
Setelah memberikan pelajaran tentang bagaimana menjadi seorang Assassin pada goblin. Arang kembali ke pasukan utama untuk mulai melakukan perburuan besar-besaran.
Keadaan hutan itu begitu berbeda dari hutan normal, dipenuhi oleh hewan-hewan aneh dan tumbuhan baru yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Begitu indah namun juga menjadi sangat berbahaya.
Geaaau! Seorang Barbarian berteriak keras membuat perhatian setiap pasukan tertuju padanya. Rupanya Barbarian itu terkena gigitan ular. Dalam waktu singkat Barbarian itu tewas karena keracunan.
“Silent Black Mamba!. Sungguh merepotkan.”
Setelah mengigit korbannya, ular dengan kulit berwarna hii itu segera kabur melompat kedalam semak-semak.
Arang yang tidak akan membiarkan pembunuh prajuritnya kabur begitu saja, segera mengambil alih tubuh Archer lalu bersiap memanah.
Dia memejamkan mata, menggunakan persepsi Arang menemukan ular yang telah membunuh Barbarian tengah memanjat pohon.
Smirk. Bibirnya melengkung menunjukkan senyuman.
“Sungguh betapa sombongnya dia.”
Dengan mata masih tertutup Arang menarik panah dengan kuat kemudian mepaskan nya. Selanjutnya suara terjatuh terdengar di semak belukar.
Saat salah satu goblin memeriksa ditemukan ular hitam yang terbunuh oleh tembakan panah dari Arang. Semua prajurit yang melihat itu menatap Arang dengan takjub.
“Kau hanya bisa membuat satu kesalahan,” Arang menatap cairan berwarna ungu, itu merupakan sisa-sisa dari tubuh Barbarian yang tewas. “Karena tidak selamanya kesempatan kedua bisa kau dapatkan.”
Setelah menyimpan mayat ular hitam, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Saat menggunakan berbagai tubuh dari pasukannya, Arang merasa berbagai kelebihan dan kekurangan dari tiap jenis tentara.
Misalnya saja yang paling dasar yaitu Barbarian. Saat menggunakan tubuh mereka, Arang merasakan keahlian berpedang miliknya lebih baik, juga stamina yang meluap-luap, namun emosi tidak terkendali.
__ADS_1
Kemudian saat menggunakan Archer, Arang merasa keahlian persepsi miliknya lebih baik dari yang lain, akurasi menanam juga ikut meningkat.
Sedangkan saat mengendalikan tubuh Goblin, Arang akan mendapatkan keahlian yang tidak dapat dia miliki dari pasukan lain, yakni merasakan keberadaan harta karun.
“Hemm... sebelah sana.” Arang menunjuk suatu arah, lalu dengan cepat satu goblin berlari menuju arah itu.
Tidak lama kemudian goblin itu kembali sambil membawa bunga berwarna merah.
“Red Star Herb!,” Arang begitu senang saat melihat harta Karun yang baru dia temukan. “Terimakasih.” ucapnya pada goblin lalu memasukkan bunga itu ke kantungnya.
***
Groaar! Auman keras dari seekor beruang membuat angin berhembus kencang kearah pasukan Arang. Melihat monster yang baru dia temukan, membuat Arang merasa senang.
Goblone menatap Arang yang saat ini tengah merasuki salah satu Giant. Dia tidak percaya jika akan ada seorang yang cukup berani melawan sang Roaring Forest satu lawan satu.
Sebelumnya Goblone saat masih menjadi pemimpin goblin memang pernah menghadapi Beruang yang akan dilawan Arang. Saat itu dia memimpin 100 pasukan goblin, terapi berakhir dengan kekalahan.
Dia tidak tahu bagaimana nasibnya selanjut jika Arang tewas. Makhluk itu akan mengganti tubuhnya terus menerus hingga seluruh pasukannya habis, kemudian hanya akan datang Goblone yang akan menjadi korban.
Goblone tidak ingin mati, dia ingin menjadi seorang penguasa, Raja dari dunia ini. Karena keinginannya itulah selama beberapa hari Goblone terus dengan patuh mengikuti perintah Arang.
Itu semua dia lakukan bukan karena Patih maupun takut, tetapi Goblone berencana mempelajari semua keahlian Arang dan makhluk misterius tanpa wujud. Dia yakin jika terus belajar maka akan membuatnya menjadi lebih kuat.
“Ouuuhhh!.”
Konsentrasi Goblone yang sedang memikirkan masa depannya menjadi terganggu lantaran suara sorakan pasukan.
‘Apa, apa dua sudah dikalahkan?.’
Dengan panik Goblone kembali memperhatikan pertarungan Giant arang dengan Roaring Forest. Raksasa itu masih berdiri dengan gagah, sedangkan beruang besar terlihat begitu waspada terhadap kawannya.
__ADS_1
“Apa yang telah aku lewatkan?.” Goblone tidak mengerti kenapa beruang perkasa justru bersikap waspada terhadap makhluk raksasa.
“Padahal tubuh mereka sama-sama besar.” pikir Goblone.
Arang mulai melakukan serangan, dia berlari dengan tubuh raksasa. Setiap langkahnya membuat getaran di tanah. Melihat lawannya siap menyerang, beruang besar pun segera berlari menerjang.
Bentrokan terjadi, beruang besar berusaha mencakar dan giginya terus berusaha untuk mengigit leher Arang.
Bugh!. Sebuah pukul upercut menghantam dagu beruang, pukulan lainnya mengenai wajah beruang. Dengan tubuh raksasa itu, Arang menghajar beruang raksasa dengan membabi-buta.
“Buahahaha, bagaimana menurutmu, aku kuat bukan?.”
Arang tertawa bahagia saat menjadikan beruang besar sebagai samsak tinju. Meskipun Giant memiliki kelemahan besar yakni kecepatan berjalan yang sangat pelan, namun Giant juga memiliki kelebihannya sendiri.
Yakin kekuatan yang begitu besar.
Bledam! Tinju arang menghantam dada beruang besar. Pukulan telak itu terdengar begitu keras hingga tulang patah dapat di dengar.
Hanya dengan satu pukulan membuat beruang besar mengerti jika lawannya kali ini tidak akan bisa ia kalahkan.
Tetapi beruang tidak bisa kabur, Arang dan pasukannya sudah pasti akan memburunya. Karena tidak ada jalan untuk lari, beruang besar mengeluarkan seluruh kekuatan yang dia miliki
Blaaam! Sebuah pukulan menimbulkan hembusan angin kencang.
Dengan kekuatan luar biasa, Arang membuat tubuh beruang penuh luka lebam. Hewan mutasi itu sedang dalam kondisi sekarat terkapar di atas tanah.
***
(Bersambung)
__ADS_1