
Ketika aku sedang mencari cemilan di dalam tanah, notifikasi dimulainya tugas harian terdengar di kepalaku. Berbeda dengan notifikasi mendapatkan tiket lotere yang selalu dimulai pada jam tujuh pagi, pemberitahuan dimulainya tugas harian agak terlambat 30 menit.
Sebelumnya hanya ada empat tugas, tapi kini bertambah dua tugas tambahan setelah mendapatkan game Mining Craft dan Hungry Worm. Semua tugas yang diberikan tergolong mudah, hingga aku bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu sepuluh menit.
Namun aku cukup kecewa saat tidak ada tugas khusus yang kemarin muncul setelah aku menyelesaikan semua tugas dengan cepat. Padahal hadiah dari tugas spesial sangat menguntungkan yakni sebuah tiket lotere.
“Apa yang salah?.”
Aku memikirkan kenapa tugas spesial tidak muncul hari ini. Tetapi sebanyak apapun aku memikirkannya tidak ada jawaban yang aku dapatkan. Sehingga aku mengaggap tugas spesial adalah sebuah fenomena langka yang tidak akan muncul setiap hari.
“Baiklah, sudah saatnya.”
Aku kembali ke permukaan. Muncul di depan gerbang, para Barbarian dan Archer yang berjaga segera memberi salam saat melihatku. Dengan cepat aku meluncur menuju camp dimana Arang dan yang lainnya sedang menikmati sarapan.
Agak sulit ketik bergerak menggunakan Avatar cacing di permukaan. Selain sulit mengendalikan diri, laju gerakan juga lebih lambat, rasanya aku sudah sangat terbiasa menggali di dalam bumi dibandingkan di atas permukaan.
Sesampainya di camp, aku segera berbaur dengan pasukan. Semuanya terlihat biasa saja, tidak ada yang terganggu dengan kehadiranku, tetapi itu tidak berlaku untuk para Goblin dari pasukan Goblone. Mereka terlihat ketakutan saat aku memasuki Camp.
“Apa para Goblin memiliki alergi tehadap cacing atau semacam?.” aku bertahan tentang para Goblin pada Arang.
Sebagian jawaban, Arang hanya tertawa cekikikan.
“Itu karena insting para Goblin itu memberikan peringatan jika ada makhluk yang sangat berbahaya di dekat mereka.”
“Makhluk berbahaya? Mereka takut dengan seekor cacing?.”
Ini membuatku begitu kebingungan, kenapa para Goblin begitu takut dengan cacing. Tetapi pertanyaan itu justru membuat tawa Arang semakin kencang.
“Kau mungkin tidak merasakannya, tapi kehadiranmu menimbulkan efek penindasan yang sangat kuat. Monster lemah seperti goblin tentu akan merasa terancam dan ketakutan.” terang Arang.
“Kehadiranku begitu mengintimidasi?. Apa iya...”
Saat aku memperhatikan para Goblin yang merupakan bawahan Goblone, mereka terlihat menghindari kontak mata denganku. Meskipun aku tidak yakin jika Avatar cacing memiliki mata, tetapi para Goblin seakan sadar jika mereka sedang aku tatap.
Dari pengamatan yang aku lakukan dapat dipastikan jika memang para Goblin sangat waspada terhadapku. Para Goblin seakan sedang duduk di depan meja makan dengan seekor binatang buas disamping mereka.
Tetapi kenapa bisa demikian?.
Aku tidak merasa telah melakukan intimidasi apapun pada monster hijau itu. Saat aku bertanya pada Arang, dia berkata jika itu adalah reaksi alami yang dilakukan oleh monster tingkat rendah seperti goblin.
Mereka yang lemah seakan mengembangkan kemampuan deteksi bahaya yang lebih kuat demi keselamatan. Tetapi Arang kemudian membantah teorinya sendiri, dia berpikir bisa saja aku tanpa sadar aku menyebarkan aura intimidasi.
“Itu seperti bau badan. Orang disekitar mu akan sadar bau badanmu, namun kau sendiri tidak demikian.”
__ADS_1
Seperti biasa, penjelasan arang sulit dimengerti. Tetapi aku setidaknya memahami garis besarnya. Tetapi jika teori Arang adalah kebenaran maka aku berada dalam keadaan yang sangat menyulut.
Jika intimidasi yang aku keluarkan tanpa sadar mempengaruhi makhluk lain seperti manusia, maka ini akan sangat merepotkan. Mungkin aku tidak akan bertemu dengan Rani lagi.
“Aku berharap jika hanya goblin yang merasakan intimidasi dariku.”
\*\*\*
Ding!
\[Apa anda ingin menggunakan tiket lotere?\]
Suara sistem terdengar begitu aku ingin melakukan gacha harian. Tanpa basa-basi aku segera mengkonfirmasi pengunaan satu dari dua tiket yang aku miliki.
Roda keberuntungan mulai berputar, dengan penuh harapan aku berdoa agar hari ini mendapat hadiah yang berguna. Tetapi sepertinya keberuntungan yang aku miliki telah habis setelah kemarin mendapatkan hadiah tingkat Legenda.
Ding!.
\[Mendapatkan Game Zeus slot\]
“............”
Tidak ada yang bisa aku katakan.
Maksudku ayolah kawan pikirkan berapa berbahayanya game perjudian. Aku saja masih sangat berhati-hati dengan game RPG dengan fitur gacha, ini justru game yang seluruh isinya hanya tentang berjudi.
“Tidak, aku tidak peduli dengan hadiah yang ditawarkan oleh permainan ini.”
Tanpa sekalipun membuka game Zeus slot, aku sudah menempatkan game itu pada daftar hitam game yang tidak akan aku mainkan.
Putaran pertama membuatku kecewa, hadiah Common pertamaku lebih seperti sampah dibandingkan sebuah hadiah. Dengan penuh keraguan aku kembali menggunakan tiket lotere.
Roda keberuntungan kembali berputar, lalu...
Ding!.
\[Mendapatkan Hoverboard\]
Kali ini aku mendapatkan hadiah tingkat Epik. Itu adalah sebuah papan melayang yang digunakan oleh seorang anak nakal untuk menghindari kejaran polisi gendut dan anjingnya di rel kereta.
Meskipun hadiah yang aku dapatkan hanya pada tingkat Epik, tapi aku cukup bersemangat untuk mencoba papan Melayu itu. Apakah benar-benar bisa digunakan untuk berselancar diatas tanah seperti yang ada di dalam game.
Tetapi saat aku mengeluarkan Hoverboard dari dalam Inventory, papan itu sana sekali tidak melayang seperti yang aku bayangkan. Itu hanya sebuah papan biasa.
__ADS_1
Merasa jika telah mendapatkan hadiah sampah lainnya membuat emosiku seketika memburuk. Akibatnya tanpa aku sadari intimidasi yang aku miliki keluar tidak terkendalikan sehingga membuat semua orang bahkan Arang menjadi begitu tertekan.
Goukkk...
Para Goblin terkapar karena tidak dapat menahan tekanan intimidasi dariku.
“Lia, apa yang terjadi?.” Arang bergandengan nada suara yang kesulitan seakan menahan sesuatu.
“Ah maaf.” menyadari keadaannya aku pun segera berusaha untuk menenangkan diri.
Setelah keadaan kembali kondusif, aku pun menceritakan apa yang membuat aku begitu marah pada Arang.
“Ya ampun aku pikir apa, ternyata hanya nasib buruk seorang penjudi. Beruntung kau sadar diri tidak memainkan game Slot itu, jika tidak mungkin kau akan secara tidak sadar meruntuhkan gunung ini karena kemarahan setelah mendapatkan lost streak."
Aku yang berhasil menenangkan diri kemudian meminta maaf pada semua orang yang saat ini sedang terkapar, atau lebih tepatnya bersujud di tanah. Aku tidak mengerti kenapa mereka melakukan hal seperti itu.
“Aku sangat menyesal...” ucapku pada Goblone yang merupakan wakil dari para anak buahnya.
Aku melihat jika para Goblin banyak yang pingsan, bahkan ada yang meninggal karena terkena serangan jantung.
Aaaaaa.... Tidak ini benar-benar sebuah bencana. Aku membunuh salah satu bawahannya bawahan Arang. Meskipun aku melakukan itu tanpa sadar, tetapi fakta jika semua masalah disebabkan karena kemarahan ku masih tidak berubah.
Apa yang harus aku lakukan?.
“Lia!.”
“Haiyaaaa!.”
Aku begitu panik karena ada seekor goblin yang terbunuh karena ulahku. Hingga ketika Arang memanggilku, sontak aku berteriak kencang karena kepanikan yang aku alami.
“Ada masalah apa?.” Arang begitu heran dengan sikapku.
“Ini, ini bukan salahku...” ucapku mencoba lari dari tanggung jawab. Tatapi jelas apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang percuma.
Arang pun seketika sadar setelah melihat mayat goblin tergeletak di lantai. Aku dapat mendengar tawa kecil darinya setelah menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Selanjut arang berbicara dengan Goblone dengan bahasa goblin yang tidak aku mengerti. Kemudian Arang berkata padaku jika kematian goblin itu bukanlah masalah besar untuk Goblone.
“Um... gomenasai...” meskipun demikian aku tetap ingin meminta maaf.
“Kau bisa memberikannya hadiah sebagai permintaan maaf.” saran Arang.
\*\*\*\*
__ADS_1
(Bersambung)