Ratu hentikan.” pintaku sembari menarik bahu Goblone.


Goblone segera berhenti, kemudian mengatur nafas untuk menenangkan diri. “Maafkan saya, yang mulia. Saya menunjukkan sesuatu yang tidak pantas.”


“Kau tidak perlu meminta maaf. Marah saat mengetahui keluargamu tengah berada dalam bahaya adalah sesuatu yang sangat wajar. Aku pun akan bereaksi sama sepertimu jika ada yang berani mengganggu desaku.”


Kemarahan Goblone bisa aku mengerti karena pagi tadi aku juga merasa hal yang sama. Saat desa hampir dihancurkan oleh Naga yang datang entah dari mana, perasaanku sangat berantakan, kemarahan menguasai ku. Tetapi aku berhasil mengendalikan diri karena kepanikan tidak akan memecahkan masalah.


Aku berdiri di depan pria manusia yang kembali dipaksa untuk bersujud. Dia menatapku dengan wajah yang berdarah-darah, meskipun keadaannya sudah sangat mengenaskan tetapi tatapan penuh cemooh tidak menghilang dari sorot matanya.


“Kau sungguh manusia yang sangat percaya diri. Apa kau yakin jika ini bukan hari terakhir kau hidup?.”


Tatapan itu berubah sebentar, dia menatap rekan-rekannya yang sebelumnya terpengaruh oleh perkataannya. Keempat manusia berpikir jika akan selamat karena saat ini keadaan desa goblin sudah dikuasai oleh seseorang di pihak manusia.


Skenario pertukaran antara tawanan manusia dan desa goblin mungkin akan menjadi rencana terbaik untuk menyelamatkan kelimanya. Tetapi itupun jika pihak mereka memang sudah menguasai desa goblin.


“Aku ingin kau melihat wajah orang ini barangkali kau mengenalinya.”

__ADS_1


Semua orang terkejut saat aku tiba-tiba membuka tudung ku, bukan hanya manusia, goblin pun terlihat geran setelah melihat jika aku adalah manusia.


“Gadis secantik dirimu, sangat disayangkan justru menjual diri pada para Goblin. Kau pasti akan menyesal jika sudah tahu bagaimana rasanya bermain dengan manusia.”


Hingga akhir, pria itu masih bisa melempar lelucon kotor. Goblone berniat memberinya pukulan lain, tetapi aku segera menahannya.


“Kau pikir aku manusia?.” pertanyaanku membuat kelima manusia kebingungan.


“Ya, aku sadar jika wujudku saat ini begitu menar.....awgghhnghh!.” aku memasukkan lenganku kedalam mulut saat berbicara.


Tentu tindakanku membuat semua orang heran, terlebih saat aku memasukkan seluruh mengaku kedalam mulut. Itu terlihat seperti adegan film horor.


“Ghfat!”


Setelah menemukan apa yang aku cari, perlahan lenganku dikeluarkan dari mulut sambil menarik sesuatu yang aku ambil dari dalam perut. Semua orang terdiam setelah melihat apa yang aku keluarkan, keterkejutan membuat mereka seakan mematung hingga lupa untuk bernafas.


“Apa kau mengenali pria ini?.” aku menunjukkan kepala, sisa dari manusia yang dimakan oleh Sergio. “Ya, mungkin wajahnya sulit dikenali karena tertutup oleh sisa makanan pagi ku. Tapi seharusnya masih bisa dikenali jika dibersihkan.”


“Bagaimana anda bisa bertemu dengan manusia ini?.” Goblone bertanya dengan penasaran.


Saat ini Ratu Goblin jauh lebih tenang karena ancaman yang mengancam desanya telah dimusnahkan. Meskipun demikian Goblone masih khawatir karena ada para pengkhianat.


Aku pun menceritakan tentang penyergapan yang aku alami. Goblone merasa tidak percaya dengan ceritaku, namun melihat kepala manusia yang aku bawa membuatnya tidak dapat meragukan apa yang telah dia dengar.


“Bagaimana mereka menjadi begitu ceroboh dengan membuat keputusan untuk melawan anda?.”


Goblone berpikir jika manusia dan para penghianat memilih untuk menyandra warga desa, maka mereka memiliki kesempatan untuk mengalahkannya dan merebut kekuasaan Ratu goblin.


“Untuk pertanyaan itu, kau bisa bertanya pada mereka.” ucapku.


“Apa anda membawa para pengkhianat itu juga?.” aku mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Goblone.


Ratu goblin itu kemudian menatap Sergio dan Bearsatu yang kini sedang menertawakan tyrannosaurus. Dia pikir aku membawa goblin pengkhianat dengan Bearsatu atau Sergio, tetapi dia salah besar.

__ADS_1


Goblone kembali menatapku dengan kebingungan, aku hanya membalasnya dengan senyuman lebar. Semakin lama waktu Goblone semakin pucat seakan dia menyadari sesuatu.


“Mungkinkah mereka....” Goblone menatap perutku. “Mustahil bukan?.” gumamnya.


“Hey kau, kenapa kau berpihak pada para Goblin. Bukankah kau juga manusia?.” salah satu manusia bertanya padaku.


Meskipun dia telah melihat bagaimana aku mengeluarkan sepotong kepala manusia dari perutku, tetapi dia masih berpikir aku adalah bagian dari mereka karena rupaku yang terlihat sangat menarik.


Aku tidak membalas pertanyaan, aku hanya tersenyum melihat lima manusia yang nasibnya sudah ditentukan.


Melihat manusia yang ketakutan membuatku merasa lapar, hingga tanpa sadar aku membasahi bibirku dengan lidah karena berpikir sebuah sajian lezat ada di depan mataku.


Sementara itu para manusia justru berpikir jika aku sedang menggoda mereka.


“Ore wa ningen ja nai.”


Pernyataan ku jelas membuat setiap manusia kebingungan. Itu pasti karena mereka tidak bisa bahasa Japun.


Wajahku mulai meleleh memperlihatkan sarang cacing di dalam kepalaku. Melihat wujud asliku membuat kelima manusia muntah seketika, hingga dua diantaranya tidak kuat mental dan berakhir kehilangan kesadaran.


Sedangkan para Goblin segera berlutut di depanku, tidak terkecuali Goblone sendiri.


Satu Wurm kecil Keluar dari mulutku lalu memuntahkan sesuatu yang berukuran besar dari tubuhnya. Itu adalah tubuh dari ketiga goblin pengkhianat yang aku simpan di dalam perut ku sendiri.


Kembali saat berada di hutan pemakan daging, aku bertemu dengan monster bunga yang mirip seperti kantong Semar. Monster itu bisa menyimpan mangsanya yang masih hidup di dalam tubuhnya.


Menirukan kemampuan kantong Semar, aku pun menyimpan makhluk hidup yang merupakan para Goblin di dalam perut Wurm kecil.


Agar tidak tercerna oleh lambung aku membuat asam lambung cacing menjadi tidak begitu korosif sehingga aku bisa menyimpan makanan tetap hidup dalam waktu yang lebih lama.


“Well, aku merasa mulai kelaparan sekarang.” setelah memuntahkan banyak makanan, perutku terasa kosong.


Goblone mempersilahkan aku untuk beristirahat, sedangkan dirinya akan melakukan interogasi pada muntahan ku.

__ADS_1


__ADS_2