System Play Store

System Play Store
41. Aku butuh Madkit


__ADS_3


Saat sadarkan diri Aurelia telah di kembalikan ke lobby. Dia melihat area pabrik dengan teliti, mencari seekor gagak yang membuatnya begitu gemas.


“Tuan gagak di mana kau?.”



Tidak menemukan apa yang dia cari membuat Aurelia berpikir jika saat bermain Hungry Worm dirinya dipindahkan ke tempat yang berbeda.



Namun dengan jelas Aurelia masih ingat jika dirinya hampir diinjak oleh seorang Barbarian saat masih dalam tubuh cacingnya.



Lalu tiba-tiba...



Kwaak!



Suara gagak kembali terdengar.



“Huhuwaaa, di situ rupanya kau!.”



Aurelia menjadi begitu senang setelah menemukan gagak yang telah menelan dirinya. Dengan cepat dia memerintahkan pada semua pasukan untuk menghabisi gagak itu dengan cara apa pun.



“Musuh terlihat!.” Aurelia menunjuk gagak sebagai penyusup yang perlu disingkirkan.



“Maju-maju!.” Pasukan segera berangkat.



“Tetap bersama.” Terjadi kejar-kejaran.



“Aku butuh Madkit!.” Beberapa Barbarian terjatuh saat mencoba menyerang menggunakan pedang.



“Kerja bagus.” kekacauan berakhir begitu Archer yang berada diatas menara pemanah berhasil menjatuhkan gagak dengan panahnya.



“Mainnya hebat.” Aurelia memberikan pujian pada Archer yang telah melumpuhkan gagak.



“Muahahaha, sekarang kau yang akan mati gagal bodoh.”



Aurelia sontak mengeluarkan tawa jahatnya begitu melihat gagal yang salah satu sayapnya terluka membuatnya tidak dapat terbang. Dia merasa dendamnya akan segera terbalas.



Kwaaak!.



Gagak mengeluarkan suara kesedihan begitu melihat para Barbarian mengelilinginya dengan pedang terhunus.



Suara yang begitu menyedihkan membuat Aurelia merasa bersalah karena memerintahkan pasukannya menyakiti gagak yang tidak bersalah.



“Tidak, dia telah memakan aku.”


__ADS_1


Ingatan tentang bagaimana dia mati terus menganggu Aurelia. Dia masih ingin bagaimana rasa sakit akibat dipatuk burung raksasa, dan bagaimana asam lambung mulai melarutkannya secara perlahan.



“Benar, aku tidak akan pernah memaafkannya!.”



Kwaaak...



“Tidak berguna, meskipun kau mencoba untuk memelas, nasibmu telah ditentukan, tubuhmu akan dipanggung di atas api unggun.”



Kwaaak...



“Kuh!.”



Mendengar suara gagak yang seakan meminta belas kasihan membuat Aurelia merasa dilema. Meskipun dia telah dimakan dan membuatnya merasa pedihnya berada di dalam perut penuh dengan asam lambung.



Tetapi itu semua bukan sepenuhnya salah gagak itu. Seandainya saja dia tidak terbawa suasana, mungkin menghindari gagak itu tidaklah sulit.



Kwaak...



“Aaaa... mouh!... sialan aku akan membuat hidupmu penuh siksaan.”



Dengan penuh emosi Aurelia membeli sebuah sangkar burung dari universal store, lalu meminta para Barbarian untuk mengurung gagak Hitam kedalam sangkar.




Kwaaak?.



Seorang Villager datang untuk mengobati luka pada sayap gagak setelah itu memasukannya kembali ke dalam sangkar. Kemudian Barbarian membawa sangkar ke dalam pabrik.



\*\*\*



Setelah gagak yang menjadi tersangka atas pembunuhan cacing diamankan, Aurelia berniat untuk mencoba lagi bermain Hungry Worm.



Entah karena dia senang akhirnya bisa bergerak lagi, atau karena terasa menyenangkan saat berpetualang di dunia yang terlihat begitu berbeda saat Aurelia menjadi seekor cacing.



Apa pun alasannya Aurelia telah merubah pandangannya pada game ini. Dia bahkan menaikkan peringkat Hungry Worm lebih tinggi menjadi peringkat kedua di bawah game Kelas off Klan.



“Oke mari kita coba lagi.” Aurelia kembali membuka game Hungry Worm.



“Jangan katakan kalau aku tidak bisa memainkan game ini lagi karena kematian tadi.”



Tiba-tiba dia menjadi cemas karena takut game tidak bisa lagi dimainkan. Tetapi kekhawatiran Aurelia seketika lenyap begitu panel menu game Hungry Worm masih bisa dia buka.



Ding!

__ADS_1



\[Player telah terbunuh\]



\[Avatar cacing yang telah mati tidak bisa digunakan selama 24 jam\]



Terdengar notifikasi sistem saat Aurelia hendak memilih Avatar yang sebelumnya dia mainkan. Emosinya kembali meledak-ledak sat sadar jika tidak bisa menggunakan Avatar yang sama karena pinalti kematian.



“Menunggu hingga besok sangat lama. Sudah kuduga seharusnya gagak bodoh itu aku panggang saja.”



Aurelia menyalahkan semuanya pada gagak. Dia pun terpaksa harus mengganti Avatar, namun masalahnya Avatar baru tidaklah gratis.



“Sepertinya Avatar pertama gratis, setelahnya harus membayar. Jika tahu akan menjadi seperti ini aku pasti akan memilih cacing dengan kekuatan yang menguntungkan.”



Setiap Avatar cacing memiliki kemampuan uniknya sendiri. Sebagai contoh cacing yang digunakan Aurelia sebelumnya memiliki kemampuan berlari cepat dengan mengkonsumsi stamina.



“Hemm... cacing mana yang seharusnya aku beli?.”



Ada puluhan macam cacing dengan kemampuan yang beragam. Aurelia mencoba melihat cacing termahal yang harganya mencapai 1.000.000 gold.



“Haik...”



Melihat harga cacing termahal seketika membuat Aurelia sesak nafas.



“Bagaimana bisa seekor cacing bisa memiliki harga semahal itu!.” seru Aurelia dengan begitu marah.



Tapi dia segera menyadari alasannya. Hampir semua keahlian cacing lain dimiliki oleh cacing termahal, dan juga setiap statistik yang dimiliki cacing itu seperti stamina, kesehatan, pertahanan dan sebagainya telah mencapai tingkat maksimum.



“Ini sih namanya umpan buat para player sultan.”



Dengan alasan ‘tidak akan seru jika bermain dengan Avatar kuat diawal permainan’. Aurelia pun memilih untuk membeli cacing yang lebih murah.



Padahal alasan yang sebenarnya adalah karena dia begitu miskin.



“Eh, Author Diam!.”



\*\*\*



\[Kerja Bagus\]



\[Maju! Maju!\]



(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2