System Play Store

System Play Store
68. Memanen di Ladang


__ADS_3

Begitu keluar dari kamar (ruang laboratorium) aku disambut oleh pemandangan berbeda dari yang ku ingat. Pabrik yang dulunya merupakan reruntuhan kini telah diperbaiki, tetapi tidak menjadi seperti yang sebelumnya.


Bukan lagi pabrik baja yang dipenuhi mesin dan udara panas dari tungku peleburan, melainkan sebuah rumah besar yang sangat nyaman untuk di tinggali.


Kamar yang aku tempati berada di lantai dua, aku bisa melihat lantai dasar begitu keluar dari kamar.



Di lantai pertama terdapat meja dan kursi yang terbuat dari kayu berjejer rapi, beberapa pasukan seperti Archer, Barbarian dan Goblin terlihat sedang mengobrol sambil menikmati minuman.


Aku dapat mencium aroma kuat alkohol dari gelas mereka, menandakan jika yang sedang mereka minum adalah minuman keras, lebih tepatnya minuman fermentasi buah yang dikenal sebagai Wine.


‘Sepertinya mereka juga menggunakan tempat ini sebagai kantin.’ pikirku.


Semua orang yang berada di lantai dasar segera mengalihkan perhatian padaku. Itu membuatku sedikit grogi ketika ditatap begitu banyak orang, namun aku mencoba untuk tetap tenang dengan melempar senyuman kecil.


Setelah turun melewati tangga aku segera keluar dari pabrik, em... maksudku balai kota (Town Hall) di belakang semua orang yang sebelumnya hanya menatapku dalam tanpa tiba-tiba mulai membuat keributan.


“Apa itu benar-benar yang mulia?.”


“Bodoh! dari aura keagungan yang terpancar darinya saja sudah jelas jika itu adalah yang mulia!.”


“Akhirnya setelah sekian lama, yang mulia menampakkan dirinya kembali.”


“Yang Mulia bagikan matahari, begitu bersinar penuh kekaguman.”


Pendengaran ku dengan jelas mendengar percakapan pasukan dengan berbagai ras itu. Namun aku tidak memahami siapa yang mereka sebut sebagai ‘Yang Mulia’.


“Apakah saat aku tertidur selama tiga bulan, mereka menjadi pengikut suatu aliran atau semacamnya?.”


Memikirkan itu membuatku khawatir dengan keadaan para prajurit kelas off Klan. Terlebih lagi arang bercerita padaku jika dia terlalu fokus pada penelitian terhadap kerangka robot T-X sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk mengawasi pasukan kami.


Keluar dari Balai Kota, aku dihadapkan dengan suasana yang berbeda. Ini kali kedua aku mendapatkan kejutan seperti ini, yang pertama saat melihat bagian dalam Balai Kota lalu yang kedua adalah keadaan area sekitar bekas pabrik.


Tempat itu sudah menjadi desa kecil, terdapat beberapa rumah yang dibangun dengan gaya klasik Eropa dan semuanya sama persis, seakan rumah-rumah itu adalah hasil dari data game yang disalin.


Selain perumahan yang terlihat sama, juga ada satu bangunan megah ditengah perumahan yang terlihat seperti tempat peribadatan. Melihat itu membuat aku semakin yakin jika tempat ini sudah dimasuki oleh suatu aliran keagamaan.


“Hemm, kira-kira Dewa mana yang mereka sembah.”


Meskipun penasaran tetapi aku tidak akan pergi ketempat itu sekarang. Aku ingin bertemu dengan Arang sesegera mungkin, sebelumnya kami sudah membuat janji bertemu di ladang.

__ADS_1


Perjalanan menuju ladang membuatku dapat melihat kehidupan desa kecil yang dihuni oleh village dan pasukan kelas off Klan. Mereka seperti manusia normal.


Para ‘warga’ hanya diam saja saat melihatku, itu membuatku tidak berani menyapa mereka dan memilih untuk pergi.


Setelah cukup lama melihat-lihat keadaan desa akhirnya aku sadar jika bangunan penting seperti Barak, Camp, Menara pernah dan laboratorium masih memiliki level yang sama seperti tiga bulan lalu.


Meskipun aku telah memberikan otoritas pada Arang sebagai Wakil guild yang membuatnya bisa meningkatkan level bangun. Tetapi dia tidak melakukan apapun dan menelantarkan mereka.


“Sungguh waktu yang terbang sia-sia.”


Aku membayangkan seandainya Arang mengurusi peningkatan setiap bangunan, mungkin Town Hall kami sudah mencapai level dua digit.


Tetapi aku tidak bisa menyalahkan Arang tentang hal ini. Karena berkat dia yang begitu fokus mempelajari robotika sampai menelantarkan semuanya, membuatku bisa mendapatkan tubuh baru ini.


Sesampainya di ladang aku melihat banyak Villager sedang memanen buah dan sayuran. Sepertinya seluruh tanaman yang tiga bulan lalu kami tanam telah siap dipanen.


Arang mengatakan jika seluruh tanaman di ladang sudah siap panen satu bulan lalu, tetapi tidak ada yang memanennya dan semua tanaman pun dibiarkan begitu saja.


Meskipun demikian anehnya tidak ada buah maupun sayuran yang membusuk. Arang yakin jika alasan dari keawetan hasil pertanian disebabkan oleh benih yang aku gunakan karena bukan hanya ditempat ini.


Tanaman di desa pengungsian pun memiliki keunikan yang sama dimana hasil panen tidak ada yang membusuk.


“Arang!.” aku berteriak cukup keras saat mencoba menarik perhatian salah satu Villager. Meskipun mereka semua terlihat sama tetapi aku tahu mana Villager yang tengah Arang rasuki.


“Ini aku sendiri.”


“Serius?.”


Tetapi entah kenapa dia tidak percaya padaku.


“Untuk apa aku berbohong? ini adalah diriku saat berusia 18 tahun.” jawabku sedikit kesal.


Melihatku yang mulai marah justru membuat Arang tertawa terbahak-bahak, hingga ia akhirnya meminta maaf setelah aku memilih mendiaminya.


“Oh ayolah jangan cemberut seperti itu aku hanya bercanda barusan.” katanya sembari mencolek pipiku yang menggembung.


Setelah berdamai, aku membatu arang memanen tomat. Terdapat berhektar-hektar lahan yang ditanami berbagai macam tanaman, itu membuat waktu pemanen berjalan begitu lambat.


Jika saja pasukan dari Barak bisa membantu pemanen pasti pekerjaan ini akan cepat selesai, tetapi seperti yang sudah diketahui sebelumnya jika hanya Villager yang bisa melakukan kegiatan pertanian.


“Lalu bagaimana dengan para Goblin bawahan Goblone?.” Aku bertanya pada Arang sembari mengisi penuh sebuah keranjang dengan tomat yang aku petik

__ADS_1


“Mereka saat ini tengah menjaga wilayah koloni goblin dari serangan para manusia.”


“Manusia? Apa yang terjadi?.” aku sangat terkejut mengetahui jika Goblone sedang berseteru dengan manusia. Apakah ada sesuatu yang terjadi antara para Goblin dan pengungsi?.


“Kau salah, manusia yang aku maksud adalah orang-orang dari bawah gunung. Mereka sudah mulai melakukan eksplorasi ke mari.”


Arang mengatakan jika selama tiga bulan terakhir tidak ada manusia yang memasuki wilayah gunung karena terdapat penjaga gunung yang menakutkan.


Tetapi kini mereka mulai berani memasuki wilayah gunung setelah tiga bulan tidak terlihat kemunculan makhluk itu.


“Penjaga gunung yang menakutkan?.” aku penasaran makhluk seperti apa penjaga gunung itu.


“Ya, itu adalah monster yang begitu panjang seperti ular naga. Aumanya begitu kencang dan memakan jutaan monster di darat maupun langit.”


Mendengar penjelasan Arang membuatku menjadi khawatir.


“Apakah tempat ini aman? Bagaimana jika Penjaga Gunung menyerang kita?.”


Melihat kekhawatiran ku, arang justru senyum-senyum seperti orang stres lalu kembali tertawa, mendapatkan reaksi seperti itu membuatku merasa sedang dibodohi. Aku pun kembali marah padanya.


“Ahahaha ... maaf ... maafkan aku.” dia berusaha menghentikan aku yang terus memukul bahunya karena kesal.


“Kau ketakutan pada dirimu sendiri, itu adalah sesuatu yang sangat konyol.”


“Diriku sendiri. Apa maksudmu?.”


“Apa kau sungguh tidak ingat saat kita melawan koloni semut, kau berubah menjadi cacing raksasa lalu memakan semua semut-semut itu bukan?.”


Seketika bibirku membentuk huruf O setelah mendengar penjelasan dari Arang. Itu artinya warga kota di bawah kaki gunung tidak berani memasuki wilayah gunung selama tiga bulan karena takut padaku?.


“Itu tidak sopan.”


Entah kenapa aku merasa kesal setelah mengetahui banyak orang takut padaku hanya karena melihat buku dari sampulnya.


“Ya meskipun aku sadar jika dalam wujud cacing aku sangat mengerikan, tetapi aku tetap cacing yang baik kok.”


Aku kembali marah, hingga Arang mencubit pipiku karena katanya aku yang cemberut terlihat terlalu menggemaskan untuknya.


Kami pun terus melanjutkan memanen hingga siang hari sambil terus membicarakan tentang keadaan dunia saat ini.


***

__ADS_1



__ADS_2