System Play Store

System Play Store
33. Pupuk


__ADS_3

Para Goblin mulai sadar jika usaha balas dendam jelas hanya sekedar ide bodoh. Jika mereka berpikir untuk melakukan pemberontakan dengan mengandalkan jumlah, hasil yang akan mereka dapatkan hanya kematian pihak mereka sendiri.


“Pemimpin baru kalian saat ini sedang melakukan ujian dari Dewa untuk menjadi lebih kuat. Siapa pun untuk mengganggu akan ditangkap lalu disiksa dengan begitu menyakitkan hingga akhir dieksekusi di depan semua orang, agar menjadi pembelajaran.”


Setelah mengucapkan peringatan, Arang kembali masuk ke dalam rumah pemimpin Goblin, sementara itu pasukan Goblin segera mengelilingi rumah untuk perlindungan.


Keadaan koloni Goblin menjadi begitu hening nan mencekam hingga pagi akhirnya datang.


***


[Aurelia POV]


Saat aku terbangun, mata hari terlihat malu-malu mengintip dari ufuk timur. Pagi ini aku merasa sangat segar meskipun tubuhku sudah tidak ada lagi.


“Entah kenapa aku merasa begitu sehat, meskipun tadi malam perasaanku begitu kacau karena memikirkan tentang Rani.”


Hal pertama yang aku lakukan setelah bangun adalah mencari keberadaan Arang. Namun aku tidak menemukan lelembut itu di mana pun seperti sebelumnya.


Hingga aku mendapatkan pesan singkat dari Arang lewat telepati.


"Telepati, sungguh!. Bagaimana aku bisa melakukan ini!.""


Awalnya aku merasa senang karena berpikir bisa melakukan telepati seperti para anak-anak halu. Tetapi setelah diberitahu jika telepati itu hanya Arang yang bisa melakukannya, aku pun menjadi begitu kecewa.


Arang mengatakan jika saat ini dirinya sedang menghadirkan pesta pengangkatan Goblone menjadi Raja goblin.


Goblone? Bukankah itu nama yang Arang berikan pada Goblin yang aku tangkap menggunakan Poket Ball?.Bagaimana goblin seperti dia tiba-tiba menjadi seorang raja?. Mungkin Arang membantunya?.”


Aku terus berpikir hingga lupa jika Arang tidak mengajakku pergi ke pesta. Itu membuatku cukup marah karena iri dan ingin ikut bersenang-senang dalam pesta.


Tetapi mengingat itu adalah pesta goblin, aku pun seketika berubah pikiran.


“Mungkin menang sebaiknya jika aku tidak ikut dalam pesta tersebut.”


Karena ada yang ingin dibicarakan aku pun meminta Arang untuk tidak berlama-lama dalam pesta, setelah itu telepati pun berakhir.


“Oke, sekarang apa yang harus aku lakukan?. Melihat ladang mungkin?.”


Melihat sekitar area pabrik, aku mendapati ladang yang begitu luas sudah mulai dipenuhi oleh kecambah dari tanaman yang kemarin ditabur.


“Sangat cepat meskipun tidak ada pupuk yang kami gunakan.”


Melihat benih yang mulai berkecambah membuatku teringat dengan masa lalu, dimana aku berusaha menanam tumbuhan cabai di dalam pot. Namun hampir satu Minggu menunggu benih yang aku tanam tidak kunjung bertunas.

__ADS_1


“Ini benar-benar seperti game.”


Puluhan Villager keluar dari dalam barak untuk mulai melakukan aktifitas mereka seperti biasa. Bertepuk tangan pada objek acak seperti orang gila.


Melihat mereka seperti itu aku berusaha untuk berpikir positif, mungkin itu cara mereka berolahraga.


“Yah, dibandingkan dengan aku yang bahkan tidak memiliki tangan untuk bertepuk tangan.”


Setelah bertepuk tangan ke 2 hingga empat objek, para Villager mulai melakukan tugas mereka mengurus tanaman di ladang. Mengambil peralatan bertani dari dalam gudang pabrik lalu mulai melakukan penyiraman.


Aku juga membantu dengan penyiraman karena bisa meningkatkan level [Farming] yang merupakan salah satu fitur dari game Bertani di Bulan. Jika level keahlian Bertani milikku semakin tinggi maka akan ada fitur baru yang terbuka.


Saat ini level Bertani milikku masih di level 1, yang terbuka di level itu hanya keahlian untuk membuat pupuk.


___________________________________________


[Pupuk Dasar]


Rank: Common.


Keterangan: Pupuk yang bisa dibuat dengan mudah, bahkan petani pemula pun bisa membuatnya.


Efek: meningkatkan kualitas tanah sehingga memiliki kesempatan kecil memperoleh hasil panenan yang lebih baik.


___________________________________________


“Apa ini seperti gacha dimana jika beruntung aku bisa mendapatkan panen melimpah?. Lalu bagaimana jika nasibku sedang sial, apa tanamannya tiba-tiba mati?.”


Merasa penasaran aku pun mencoba membuat beberapa pupuk. Bahan pembuatan pupuk sangat mudah seperti ranting, daun hingga daging manusia.


Pokoknya semua bahan organik bisa dijadikan pupuk.


Terdengar agak menyeramkan jika menyebutnya daging manusia, tapi memang tertulis seperti itu pada petunjuk pembuatan yang sistem berikan.


“Anggap saja itu daging zombie.”


Beberapa mayat zombie yang Arang kumpulan, aku jadikan sebagai bahan pembuatan pupuk. Harga mayat zombie begitu murah, hanya lima tembaga permayat tanpa batu monster.


Itu adalah harga yang lebih murah dari batu seberat dua kilogram.


Satu mayat zombie menghasilkan satu pupuk. Sedangkan satu pupuk dasar bisa digunakan pada satu lahan tanaman.


Lahan aku beri pupuk sambil berharap yang terbaik, lalu mulai mengirim. Meskipun sudah dibantu oleh para Villager, tapi pekerjaan Bertani masih tetap memerlukan waktu hingga tiga puluh menit yang sebagian besar dihabiskan untuk menyiram tanaman.

__ADS_1


Bertepatan dengan selesainya pekerjaan di ladang, Rombongan pasukan Arang akhirnya pulang. Mereka datang bersama Puluhan goblin, dan saat dilihat dengan seksama aku menemukan satu Goblin yang sangat berbeda duri goblin lainnya.


Kulitnya masih hijau seperti goblin umum, namun memiliki tinggi badan seperti seorang anak manusia berusia 16 tahun. Hidung besar yang menjadi ciri khas goblin pun sudah menghilang, digantikan dengan wajah yang lebih mirip seperti manusia.


Seperti yang Arang katakan, dia menjadi lebih mirip dengan manusia. Tetapi berbeda yang paling mencolok sebelum Goblone mencapai evolusi adalah...


“Kenapa dia berubah menjadi perempuan, apa evolusi monster dapat merubah gender mereka. Atau...”


Aku baru sadar jika tidak tahu tentang bagaimana membedakan antara goblin jantan dengan betina. Baik goblin liar dan Goblin yang diciptakan di barak terlihat sana persis, sehingga aku tidak tahu apakah diantara mereka ada seorang betina.


“Atau mungkin selama ini dia memang goblin betina tapi aku tidak menyadarinya.”


Begitu sampai di pabrik, Arang segera memerintahkan para Goblin untuk memberikan semua hasil buruan tadi malam.


Begitu para Goblin memuntahkan semua isi kantong ajaib mereka, seluruh bagian dalam pabrik dipenuhi oleh mayat monster.


“Uwaaa... apa yang akan kau lakukan jika mereka punah!.” aku begitu terkejut dengan semua yang pasukan Arang dapatkan dalam satu malam.


“Jika para monster punah, bukankah itu jauh lebih baik?.” Arang balik bertanya.


“Memang benar, tapi cukup disayangkan jika hewan-hewan eksotik ini punah.”


Diantara mayat monster, aku mendapati banyak hewan aneh seperti monyet dengan empat tangan, serigala berbulu merah, kuda dengan tanduk dan masih banyak lagi.


Apa itu Unicorn?, Binatang legendaris itu?.


“Jangan khawatir, mereka tidak akan punah selama di dunia ini masih diselimuti energi sihir.”


Arang menjelaskan jika bukan hanya monster yang bermunculan setelah malam bintang api. Saat ini udara di bumi telah terkontaminasi energi sihir, membuat binatang yang menghirupnya mengalami evolusi.


Cerita Arang membuatku takut, namun dia menjelaskan jika manusia tidak akan mengalami evolusi.


Manusia awalnya hanya akan menerima sedikit efek berupa peningkatan kekuatan, tetapi semakin lama dan semakin banyak membunuh monster, manusia bisa mengalami evolusi.


“Jadi manusia hanya bisa berevolusi setelah membunuh monster?.”


“Benar.”


“Itu seperti sistem game.”


Aku heran sebenarnya siap yang bertanggung jawab dengan seluruh kekacauan ini. Merubah kehidupan manusia layaknya sebuah game.


***

__ADS_1


(Bersambung)



__ADS_2