System Play Store

System Play Store
128. My gift


__ADS_3

Pengendara motor merayakan kemenangannya setelah melawan Mulyadi. Dia dan anggota Genk Klinting lainnya yakin bahwa kepala desa Ndalangili sekarang sudah terbunuh karena kuatnya serangan yang dia terima.


Namun, di dalam rumah yang telah berantakan, Mulyadi masih selamat meskipun kondisinya sangat parah. Mulyadi tidak dapat menggerakkan tubuhnya, dan terdapat lubang menganga di dadanya.


Dari atas atap, Aura turun dan mendekati Mulyadi. "Aku datang untuk memberikan hadiah untukmu," ucapnya sambil menunjukkan kaki palsu yang telah dia buat. Mulyadi terkejut melihat kaki palsu yang dibuat oleh Aura, benda itu terlihat cocok untuknya, namun...


"Aku sangat menghargai pemberianmu, namun sepertinya semuanya sudah tidak ada artinya," ucap Mulyadi dengan suara serak. Beberapa kali dia batuk darah sebelum akhirnya menyelesaikan kalimatnya.


Deru mesin dan suara klakson yang terdengar di luar tiba-tiba berhenti. Mulyadi merasakan firasat buruk mengenai hal ini, firasatnya terbukti benar saat Aura menjelaskan tentang ritual kematian yang dilakukan oleh Genk Klinting.


"Begitu, jadi mereka datang kemari hanya untuk melakukan pembantaian. Aku pikir inilah akhir dari desa ini," Mulyadi pasrah dengan nasib desanya. Dia hanya berharap agar segera mati sebelum mendengar tangisan dan ratapan menyayat hati warganya yang akan dieksekusi.


"Bagaimana bisa kau menyerah saat masih ada jalan untuk menyelamatkan semua orang?"


Aura memasangkan kaki palsu pada bagian kaki Mulyadi yang terpotong. Setelah dipasangkan, Mulyadi dapat merasakan energi miliknya terserap oleh alat itu yang semakin lama semakin memancarkan cahaya. Peristiwa itu terjadi hanya sesaat, setelahnya Mulyadi merasakan kakinya telah kembali seperti sediakala.


"Luar biasa, aku merasa kakiku telah kembali seperti sediakala," Mulyadi tersenyum lebar, namun mengingat kondisi saat ini, "Sayang sekali, andai saja aku mendapatkan hadiah darimu lebih cepat. Aku pasti bisa mengalahkan Genk Klinting, tapi sayangnya semuanya sudah terlambat sekarang, aku tidak bisa bertahan dari luka ini."


Mulyadi merasa ini adalah detik-detik terakhir dalam hidupnya. Luka yang dia derita terlihat fatal sehingga tidak mungkin bisa disembuhkan dengan Potion dari Aura.


"Luka yang mana?" celetuk Aura membuat Mulyadi terheran-heran, pemuda itu menganggap gadis yang terlihat seperti orang asing di depannya saat ini sedang bercanda.


'Bagaimana dia tidak melihat luka di dadaku yang begitu parah?' pikir Mulyadi sebelum dia menyadari sebuah keanehan, 'Rasa sakitnya... hilang?' Mulyadi mencoba menyentuh luka di dadanya, dia tidak merasakan telapak tangannya basah oleh darah, dia juga tidak merasakan perih akibat lukanya yang terbuka.


"Ap-apa yang sebenarnya terjadi?" pemuda itu menjadi begitu terkejut ketika mendapati lubang di dadanya sudah menghilang seolah-olah dia tidak pernah terluka. Namun, bekas luka pada kulit dada dan baju yang terlihat membuktikan bahwa luka yang sebelumnya dialami Mulyadi bukan sekedar halusinasi.

__ADS_1


***


"Apa kau yang telah menyembuhkan aku?" tanya Mulyadi penasaran. Tubuhnya yang sebelumnya lemah kini sembuh dengan cepat, dan Mulyadi dengan hati-hati berusaha untuk berdiri. Ia berhasil melakukannya, pemuda itu merasakan kenyamanan pada kaki palsu yang telah dibuatkan oleh Aura.


"Tidak sepenuhnya benar, tapi ya, aku menyembuhkanmu," jawab Aura dengan senyuman misterius. Gadis itu tanpa rasa takut membeberkan rahasia yang ia sembunyikan. Parasit yang telah ditanamnya di tubuh Mulyadi ternyata adalah bagian dari rencananya untuk menyelamatkan desa.


Mulyadi terkejut mendengar fakta bahwa Aura telah menginfeksi dirinya dan seluruh warga desa Ndalangili melalui makanan yang ia berikan secara cuma-cuma. Rasa marah pun melintas dalam pikiran Mulyadi, merasa ditipu oleh gadis ini. Namun, ia tetap mampu mengendalikan emosinya dan memilih untuk bertanya alasan di balik perbuatannya.


"Aku hanya tidak suka melakukan sesuatu yang sia-sia," jawab Aura dengan tenang, meninggalkan Mulyadi dalam kebingungan. Pemuda itu bertanya-tanya apa maksud sebenarnya dari perkataan gadis ini?


"Dunia ini menjadi lebih kejam setelah malam hujan meteor. Kematian terjadi setiap hari, hingga menjadi hal yang lumrah," jelas Aura, memperlihatkan pemahaman mendalam akan situasi yang sedang terjadi.


Aura ingin memastikan bahwa bantuan yang diberikannya pada penduduk desa tidak akan sia-sia. Ia yakin bahwa desa Ndalangili tidak akan dapat bertahan tanpa bantuan eksternal di tengah kondisi dunia yang semakin memburuk.


Mulyadi mulai memahami alasan di balik tindakan Aura. Ia menyadari bahwa dirinya tidak akan mampu melindungi desa ini sendirian, meskipun kini kaki palsu pemberian Aura telah membuatnya kembali normal, tetapi tetap saja dirinya tidak akan bisa melindungi semua orang dengan kekuatannya sendiri.


"Aku hanya ingin mendapatkan karma baik, itu saja," kata Aura dengan tulus, mencoba meyakinkan Mulyadi. Namun, pernyataan Aura tersebut memperkuat keyakinan Mulyadi jika Aura...


“Apa kau bisa membaca pikiranku?” tanya Mulyadi mencoba menghilangkan rasa penasarannya.


“Ya, aku bisa membaca pikiran orang lain dalam batas tertentu" arang membalas dengan enteng seakan dia tidak berniat menyembunyikannya kekuatannya di depan Mulyadi.


Hal itu membuat Mulyadi semakin ragu akan identitas sebenarnya dari gadis ini. Apakah Aura benar-benar manusia?, Aura tertawa kecil yang mengisyaratkan jika dia telah mendengar pemikiran Mulyadi.


"Apa kita hanya akan terus diam di sini dan mengobrol?" tanya Aura, mengingatkan Mulyadi akan prioritas mereka saat ini. Waktunya tidak banyak, warga desa masih dalam bahaya karena ancaman dari Genk Klinting.

__ADS_1


Cahaya terang dan udara panas memasuki ruangan. Satu anggota Genk Klinting masuk dengan membawa jerigen berisi bensin. Mulyadi menyadari bahwa anggota Genk ini bermaksud untuk membakar rumahnya.


"Oh, ternyata di sini masih ada dua kambing kurban," kata anggota Genk Klinting dengan senyum jahat, sambil mengeluarkan sebuah parang yang diikat di punggungnya.


Dengan percaya diri tinggi anggota Genk meminta Aura dan Mulyadi untuk ikut bersamanya dengan berbagai ancaman, hingga anggota Genk itu mulai marah karena kedua hanya menatapnya dalam diam.


“Sialan, apa kalian boneka manekin atau semacamnya!” dengan emosi anggota Genk Klinting melakukan penyerangan.


Mulyadi menghadang serangan anggota Genk tersebut. Terjadi pertarungan singkat, dimana Mulyadi berhasil mengalahkannya dengan pukulan keras menggunakan tongkatnya. Anggota Genk itu terjatuh tak sadarkan diri.


Aura, yang menyaksikan pertarungan itu merasa terkesan dengan kemampuan bertarung Mulyadi, tetapi dia juga mengomentari keputusan Mulyadi untuk tidak membunuh anggota Genk Klinting yang berniat membunuhnya.


"Aku hanya melakukannya karena efisiensi," ucap Mulyadi dengan alasan sederhana.


Mulyadi berniat keluar dari rumahnya untuk membantu warganya yang berada dalam bahaya karena Genk Klinting. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Aura melakukan sesuatu kepada anggota Genk Klinting yang telah ia pingsan.


"This is my Gift"


Seekor cacing muncul dari lubang di telapak tangan Aura, menyebabkan Mulyadi merinding ngeri. Pemandangan yang aneh ini membuatnya tidak tahan. Namun, Aura hanya tersenyum kecil, seolah-olah menertawakan ketidakmampuan Mulyadi untuk menerima hal-hal yang dianggap biasa oleh Aura.


"Tertarik melihat sesuatu yang lebih menarik?" goda Aura. Tiba-tiba, tubuh anggota Genk Klinting mulai bergetar dengan kejam. Wajah pria itu mencerminkan kejutan dan rasa sakit yang tak terkendali.


Mulut mereka bergerak, tetapi suara yang keluar hanya hening. Dari bentuk tubuh yang membengkak, hingga terjadi mutasi merubahnya menjadi sosok mengerikan. Melihat Mulyadi bisa merasakan betapa menyakitkannya proses yang mereka alami.


Melihat transformasi langsung dari manusia ke monster membuat Mulyadi merasa ketakutan. Ia takut bahwa parasit cacing yang telah menyebar ke dirinya dan warga desa lainnya akan mengubah mereka menjadi monster serupa.

__ADS_1


"Ya, kalian akan mengalami hal yang sama," kata Aura dengan santai, sambil menyaksikan dengan penuh kepuasan.



__ADS_2