System Play Store

System Play Store
93. Undangan Resmi


__ADS_3


Jangan lupa tinggalkan komentar dan kasih like setelah membaca.


***


“Mungkin kau sudah mendengarnya dari bawahanmu, tapi biar aku mengatakannya secara resmi. Desa kami akan mengadakan pesta malam nanti, kami mengharapkan kehadiran dari Ratu para Goblin untuk datang.”


Aku mengajukan undangan sebagai bentuk formalitas. Tanganku terangkat untuk memberi salam, Goblone segera mengambil salam itu dan mengatakan jika ini sebuah kehormatan untuk nya mendapatkan undangan pesta.


“Apa ada yang salah dengan wajahku?.” tanyaku saat melihat Goblone terus menatapku dengan rasa ingin tahu.


Mendengar itu Goblone segera menundukkan kepalanya lalu meminta maaf, “Maafkan hamba yang tidak sopan.”. Merasa ada yang aneh aku mencoba mendesaknya mengatakan apa yang membuatnya begitu penasaran.


Setelah aku desak, Goblone akhirnya berbicara, “Awalnya saya pikir itu karena jarak, namun setelah dilihat lebih dekat tetap saja saya tidak bisa melihat wajah yang mulia.”


“Hah?. Apa yang kau bicarakan?.”


Goblone bertanya pada goblin lainnya apakah mereka bisa melihat wajahku atau tidak, dan jawaban mereka semua sama yakni tidak ada satupun dari mereka bisa melihat wajahku.


“Padahal aku tidak menggunakan topeng atau semacamnya. Lalu kenapa mereka tidak bisa melihat wajahku?.”


Ding!


[Jawaban, Jas hujan kuning yang player gunakan memiliki fitur tersembunyi yang dapat menyamarkan wajah pengguna]


“Fitur tersembunyi?. Jika diingat-ingat ada memang ada fitur yang masih berupa tanda tanya, apa ini kemampuan fitur tersebut?.”


[Tebakan player benar, fitur tersebut memungkinkan keberadaan player mudah diketahui namun siapapun tidak akan mampu melihat wajah player saat mengenakan tudung Jaket]


Fitur yang sangat buruk untuk melakukan pergerakan sembunyi-sembunyi, tapi dengan fitur itu juga membuatku sulit dikenali. Ya, tapi jika terlalu mencolok semua orang pasti akan sadar jika Gadis dengan jas kuning adalah aku tanpa perlu melihat wajahku.


Karena tidak ingin membuat Goblone terus penasaran, aku berniat memperlihatkan wajahku padanya. Namun sebelum itu aku teringat dengan keberadaan titik merah selain tyrannosaurus.


“Apa kau memiliki masalah dengan para manusia?.” Tanyaku.


“Eh, kenapa tiba-tiba?.”


“Karena aku melihat beberapa manusia dari tadi mengawasi pertarungan mu dengan kadal itu.”


Tatapan mata Ratu Goblin seketika berubah menjadi tajam, tanpa perlu dijelaskan aku pun tahu jika dia tidak sadar selama ini telah diawasi.


“Yang mulia maaf jika hamba lancang, tapi bisakah yang mulia memberitahu dimana letak para penguntit itu?.”


“Tentu.”

__ADS_1


Dari telapak tanganku muncul sebuah hologram yang menunjukkan peta hutan raksasa yang telah aku buka. Goblone menatap dengan takjub dan memuji kecanggihan teknologi yang aku miliki.


Kemudian setelah aku menunjukkan letak dari para manusia yang masih mengawasi, Goblone dengan cepat bertindak. Goblin itu melirik beberapa bawahnya, melihat bagaimana cara mereka bertatapan membuatku berpikir jika para Goblin itu tengah berkomunikasi lewat lirikan mata.


Setelah itu secara diam-diam para Goblin mengambil Hoverboard mereka lalu bersiap menunggu aba-aba dari Goblone.


“Keluar kalian para pengecut!.”


Goblone melempar tombak Unicorn kearah puncak tebing dimana salah satu pengintip berada. Terjadi ledakan saat tombak itu menghantam dinding tebing, teriakan kesakitan sempat terdengar namun segera lenyap tertutupi suara bebatuan longsor.


Lewat peta aku melihat salah satu titik merah menghilang. Pendengaran yang dipertajam membuatku dapat mendengar suara para manusia dari dari jarak puluhan meter.


“Sial, kita ketahuan!.”


“Cepat lari kita tidak bisa melawan mereka!.”


“Padahal tadi aku bisa menembaknya.”


Setelah melihat salah satu kawan mereka terbunuh, para manusia segera memilih untuk kabur. Tetapi mereka tidak akan bisa melarikan diri, karena peta membuat aku bisa mengetahui kemana mereka akan pergi.


“Jangan sampai ada satupun yang lolos, jika ada yang melawan jangan ragu untuk membersihkannya!.” Ratu goblin memberikan instruksi pada prajuritnya.


Goblin Ryder terbang dengan kecepatan tinggi mencari para manusia seperti sedang berburu binatang. Lalu hutan raksasa menjadi agak berisik oleh teriakan meminta tolong dan suara tembakan.


Kemudian satu persatu titik merah pada peta berubah warna menjadi kuning yang menandakan jika target telah dilumpuhkan.


“Sepertinya kalian memang memiliki masalah dengan para manusia.” tanyaku. Keadaan ini membuatku cukup penasaran, kenapa para manusia mengintai Ratu Goblin.


Mendengar perkataanku, Goblone menghela nafas berat seakan memiliki banyak hal di dalam pikirannya.


“Ini dampak dari penyerangan yang dilakukan oleh pemimpin koloni sebelumnya.”


Dia bercerita jika pemimpin koloni sebelum dirinya merupakan goblin yang sesungguhnya, maksudku goblin itu memiliki sifat bar-bar yang suka menculik gadis manusia untuk dijadikan budak.


Ketika pertama kalinya koloni goblin Keluar dari goa tempat mereka berasal, pemimpin goblin langsung saja mengerahkan pasukannya untuk menyerang sebuah desa di kaki gunung. Hasilnya banyak manusia terbunuh dan para wanita diambil untuk dijadikan sebagai budak.


Mereka yang berhasil selamat dari serangan para Goblin tentu menjadi pendendam. Meskipun pemimpin goblin saat itu telah terbunuh akibat dari duel melawan Goblone, tapi tetap saja dendam manusia tidak akan lenyap begitu saja.


Mereka akan terus membenci goblin sampai kapanpun.


“Tidak, aku tidak ingin mati!.”


“Sial, seharusnya aku tidak mengambil pekerjaan ini”


Lima manusia yang dibawa oleh pasukan Goblin Ryder terus berteriak ketakutan. Mereka tidak hentinya mengucapkan hinaan, cacian hingga dengan putus asa mengharapkan keselamatan.

__ADS_1


Namun tidak semua manusia menunjukkan keputusasaan mereka. Ada satu diantara kelima manusia terlihat begitu tenang.


Goblone menatap kelima manusia yang kini berlutut didepannya dengan tangan terikat, dia pun mengajukan pertanyaan pada manusia yang masih bisa diajak bicara.


“Manusi, apa yang sedang kalian rencanakan? Bukankah sebelumnya pihak kalian telah sepakat untuk melakukan gencetan senjata?.” Goblone bertanya pada manusia yang paling tenang.


“Gencetan sengaja? Ahahaha, makhluk bodoh seperti kalian. Para Goblin sungguh naif." Manusia itu dengan jelas menunjukkan kesombongannya yang merasa lebih tinggi dari para Goblin.


"Saat itu kami setuju dengan usulan gencetan senjata hanya karena posisi kami sedang terpojok.” imbuhnya.


Manusia itu tertawa lepas seakan melihat sesuatu yang begitu lucu. Apakah dia lupa dengan posisinya saat ini dimana nyawanya berada di tangan musuhnya. Manusia itu seakan tidak takut jika Ratu Goblin marah lalu memutuskan untuk melakukan eksekusi.


“Apa yang membuatmu begitu lancang?.” tanyaku.


Mereka menatapku dengan mata dipertajam bukan karena marah tetapi karena rasa penasaran. Seperti para Goblin, manusia juga tidak bisa melihat wajahku ketika sedang mengenakan tudung.


“Kami sudah tahu letak desa goblin berada.”


"Ya, lalu?."


Aku tidak mengerti, memangnya apa yang spesial dari mengetahui letak desa goblin. Bukankah aku baru saja mengunjungi tempat itu. Tetapi sepertinya itu menang informasi yang sangat penting karena semua goblin terlihat begitu serius.


Perkataan manusia itu seketika membuat Goblone terdiam. Meskipun dia terlihat begitu tenang, tetap aku dapat merasakan kekhawatiran dan amarah pada dirinya.


“Bagaimana kalian bisa tahu!.”


Guek!


Goblone mencengkram leher manusia yang sebelumnya bersikap sangat tenang. Meskipun didepannya Ratu Goblin begitu marah hingga dapat mengancam keselamatannya, tetapi pria manusia masih tertawa seakan tidak akan ada yang perlu dia cemaskan.


“Kami bertemu dengan beberapa goblin yang memiliki tujuan untuk mengantikan mu. Setelah menjalin sebuah kesepakatan, goblin-goblin dengan kecerdasan yang lebih baik dari pada kalian akhirnya menunjukkan dimana letak desa berada.”


Mendengar jika ada penghianat diantara rakyatnya membuat Goblone sangat marah, dia melampiaskan semua kemarahan itu pada manusia yang dia anggap sangat tidak sopan.


“Aaag! Ini sangat menyakitkan, makhluk rendahan seperti kalian....” manusia terus memaki ketika pukulan menghantam tubuhnya.


“Kau, kau baru saja melakukan sebuah kesalahan.”


“Oh ya? Apa itu!.” Goblone mengangkat tangannya hendak melayangkan pukulan lainnya. Namun dia berhenti begitu mendengar perkataan manusia.


“Kami sudah mengirim pembunuhan terbaik menuju desa goblin. Dia pergi bersama para Goblin itu beberapa jam lalu, saat ini mereka pasti sudah menguasai seluruh desa!.”


Manusia itu kembali tertawa ketika melihat kebingungan dan ketakutan di wajah Goblone.


“Jika kau berani melukai kami, maka seluruh rakyatmu akan menjadi mayat. Dan itu semua adalah salahmu, ahahaha.”

__ADS_1


Sungguh suara tawa yang sangat menggangu. Mendengar bagaimana dia tertawa membuatku ingin mengunyah seluruh organ dalamnya secara perlahan.


‘Eh, kenapa aku memikirkan sesuatu yang sangat menjijikkan seperti itu?.’


__ADS_2