
Merawat ladang bersama Arang dan Villager di pagi hari membuatku merasa lebih baik. Seakan stress yang menumpuk karena kegiatan malam kemarin sirna begitu aku melihat perkembangan semua tanaman di ladang.
Sebelumnya aku pernah menanam tanaman cabai yang benihnya berasal dari candi busuk di dalam pot. Memerlukan waktu berbulan-bulan hingga tanaman di dalam pot tumbuh.
Namu, apa yang aku lihat saat ini sangat berbeda dari pengalaman ku yang Hani seorang amatir. Meskipun demikian tidak memerlukan keahlian khusus untuk mengetahui jika pertumbuhan tanaman di lada memang tidak normal.
Baru tiga hari setelah masa tanam, semua tanaman sudah tumbuh begitu tinggi, bahkan ada yang sudah mulai berbunga. Setelah aku perhatikan dengan seksama ternyata tidak semua tanaman tumbuh begitu cepat.
Tanaman pada lahan yang telah diberi pupuk tumbu dua kali lebih cepat dari tanaman normal. Meskipun aku tahu jika pupuk sangat baik untuk pertumbuhan tanaman, tetapi jika kecepatannya seperti ini maka samasekali tidak wajar.
Jika pupuk seperti ini tersedia untuk umum, mungkin masalah kelaparan di dunia akan teratasi. Tetapi mengingat dampak buruk yang ditimbulkan oleh pupuk kimia membuatku agak khawatir dengan kondisi ladang.
“Yah, aku tidak perlu terlalu khawatir karena tidak ada sedikitpun bahan kimia yang aku gunakan.”
Ada dua macam pupuk yang bisa aku buat saat ini yakni Basic Fertilizet yang dibuat dengan keahlian Bertani di Bulan, lalu Bone Meal dibuat menggunakan keahliannya Mining Craft.
Dan dua-duanya sama sekali tidak menggunakan bahan kimia untuk membuat pupuk. Jadi aku pikir tidak perlu khawatir tanah akan rusak jika menggunakan pupuk yang aku buat.
Meskipun demikian aku perlu tetap berhati-hati.
Setelah selesai mengurus ladang, arang dan para Villager beristirahat di sebuah gubuk yang terletak di tengah ladang. Bertepatan dengan selesainya pekerjaan di ladang, tiba-tiba pasukan Goblin yang berasal dari hutan mulai datang mendekati area pabrik.
Melihat rombongan goblin tersebut, tidak ada satupun penjaga maupun menara pertahanan yang bereaksi. Itu karena para Goblin datang tanpa ada niatan permusuhan.
Pemimpin dari kelompok Goblin itu tidak lain adalah Goblone, goblin sama yang telah menyerang pabrik, namun kini telah menjadi bawahan Arang. Aku mendengar jika dia kini telah naik pangkat menjadi kepala desa, apa itu karena bantuan dari Arang?.
“Kalau tidak salah namanya Gobulen, atau Goblone?.”
Mengetahui nama dari Goblin itu membuatku mengetahui jika Arang tidak pandai dalam memberikan nama pada orang lain. Itu membuatku merasa kasihan pada Goblin itu karena terus dipanggil dengan nama yang terdengar begitu bodoh.
“Hemm... Hah!.”
Tanpa sadar aku berteriak karena begitu terkejut melihat ada beberapa manusia diantara rombongan goblin.
Sepertinya teriakanku tadi membuat Arang terkejut, dia pun bertanya karena penasaran dengan apa yang membuat aku buatku teriakan seperti itu.
{Ada apa Lia?}
__ADS_1
“Aku melihat para Goblin membawa lima perempuan yang tangannya terikat hingga tidak mengenakan pakaian.”
{Oh, mereka sudah datang rupanya}
Arang pun menjelaskan jika para manusia yang dibawa oleh rombongan Gobulen sebenarnya adalah para manusia yang diculik.
Sepertinya pernah ada suatu kelompok yang datang berniat untuk mendaki gunung, namun nasib mereka buruk karena bertemu dengan para Goblin.
Kelima perempuan yang aku lihat adalah sisa dari kelompok tersebut. Sedangkan sisa lainya sudah pindah alam.
Pemimpin koloni Goblin sebelumnya menjadikan para perempuan sebagai budak, lalu setelah pemimpin koloni dilengserkan hingga sekarang digantikan oleh Goblone.
Para budak yang tidak menarik perhatian goblin wanita itu pun rencananya akan diserahkan pada para pengungsi di kaki gunung.
“Gugi!.”
Goblone menyapa Arang dengan bahasa yang sama sekali tidak aku pahami. Arang pun membalas sapaan bawahannya, jelas itu berarti arang bisa menggunakan bahasa goblin.
Goblone melirik ke arahku yang saat ini menggunakan Avatar cacing. Dalam sekejap wajah Goblone yang berkulit hijau tiba-tiba menjadi pucat, dengan cepat Goblone mengalihkan tatapannya kembali memperhatikan Arang.
Aku bisa melihat tubuhnya bergetar seakan baru saja melihat hantu.
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang Arang dan Goblone bicarakan. Tetapi beruntung Arang mengetahui kesulitan yang aku alami, diapun mengatakan padaku jika tadi tengah membicarakan kegiatan yang akan dilakukan hari ini.
Pertama mereka akan pergi ke tempat para pengungsi tinggal untuk menyerahkan para wanita yang telah di perbudak. Perbuatan baik tersebut dilakukan dengan maksud memperkenalkan koloni Goblin pada para manusia.
Arang tidak ingin suatu saat ada kesalahpahaman yang terjadi antara manusia dan para Goblin yang telah menjadi bawahannya.
Kemudian setelah menyerahkan para tawanan, Arang bersama pasukannya akan mulai berburu. Dia hendak menantang kembali koloni semut yang kemarin telah membuatnya terpaksa menarikan diri.
“Aku pasti akan membalas kekalahan sebelumnya berkali-kali lipat.” ucap Arang dengan penuh percaya diri.
Kemudian rencana ketiga adalah rencana yang paling penting dan menjadi misi utama mereka, yakni misi pencarian Dungeon. Ini berkaitan dengan progres penelitian robot T-X yang dilakukan tadi malam.
Penelitian yang menghabiskan waktu hingga lima jam telah berhasil memadukan tubuh Terminatrix dengan kepalaku, namun sayangnya sumber daya Sihir yang aku miliki tidak cukup untuk menghidupkan tubuh robot tersebut.
Meskipun saat ini aku sudah memiliki hampir 15 ribu energi sihir, tapi energi sihir sebanyak itu hanya bisa membuat T-X berfungsi selama 20 menit.
__ADS_1
Meskipun begitu aku merasa sangat terharu karena sekali lagi merasa menjadi manusia seutuhnya. Walaupun tidak sempurna dan begitu singkat, aku tetap sangat berterimakasih pada Arang dan Master Builder atas kerja keras mereka.
Ini adalah pencapaian besar, yang tersisa hanyalah mencari cara untuk menyediakan sumber daya untuk tubuh Terminatrix. Di dalam film, robot T-X mendapatkan energi dari reaktor plasma, apakah mereka juga hendak membuat hal seperti itu?.
Tentunya tidak, tetapi agak mirip.
Dungeon terbentuk dari endapan energi sihir yang terintegrasi oleh kegelapan. Tepatnya endapan energi sihir berubah menjadi makhluk yang dapat mengendalikan area di sekitarnya.
Makhluk itu tidak dapat berpindah dari lokasi dimana dirinya dilahirkan, dua pun tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri.
Karena itu makhluk tersebut menggunakan kemampuannya untuk melindungi dirinya dengan menciptakan Dungeon, serta menelurkan beragam monster untuk melindungi Dungeon yang merupakan rumahnya.
Makhluk itu bernama Dungeon Core.
Master Builder tidak tahu apapun tentang Dungeon Core, tapi dia sangat tertarik untuk menelitinya setelah mendengar jika Dungeon Core merupakan sebuah baterai dengan energi tanpa batas.
Arang berencana menggunakan Dungeon Core sebagai sumber energi Robot Terminatrix.
“Bisakah aku ikut?.”
Arang cukup terkejut ketika mendengar pertanyaanku. Sedangkan Goblone entah kenapa memasang wajah yang tampan khawatir.
Aku merasa senang akan menolongku ketika dia hanya diam. Hingga dia pun berkata...
“Tentu, kenapa tidak. Ini pasti akan menyenangkan mengajarimu cara untuk bertarung.” senyumnya begitu lebar saat mengatakan itu.
Melihat senyum Arang, entah kenapa aku merasa pilihanku untuk ikut bergabung dalam dalam pasukannya terasa sebagai pilih yang salah.
Ding!.
\[Mendapat 2 tiket lotere\]
Tepat di jam tujuh pagi, sistem notifikasi memberitahu jika waktunya gacha telah tiba.
Selesai berdiskusi singkat, Arang dan Goblone pergi ke camp untuk makan pagi bersama seluruh pasukannya. Sementara aku berenang di dalam perut bumi untuk mengambil beberapa cemilan.
\*\*\*
__ADS_1
(Bersambung)