System Play Store

System Play Store
66. Reborn as nonHuman


__ADS_3

Kekacauan melanda dunia, sistem yang mengekang manusia telah runtuh, bumi dilanda kebingungan. Peradaban yang hancur akibat bencana besar dan munculnya entitas misterius membuat manusia kini terpecah belah, tidak ada yang bisa saling mempercayai.


Keluarga dan teman semuanya seakan tidak memiliki makna, setiap orang bisa berbalik menyerang dan mengkhianati demi tetap hidup.


Kekuatan menjadi satu-satunya cara untuk bertahan, sementara yang lemah hanya punya satu pilihan yakni menjadi alat bagi yang memiliki kuasa.


Di tengah kekacauan itu muncul orang-orang yang mengatasnamakan kelompok mereka sebagai juru selamat utusan para dewa.


Jika bumi masih baik-baik saja, masyarakat pasti akan menanggapi kelompok seperti itu sebagai sekumpulan orang gila yang tergabung dalam aliran sesat.


Tetapi di masa yang begitu kacau, kelompok yang terlihat begitu mencurigakan pun dengan mudah mendapatkan banyak pengikut.


Dikarenakan masyarakat percaya jika sekumpulan orang gila seperti mereka dianggap lebih dipercayai dibandingkan orang normal yang penuh dengan tipu daya.


***


Tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, tetapi dengan jelas aku menyadari jika saat ini aku berada di dalam mimpi. Ini seperti yang sudah terjadi sebelumnya, tetapi bagaimana mungkin aku bisa mengendalikan mimpi ku sendiri dengan begitu sering.


Kali ini mimpi yang aku lihat bukan lagi tentang bencana yang kemungkinan akan terjadi di masa depan, tetapi yang aku lihat kali ini adalah ingatan bersama temanku Rani.


Ingatan yang begitu singkat, hingga semuanya berubah menjadi begitu aneh. Semua yang aku pikirkan menjadi kenyataan di dalam mimpi, contohnya ketika aku mengingat tentang pasukan Goblin yang menyerang pabrik, pemikiran itu membuat banyak pasukan Goblin tiba-tiba muncul di dalam mimpiku.


“Hah?, makhluk apa itu!.” Rani di dalam mimpi bertanya tentang pasukan Goblin yang datang entah dari mana.


Aku dan Rani menjadi begitu ketakutan karena terkepung oleh makhluk mengerikan yang hendak menjadikan kami sebagai budak. Melihat itu membuatku tidak ingin hal buruk terjadi pada Rani, meskipun aku sadar jika semuanya hanya sekedar mimpi.


Untuk menolong Rani dan diriku sendiri, aku membayangkan masing-masing dari setiap goblin mendapatkan wanted level bintang enam yang membuat monster-monster cebol hijau itu menjadi buronan negara.


Tidak lama kemudian suara sirine mobil polisi dan deru mesin helikopter terdengar semakin mendekat.


“Hingga mobil tempur lapis baja ikut datang.” ucapku saat melihat tempat tersebut menjadi begitu ramai.


Tanpa berniat untuk melakukan negosiasi, semua polisi segera menembaki para Goblin, bunyi tembakan yang memekakkan telinga hingga ledakan dari meriam Tank, semua kekacauan yang terjadi di depan mataku terlihat begitu nyata.


“Uwaaaa uwaaaa!.” Rani yang tidak tahu apapun hanya bisa menangis ketakutan sambil memelukku.


Tidak lama kemudian keadaan menjadi lebih tenang setelah semua goblin berhasil dimusnahkan. Setiap polisi yang datang segera membubarkan diri begitu saja setelah melakukan pembantaian terhadap para Goblin.


Melihat sikap polisi yang seperti npc pada permainan video game membuat Rani menjadi kebingungan. Aku hendak mengatakan padanya tentang dunia yang saat ini kami tinggali, namun tiba-tiba terjadi sebuah glitch yang membuat seluruh dunia mimpi itu terhapus.


Rani menghilang di depan mataku, begitu juga dunia. Semuanya lenyap hanya aku yang tersisa sendirian di tengah ruangan serba putih.


“Bahkan tubuhku pun....”


Di depan mataku secara perlahan tubuhku mulai menghilang menjadi serpihan cahaya hingga menyisakan kepalaku saja melayang di tengah ruangan yang sunyi.


Sendirian... SENDIRIAN... sEnDiRiAn... sendirian...


Kepalaku dipenuhi oleh banyak suara yang berbeda tetapi mengatakan satu kata yang sama. Membuatku sangat frustasi, bagaimana aku bisa menghentikan suara-suara itu?.

__ADS_1


Ding!


Hingga suara lonceng notifikasi berbunyi, dalam sekejap kepalaku terasa kosong, suara-suara yang sebelumnya begitu menganggu lenyap begitu saja.


[Proses sinkronisasi berhasil dilakukan]


Suara sistem terdengar dari seluruh sudut ruang putih.


[Melakukan penyesuaian kedua subjek]


[5%]


[27%]


[64%]


[98%]


[Proses penyesuaian berhasil dilakukan]


[Tidak ada pertentangan antara kedua subjek]


[Status aman]


Aku mencoba memahami apa yang dikatakan oleh sistem, namun tidak ada satupun yang bisa aku mengerti.


[Bersiap memasang inti energi]


“Se.... sebenarnya apa yang terjadi, ke.... kenapa mimpi ini begitu lama?.” aku mencoba berbagi cara agar bisa terbangun dari mimpi aneh ini. Tetapi semua cara yang aku lakukan tidak membuahkan hasil.


[Proses pemasangan inti berhasil dilakukan]


“Di... diam, Aaaaaaaa!.”


[Inti sirkuit mulai mengumpulkan energi secara mandiri]


Aliran listrik terasa semakin kuat, tidak ada yang bisa aku lakukan selain terus berteriak. Rasa sakit yang aku rasakan membuktikan jika apa yang sedang aku alami bukanlah sebuah mimpi belaka.


Lalu ada dimana aku?.


Kenapa aku harus mengalami semua hal yang menyakitkan ini?.


Dimana Arang?.


Aku sangat merindukan Rani...


“Lia...”


Apakah ini nyata? Tiba-tiba saja aku mendengar suara Rani. Tidak itu memang benar-benar dia, aku bisa melihat temanku itu berdiri di depanku, meskipun penglihatanku menjadi buruk karena rasa sakit yang aku alami.

__ADS_1


“Lia sadarlah, Aurelia!.”


Suara yang terus memanggilku mulai berubah. Itu bukan lagi suara Rina, tetapi suara temanku yang lain.


Kesadaran ku tertarik, bergerak begitu cepat meninggalkan ruangan putih hingga kembali ke kenyataan.


Aku merasa seperti seorang yang terbaring begitu lama di tempat tidur. Saat melihat sekitar yang aku lihat adalah Healer di sebelah kanan dan Master Builder di kiri, keduanya tengah menatapku dengan tatapan aneh.


Master Builder mengusap janggut putihnya, sedangkan Healer memasang wajah yang begitu rumit.


[Seluruh sistem berfungsi dengan baik]


[Selamat anda telah berhasil dilahirkan kembali]


“Hah? Dilahirkan kembali apa maksudnya?.”


Tidak sempat mendapatkan jawaban, tiba-tiba Healer itu memelukku begitu erat kemudian suara tangisan terdengar darinya. Aku hanya bisa terdiam karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.


“Apa ada kesalahan pada bagian memori?.” ucap master Builder.


Healer pun segera mengangkat wajahnya dengan ekspresi lebih mengkhawatirkan dari sebelumnya.


“Lia, Apa kau masih mengingatku?.” dia begitu khawatir, air mata yang terkumpul di kelopak matanya seperti air bendungan yang akan segera meluap.


“Tentu saja, bagaimana aku bisa melupakan seseorang teman yang telah memberiku kesempatan kedua untuk hidup.” jawabku dengan senyuman terbaik yang bisa aku buat.


Arang tidak dapat menahan tangisnya, dia kembali memelukku sambil terisak. Aku berusaha menenangkannya dengan mengusap kepalanya, tetapi aku teringat jika saat ini aku tidak memiliki tangan.


“Eh, ada deng.”


Entah bagaimana sebuah tangan yang terbuat dari sekumpulan besi bergerak sesuai keinginanku, membelai rambut putih Healer itu dan berusaha menenangkannya.


Tetapi yang terjadi mungkin malah sebaliknya. Tangan yang begitu keras terbuat dari besi membuat Arang merasa kesakitan seperti dipukulin menggunakan palu besi.


Tidak ingin temanku marah, aku pun segera meminta maaf.


“Apa sekarang kau melihat ada perubahan nona?.” master Builder berkata sambil menyalakan rokoknya.


“Jika dipikirkan lagi aku memang merasakan ada sesuatu yang janggal.”


aku melihat dua tangan mekanik dan tubuh robot?


Kaki juga?.


Apa ini nyata?.


Tubuhku yang telah hancur kembali dipulihkan.


Merasakan tubuh mekanik ini membuatku merasa telah dilahirkan kembali, meskipun bukan lagi seorang manusia.

__ADS_1



__ADS_2