System Play Store

System Play Store
62. Makan dan Makan


__ADS_3

Satu persatu pasukan Giant berguguran ketika berusaha menahan gelombang api dari serangan Ratu semut. Jika dibiarkan lebih lama seluruh Giant akan musnah, setelah itu seluruh pasukan kami pun musnah dalam sekejap.


Tidak, itu tidak boleh terjadi. Kami sudah mencapai sejauh ini.


“Sergio, Keluar!.” Arang berteriak saat melempar Poket ball yang kemudian mengeluarkan serigala musim dingin.


“Dari mana datangnya nama Sergio?.” tanyaku.


“Itu dari 'Serigala dingin one'.” balas arang dengan percaya diri.


Mendengar jawaban yang begitu sederhana membuatku berpikir kenapa arang begitu senang menggabungkan dua bahasa untuk menamai semua peliharaanya.


“Karena itu keren.” balasnya singkat.


Keren dari mananya?, Yang ada mereka semua (peliharaan Arang) mengalami masalah emosional karena nama yang aneh. Tetapi setidaknya nama Sergio sedikit lebih baik dari nama yang arang berikan kepada dua peliharaan sebelumnya.


Lolongan panjang dari Sergio memanggil angin dingin yang berhembus kencang, membuat suhu di dalam ruang Ratu semut turun secara drastis. Alhasil api yang disebabkan oleh sihir Ratu semut perlahan mulai padam.


“Jelas sihir barusan bukan bekerja dengan cara mengendalikan udara di sekitar, tetapi dengan menciptakan udara dingin.”


Meskipun keadaan saat ini masih berbahaya, tetapi aku berusaha untuk tetap tenang serta mempelajari semua yang aku lihat.


Meskipun api dari Ratu semut tidak sepenuhnya hilang karena angin dingin, tetapi sekarang tidak begitu panas sehingga arang bisa mengerahkan pasukannya untuk menyerang.


Menggunakan kemampuan elemen tanah aku membuka jalan dengan membelah tanah yang terbakar. Seluruh pasukan menyerbu secara bersamaan melewati jalan yang telah aku bukan.


Ratu semut berusaha menggunakan sihir lainnya, namun tembakan panah dan bola api mengganggu Ratu semut mengaktifkan sihir.


Anak buah ratu semut tidak tinggal diam, banyak semut prajurit yang menyerang dari tembok dan langit-langit menggunakan cairan korosi, tetapi serangan-serangan itu berhasil dihalangi oleh para Giant yang dikawal oleh pasukan Healer.


“For Glory!.”


Cahaya bersinar terang dari tubuh Healer yang dirasuki Arang. Dengan cepat cahaya dari tubuhnya terkompresi pada tombak di tangan kanan, kemudian setelah semua cahaya terserap ke dalam tombak Arang pun melempar sekuat tenaga tombak tersebut ke arah Ratu semut.


Ledakan yang begitu dahsyat hingga membuat ruangan Ratu yang berada di dalam tanah bergetar hebat.


“Apa kita berhasil?.” tanyaku saat melihat tempat ratu semut itu berada ditutupi sehingga tidak dapat melihat hasil dari serangan Arang.


“Sudah aku duga,” balas Arang.


“A.... apa?.” aku semakin penasaran.


“Tiga permen loli memang tidak akan bisa setara dengan segelas susu.”


“Eh, gimana?.”

__ADS_1


Perkataan Arang semakin membuatku hingga. Hingga kilatan cahaya bersinar sesaat, namun segera aku dapat merasakan sesuatu yang sangat berbahaya.


Dalam waktu sepersekian detik sinar laser melesat menuju Arang, itu adalah sesuatu yang berbahaya, jika arang terkena serangan itu maka dia akan langsung terbunuh.


Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Berniat untuk melindungi Arang, aku segera melompat ke depan menjadikan tubuh cacing ku sebagai tembok daging.


“Apa yang kau lakukan?, Jika tubuh Healer ini mati, aku bisa merasuki tubuh dari pasukan lainnya.”


“Eh!.”


Oh, aku lupa jika Arang adalah seorang Dedemit yang memiliki kekuatan untuk memindah jiwanya ke tubuh makhluk lain, jadi secara teknis dua tidak bisa dibunuh meski tubuhnya dihancurkan.


Dan sekarang yang jadi pertanyaan kenapa aku bisa lupa tentang itu.


Lupakan itu karena saat ini aku dalam bahaya, sinar laser segera menuju ke arahku, tidak ada waktu untuk menghindari.


Lalu apa yang harus aku lakukan.....


“Aaaaaaaaaaa.”


Yang bisa aku lakukan hanya berteriak dengan mulut terbuka lebar serta dengan pasrah menunggu tubuhku terkena serangan Ratu semut.


Tetapi sesuatu yang tidak terduga terjadi, tanpa aku sadari sinar laser yang Ratu semut tembakan terhisap ke dalam mulutku.


“Apa yang baru saja...”


[Mengaktifkan keahlian (Omnivora)]


Pemberitahuan sistem seakan memberikan jawaban dari pertanyaan yang ada di kepalaku. Jika itu memang efek dari kemampuan yang aku miliki makan semuanya bisa dimengerti.


“Tetapi sampai bisa memakan cahaya, jika itu batu berlian aku bisa memahaminya, tetapi ini cahaya yang merupakan material tidak dapat di sentuh.”


Ini membuatku berpikir, apakah mungkin aku juga bisa memakan api yang sebelumnya hampir memanggang seluruh pasukan kami.


“Ini semakin menarik.”


Tatapanku tertuju pada Ratu semut yang saat ini tengah dilindungi oleh sebuah perisai sihir, arang mengatakan jika serangan terkuatnya yakni (Raise for Glory) tidak mampu menembus perisai Ratu semut.


“Sepertinya perisai sihir itu juga memiliki kemapuan (Refleksi) dimana akan mengembalikan serangan yang diberikan kepada penyerang.”


Itu menjelaskan kenapa serangan laser dari Ratu lebih mirip dengan serangan yang sebelumnya Arang lempar.


“Apa! Kekuatan curang macam apa itu!.”


Pertahanan yang kuat saja sudah sangat merepotkan, apa lagi ditambah kemampuan pembalik serangan. Ini benar-benar sebuah kecurangan.

__ADS_1


Tembok di belakang kami sudah hampir mencapai batasnya, kami tidak memiliki banyak waktu, seharusnya Ratu semut bisa kami kalahkan sebelum pasukan semut di luar berhasil merobohkan tembok yang menahan mereka.


Ini tidak lain hanyalah sebuah jalan buntu.


“Lalu bagaimana kita bisa mengalahkan monster yang bahkan tidak bisa kita lukai?.”


“Aku tidak tahu, seandainya kekuatanku tidak tersegel...”


Arang menghentikan perkataannya kemudian menggelengkan kepala, seakan dia berusaha menyingkirkan pikiran negatif di kepalanya.


“Mungkin cara satu-satunya untuk mengalahkan monster itu hanya kau Aurelia.”


“Hah? Aku? Apa aku salah dengar?.”


“Tidak, melihat bagaimana kau bisa menelan sihir yang aku buat, seharusnya kau tidak akan kesulitan untuk memakan seluruh perisai yang melindungi Ratu semut.”


Apa barusan Arang berkata jika aku bisa memakan seluruh perisai yang melindungi Ratu semut?.


Perisai yang melindungi monster sebesar rumah dua lantai Itu?.


“Apa kau sudah mulai tidak waras?.” tanyaku dengan khawatir.


“Aku serius.” jawabnya tegas.


Ya dia serius, itu terlihat jelas diwajahnya.


Tapi bagaimana aku bisa melakukan itu,....


[Tidak perlu berpikir, yang kau butuhkan hanya terus makan dan makan untuk tumbuh besar. Semakin banyak yang kau makan, maka kau akan semakin besar hingga mulutmu mampu menelan apapun]


Notifikasi memberikan pencerahan, ini menang fitur dasar dari permainan Hungry Worm, yang aku perlu lakukan hanya terus makan.


“Akan aku coba.”


Aku segera memakan bangkai Semut raksasa di dekatku, sulit memakan makanan yang rasanya seperti serangga mentah, tetapi aku harus bertahan karena ini menentukan kemenangan dari peperangan.


Semakin banyak semut raksasa yang aku makan membuatku semakin terbiasa dengan rasanya, ini sangat mengurangi beban ku, sehingga semakin banyak dan cepat Semut raksasa yang aku habiskan.


Tubuhku pun mulai mengembang, namun semua ini tidak akan cukup. Sehingga aku menerobos tembok yang selama ini menahan semua semut yang berada di luar.


Para semut raksasa terlihat senang saat akhirnya tembok yang menahan mereka untuk memasuki ruang Ratu akhirnya hancur. Tetapi kesenangan itu seketika menghilang begitu melihat mulut yang begitu mengerikan segera menyambut mereka.


Mulutku yang terbuka lebar melahap semua semut yang memenuhi lorong bawah tanah. Entah sudah berapa banyak semut yang aku telan, aku terus bergerak tanpa henti mengikuti lorong yang terasa semakin sempit karena tubuhku yang semakin tumbuh besar.


Greeeeeek!

__ADS_1


Aku berteriak keras begitu mencapai permukaan. Ribuan semut sepanjang lorong telah masuk kedalam perutku, dan tubuhku pun sudah menjadi begitu besar.


Namun rasa lapar ku justru semakin parah.


__ADS_2